Ada Umat yang Tidak Mau Menerima Komuni dari Tangan Prodiakon. Ini Alasannya!


Ada Umat yang Tidak Mau Menerima Komuni dari Tangan Prodiakon. Ini Alasannya! Amorpost.com – Meski prodiakon sudah familiar di tengah umat Katolik, tapi tidak semua umat Katolik merasa nyaman. Ada umat Katolik tertentu yang tidak mau menerima komuni dari tangan seorang prodiakon.

Padahal, tugasnya sangat mulia yakni melayani umat Allah. Salah satunya membatu imam membagikan komuni kepada umat dalam perayaan Ekaristi.

Tapi tetap saja ada umat yang tidak nyaman kalau menerima komuni dari prodiakon. Bahkan ada yang pindah baris saat tahu bahwa yang membagikan hosti kudus adalah prodiakon.

Alasannya pun macam-macam. Salah satu yang sering terdengar adalah prodiakon adalah awam yang tak luput dari dosa. Karena itu mereka tidak merasa nyaman kalau menerima komuni dari tangan prodiakon.

Sejarah Prodiakon di Indonesia
Prodiakon (Foto: santamariakartasura.org)

Lantas, apakah imam juga tidak berdasa? Kata mereka, “Meski seorang imam juga berdosa tetapi ia diurapi khusus, dan bahkan ia menerima sakramen khusus yaitu Sakramen Imamat, untuk tugas itu. Sementara awam tidak”.

Perdebatan seputar hal ini tentu sangat panjang karena masing-masing punya alasan sendiri dan itu logis. Tapi marilah kita lihat sedikit jauh ke belakang, sejak kapan prodiakon ada dalam tugas pelayanan Gereja Katolik Indoensia.

Sejarah Prodiakon

Cikal bakal kehadiran prodiakon dalam Gereja Katolik Indonesia dimulai pada 1966 di Kuskupan Agung Semarang. Ketika itu Keuskupan Agung Semarang digembalakan oleh Kardinal Yustinus Damayuwana.

Ketika itu, Kardinal Darmayuwana melihat bahwa dibutuhkan tambahan tenaga awam untuk membantu seorang imam dalam membagikan komuni dan perayaan-perayaan sakramental lainnya.

Maka ia meminta izin ke Tahta Suci melalui Kongregasi Propaganda Fide agar dipilihlah awam yang layak dan pantas untuk membantu imam membagikan komuni dabik di dalam maupun di luar perayaan Ekaristi.

Setelah mempertimbangkan permohonan tersebut, Kongregasi Propaganda Fide memberikan izin
ad experimentum (= untuk percobaan) selama 1 (satu) tahun. Apabila dirasa perlu dan berjalan dengan baik, ijin dapat diperpanjang.

Dalam perjalanan waktu dirasakan bahwa para pembantu imam ini semakin besar peranannya, sehingga Propaganda Fide memberi izin untuk melanjutkan bentuk pelayanan ini dan hingga sekarang.

Mulanya, para awam terpilih ini disebut diakon Awam. Diakon Awam adalah awam yang menerima tugas dari Uskup, bukan expotestate ordinis atau jurisdictionis (berkat kuasa tahbisan atau hukum), melainkan berkat anugerah istimewa Gereja melalui Konggregasi Propaganda Fide.

Pada 1983, nama diakon awam digandi menjadi diakon paroki karena dirasakan bahwa istilah diakon awam kurang tepat. Masa tugas seorang diakon awam kurang lebih tiga tahun.

Kemudian, dalam rapat Konsultores Keuskupan Agung Semarang pada 5-6 Agustus 1985, istilah diakon paroki berubah menjadi prodiakon paroki. Istilah inilah yang dipakai hingga sekarang.

Kehadiran prodiakon dalam urusan pelayanan Gereja pun kian berkembang dari Keuskupan Agung Semarang ke Keuskupan Agung Jakarta hingga ke beberapa keuskupan lain di Indonesia.

Dari sejarah dan ide awalnya, tugas seorang prodiakon sangat mulia. Lalu, masihkah kamu merasa tak nyaman menerima komuni dari tangan seorang prodiakon?

Berikan komentar kamu!!!

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

177 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
1
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
1
Suka
Bahagia Bahagia
2
Bahagia
Wow Wow
1
Wow

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *