Belajar Dari Iman Perwira Kapernaum – Renungan Harian Katolik Senin 4 Desember 2017


Perwira Kapernaum
Perwira Kapernaum (Foto: wikigambar.com)

Belajar Dari Iman Perwira Kapernaum – Renungan Harian Katolik Senin 4 Desember 2017, Amorpost.com – Bacaan Matius 8: 5-11

Ada seorang perwira Romawi yang datang kepada Yesus, meminta kerelaan Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang lumpuh dan sangat menderita. Yesus pun mengabulkan permohonan perwira Romawi tersebut dan hambanya pun menjadi sembuh.

Dari dialog-dialog yang terjadi, Yesus memuji iman perwira Romawi itu dengan berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.” Apa kiranya makna yang perlu kita renungkan dalam perikop injil hari ini.

Iman perwira Romawi

Siapakah Perwira Romawi yang dipuji Yesus ini? Perwira ini adalah seorang perwira Roma yang ditugaskan untuk memimpin 100 prajurit. Perwira ini adalah kelompok centurion yang termasuk dalam kelompok tentara yang sangat penting dalam angkatan perang Roma.

Kelompok centurion adalah tulang punggung sekaligus pasukan elit tentara Roma. Ada beberapa centurion yang tercatat di dalam Perjanjian Baru, dan umumnya mereka menunjukan kualitas kepribadian yang sangat baik, karena melalui proses seleksi yang sangat ketat.

Kita dapat belajar banyak tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang Kristen dari perwira ini. Satu lagi alasan mengapa dia unik adalah dia merupakan satu-satunya pria di dalam Perjanjian Baru yang mendapat komentar, “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel”.

Pertanyaannya adalah, ada apa dengan imannya sehingga Yesus sampai mengeluarkan ucapan seperti itu? Dia memiliki iman untuk percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan pelayannya.

Nah, ada banyak orang yang telah disembuhkan, jadi terdapat banyak orang yang mempunyai iman semacam itu. Tampaknya, kepercayaannya bahwa Yesus mampu menyembuhkan pelayannya bukanlah sesuatu yang luar biasa.

Banyak orang yang membawa orang sakit kepada Yesus. Tentu saja mereka juga percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan si sakit. Jadi apa yang istimewa dari imannya?

Perwira Roma itu sangat mengasihi hambanya

Pertama, perwira Roma ini adalah seorang asing, namun hal yang luar biasa tentang dirinya adalah ia sangat peduli dengan hambanya. Budak bukanlah orang yang istimewa di zaman itu. Jika Anda punya uang maka Anda bisa membeli budak seperti membeli mobil.

Menurut keterangan dari peraturan-peraturan hukum Romawi, seorang budak dipandang sama saja dengan barang kepunyaan, jika mereka bagus, Anda boleh memeliharanya; jika tidak bagus, boleh Anda buang. Sangat jarang ada orang yang sangat peduli pada budak.

Orang memelihara budak seperti memelihara barang saja, bukan sebagai manusia. Anda merawatnya sama seperti Anda merawat benda-benda yang lainnya, seperti mobil Anda. Ada beberapa orang yang bahkan memukuli budaknya sampai mati.

Perbudakan adalah sistem yang sangat buruk di mana manusia tidak diperlakukan sebagai manusia melainkan sebagai barang. Akan tetapi kembali kita melihat bahwa perwira ini sangat menyayangi budaknya. Dari sini kita sudah melihat ada sesuatu di dalam kepribadiannya. Dia adalah orang yang sangat pengasih.

Yakin bahwa Yesus dapat menyembuhakan hambanya

Perwira ini benar-benar yakin bahwa Yesus dapat menyembuhkan hambanya. Keyakinan ini muncul dari pengalaman mendengarkan ceritera-ceritera tentang pengajaran dan kuasa Yesus dalam menyembuhkan banyak penyakit.

Tetapi terlebih ketika terjadi dialog dengan Yesus, dimana dia sangat percaya kepada firman Yesus yang dapat menyembuhkan, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

Dia juga percaya pada kuasa Yesus yang melebihi kuasanya sendiri. Menurut perwira ini, Yesus punya kuasa sangat besar dari atas, Dia dapat berkata saja maka semua akan terjadi sesuai perkataan-Nya.

