5 Alasan Mengapa Umat Non Katolik Tidak Boleh Menerima Komuni. Kamu Perlu Tahu


5 Alasan Mengapa Umat Non Katolik Tidak Boleh Menerima Komuni. Kamu Perlu Tahu, Amorpost.com – Biasanya menjelang Komuni dalam perayaan Ekaristi, kita sering mendengar komentator mengumumkan bahwa mereka yang bukan beragama Katolik dan belum dibaptis tidak diperbolehkan menerima Komuni kudus.

Mungkin kita perlu bertanya, mengapa Gereja membuat aturan yang melarang orang non-Katolik dan yang belum dibaptis menerima Komuni? Apa masalahnya? Mengapa Gereja Katolik harus mengecualikan mereka? Bukankah seharusnya Gereja membuka diri bagi mereka yang hendak menerima Komuni?

Hosti Kudus dalam Perayaan Ekaristi (Foto : Pixabay.com)

Berikut ini adalah lima alasan penting yang perlu kamu ketahui.

1. Komuni adalah Pernyataan Iman

Gereja mengimani bahwa saat konsekrasi, roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Meskipun secara kasat mata masih tetap roti dan anggur namun, secara substansial roti dan anggur tersebut sudah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.

Hal ini merujuk pada peristiwa perjamuan malam terakhir ketika Yesus mengatakan “Inilah Tubuh-Ku…” dan “Inilah Darah-Ku…”

Jika seseorang tidak percaya bahwa Kristus benar-benar hadir dalam Ekaristi, maka ia tidak pantas untuk menerima Komuni.

2. Menunjukkan bahwa Kamu adalah Bagian dari Gereja

Ketika seorang Katolik menerima Komuni, itu menunjukkan bahwa mereka beriman Katolik dan menjadi satu kawanan dalam Gereja. Oleh karena itu, tidak masuk akal bila seorang non Katolik menerima Komuni karena dia bukan anggota resmi Gereja Katolik.

3. Berbahaya bagi Non Katolik yang Memaksakan Diri untuk Menerima Komuni

Berbahaya bagi mereka yang non Katolik jika tetap memaksakan diri untuk menerima Komuni kudus. Dalam perikop 1 Korintus 11 : 29 ditulis : “Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya”.

Oleh karena itu, seorang non Katolik yang menerima Komuni akan membahayakan kesehatan spiritual dan fisiknya sendiri.

4. Komuni adalah Salah Satu Sakramen

Dalam Gereja Katolik ada tujuh sakramen. Kebanyakan umat Katolik hanya boleh menerima enam sakramen secara berurutan. Sakramen pertama yang diterima adalah sakramen Baptis. Sakramen ini menjadi pembuka bagi sakramen yang lain.

Meskipun sudah dibaptis, seseorang Katolik tidak serta merta langsung bisa menerima Komuni saat perayaan Ekaristi. Ia harus menerima terlebih dahulu sakramen Komuni pertama. Jadi umat non Katolik tidak mungkin langsung bisa menerima Komuni tanpa melewati proses ini.

5. Dalam Keadaan Darurat

Bila dalam kasus tertentu atau dalam keadaan darurat, seorang dewasa non Katolik secara sadar ingin sekali menerima Komuni, maka dirinya harus dibaptis terlebih dahulu (secara darurat). Dan, Ia harus mengakui roti dan anggur sebagai wujud kehadiran Kristus, maka ia diperbolehkan menerima Komuni.

Inilah alasan – alasan seorang non Katolik tidak diperbolehkan menerima Komuni. Namun, jika ia tetap menginginkannya, maka tidak ada jalan lain selain dibaptis dengan tata cara Katolik.

Sumber : catholicherald.co.uk

Penulis : Edeltrudis Elu

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

64.5k shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
1
Marah
Sedih Sedih
3
Sedih
Lucu Lucu
2
Lucu
Suka Suka
110
Suka
Bahagia Bahagia
27
Bahagia
Wow Wow
14
Wow

Comments 2

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Salam Sejahtera.
    Tulisan tentang 5 Alasan Mengapa Umat Non Katolik Tidak Boleh Menerima Komuni. Kamu Perlu Tahu sangat bagus dan mendidik juga bagi (Mungkin) pengurus lingkungan untuk menjawab berbagai alasan yg kadang umat kristen tapi non Katolik yg berkeinginan menerima Hosti. Bisakah juga Admin, memberikan tulisan tentang tata ibadah yg boleh atau tidak boleh umat lakukan saat Perayaan Ekaristi. Mengapa saya meminta ini untuk dituliskan? Karena banyak umat di Paroki kami mencontohkan Imam ketika Perayaan Ekaristi berlangsung. Dengan alasan sebagai wujud penghayatan. Bila permintaan ini dipenuhi oleh admin, saya ucapkan terima kasih.