Perwira ini dengan polos dan rendah hati siap melaksanakan apa saja yang diperintahkan kepadanya, seperti yang sering ia lakukan kepada bawahannya: “Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit.

Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

Dengan kata lain perwira ini mau berkata kepada Yesus bahwa, “Kewenanganmu di alam semesta ini bersifat mutlak. Engkau tinggal mengucapkan perintah, dan hal itu pasti terlaksana.”

Siapakah Yesus itu bagi Anda?

Yesus adalah obyek dari iman perwira ini. Tetapi perhatikan konsepnya tentang Yesus. Banyak orang yang memiliki konsep tentang Yesus yang berbeda dengan yang dimiliki oleh perwira ini.

Pada masa awal abad 20, Albert Schweitzer, seorang dokter yang menjadi misionaris di Afrika, menulis sebuah buku yang mengungkapkan bagaimana orang banyak memiliki pemahaman mereka sendiri-sendiri tentang Yesus.






Dia berkata, “Setiap orang membangun idenya sendiri tentang Yesus. Mereka menulis buku tentang Yesus, dan mereka membayangkan Yesus yang ideal sesuai dengan khayalan mereka sendiri.”

Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki iman yang berdasarkan khayalan kita atau yang berdasarkan Yesus yang diungkapkan oleh Alkitab. Sang perwira berhasil melihat siapa Yesus itu sebenarnya.

Tahukah Anda siapa Yesus itu? Apakah yang menjadi obyek iman Anda? Apakah Yesus yang Anda bayangkan itu adalah Yesus yang mampu menyelamatkan Anda? Atau dia sekadar Yesus yang telah Anda rekayasa untuk memenuhi selera Anda? Jika demikian, ini berarti bahwa iman Anda tidak lebih dari pemberhalaan.

Kalimat terakhir dari 1 Yohanes 5:21 adalah, “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.” Rasul Yohanes saat itu sedang berbicara kepada orang-orang Kristen.

Mungkin Anda berkata, “Orang Kristen tidak percaya pada berhala-berhala! Lalu apa gunanya dia menulis kepada orang-orang Kristen, waspadalah terhadap segala berhala?”

Hal itu ditulis karena kita bisa menciptakan berhala lewat pemikiran kita, sama seperti ketika Anda mengidolakan seseorang, bintang film misalnya. Anda sangat sayang dan tergila-gila pada bintang film yang Anda berhalakan di dalam pikiran Anda itu.

Akan tetapi apa yang Anda bayangkan itu tidak nyata. Karena orang yang Anda idolakan di dalam benak Anda itu tidaklah sama dengan yang aslinya. Itulah yang disebut dengan menyembah berhala, menyembah sesuatu yang tidak nyata.

Perhatikan apa yang dikatakan oleh perwira ini, “Aku memberi perintah kepada prajuritku dan mereka taat pada perintahku, sekalipun itu berarti kematian bagi mereka. Jika aku berkata, ‘Serbu!’ maka mereka akan menyerbu, sekalipun itu berarti mereka harus mati.”

Nyawa semua anak buahnya berada di tangannya. Dia berkuasa atas hidup dan mati setiap prajuritnya; dia bisa memerintahkan orang untuk mati.

Dapat Anda katakan bahwa kekuasaan seorang perwira atas anak buahnya dalam sebuah pertempuran adalah mutlak.

Pada dasarnya dia berada dalam posisi sebagai Tuan atas anak buahnya karena dia bisa mengirim mereka pada kematian, dan mereka segera maju dan mati. Nah, dapatkah Anda memahami perbandingan yang dibuat oleh perwira itu terhadap Yesus?

Dia berkata kepada Yesus, “Kewenanganmu di alam semesta ini bersifat mutlak. Engkau tinggal mengucapkan perintah, dan hal itu pasti terlaksana.” (LN)

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

165 shares
Gita Iman

Khusus renungan harian Gereja Katolik. Terbit setiap hari di kolom Renungan.
Untuk kritik dan saran, silakan email ke info@amorpost.com

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Wow Wow
0
Wow

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like