Belajar Investasi Rohani pada Yesus – Renungan Harian Katolik, Senin 6  November 2017


Belajar dari Yesus
Belajar dari Yesus (Foto dari Pexels)

Belajar Investasi Rohani pada Yesus – Renungan Harian Katolik, Senin 6  November 2017, Amorpost.com – Luk: 14:12-14 & Rom. : 11:29-36

Injil hari ini mengajarkan kepada kita suatu pola pikir yang berpusat pada Allah. Dari ayat 12 dan seterusnya, Yesus berkata, “Kalau engkau mengadakan pesta perjamuan, jangan mengundang orang-orang yang pasti mampu untuk membalas jamuanmu.”

Ini adalah teguran yang jauh lebih sering kita langgar ketimbang kita jalankan. Kita cenderung mengundang teman-teman, saudara, kerabat atau juga tetangga kita yang mampu, orang-orang yang ingin kita dekati demi suatu hubungan yang saling menguntungkan.

Ini adalah praktek transaksi yang sudah umum dijalankan oleh orang dunia. Kita mengundang orang dengan tujuan ingin membangun suatu hubungan yang baik dengan orang itu dan berharap dapat memperoleh manfaat dari hubungan ini.

Mungkin dengan sering-sering mengundang bos kantor, suatu hari nanti bisa saja memperoleh kenaikan gaji, atau bahkan promosi jabatan. Demikianlah juga mengundang orang-orang tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan suatu manfaat.

Kita memberi dengan berharap agar dapat menuai suatu hasil dari orang yang menerima pemberian kita. Di sini, mata kita tertuju pada urusan kehormatan ataupun keuntungan bukan kepada Tuhan.

Akan tetapi Yesus berkata, “Jika engkau mengejar hasil langsung dari dalam hidup ini dan dari orang-orang di sekitarmu, maka engkau tidak akan memperoleh upah dari Allah.”

Yesus sedang mengajarkan kita suatu pola pikir yang radikal, tidak sesuai dengan pola pikir dunia. Ajaran Yesus ini terasa sulit karena kita tidak berpikir seperti dia.

Cara kita berpikir condong kepada cara pemikiran dunia. Kita terikat dalam cara pikir dunia. Dalam benak kita, tindakan yang pantas dilakukan adalah tindakan yang memberi keuntungan bagi kita.

Jika saya mengundang seseorang, saya perlu menghitung manfaat apa yang bisa saya dapatkan dengan mengundang orang itu. Jika orang ini tidak memberi manfaat apa-apa buat saya, maka saya tidak akan mengundangnya. Beginilah cara kita berhitung, akan tetapi Yesus tidak berpikir seperti ini.

Bagaimana jalan pikiran Yesus? Ia memberitahukannya di ayat 13, “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan,” bukan sekadar acara makan bersama akan tetapi suatu perjamuan, pesta makan yang tentunya perlu biaya besar, apa yang harus Anda lakukan?

Ia berkata, “Undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu.” Ingatlah pada ucapan Yesus yang tercatat di Kisah 20:35, Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.

Cara berpikir seperti ini jelaslah bukan cara berpikir kita. Akan tetapi inilah cara berpikir yang Yesus ingin agar kita pelajari.

Di Israel kala itu, orang miskin, orang cacat, orang lumpuh dan orang buta tidak mendapat tunjangan sosial karena masalah tunjangan sosial memang belum terpikirkan oleh pemerintah pada jaman itu. Jadi di tengah-tengah masyarakat jaman itu ada cukup banyak orang miskin yang terlantar.

Mereka umumnya adalah orang-orang cacat yang tidak dapat bekerja, dan dengan demikian tidak memiliki penghasilan. Mereka biasanya bergantung pada sedekah untuk bisa bertahan hidup.

Dan Yesus, pada zaman itu, berkata, “Undanglah orang-orang miskin.” Mengapa? Karena mereka tidak akan mampu untuk balas menjamu Anda!

Lalu apa keuntungan buat saya dengan mengundang para gelandangan yang tidak akan mampu membalas jamuan saya? Seharusnya yang saya undang adalah mereka yang mampu untuk balik menjamu saya. Begitulah, cara Allah berpikir bertentangan dengan cara manusia berpikir.

Sebagai contoh, jika ada orang yang memperlakukan Anda dengan tidak ramah, Anda langsung merasa tersinggung. Tenang saja. Seharusnya Anda bersyukur dari pada tersinggung karena jika Anda mendapat perlakuan yang sewenang-wenang, ingatlah perkataan Yesus, Allah akan berpihak kepada Anda.

Ia adalah Allah yang adil. Ia akan membersihkan nama Anda. Apakah ada yang lebih baik daripada Allah berada di pihak Anda? Jadi silakan saja, orang ingin memperlakukan Anda dengan sewenang-wenang? Orang lain ingin menginjak kaki Anda?

Itulah bukti bahwa Allah berpihak kepada Anda. Akan tetapi bagaimana kenyataannya? Orang Kristen masih belum juga mempelajari cara berpikir seperti ini. Setiap kali mendapat perlakuan yang tidak adil, kita menjadi sakit hati, sangat tersinggung. “Mereka tidak adil! Allah juga tidak adil!

Mengapa Allah membiarkan hal ini terjadi pada saya?” Justru sebenarnya pada saat itu Ia sedang bersiap-siap untuk mencurahkan kasih karuniaNya kepada Anda. Dapatkah Anda memahami hal itu? Susah sekali berpikir seperti itu.

Alkitab adalah pernyataan tentang jalan pikiran Allah, bukan jalan pikiran manusia. Manusia tidak akan mampu menyusun buku seperti ini. Untuk dapat memahaminya saja tidak bisa, apa lagi menyusunnya. Jangankan untuk menyainginya, berusaha memahami pengajaran Yesus saja kita tidak mampu.

Fakta ini merupakan bukti bahwa seluruh yang diajarkan oleh Yesus itu berasal dari Allah. Cara Allah berpikir memang sangat berbeda. Kita tidak mampu menggapainya karena cara berpikir ini memang sangat revolusioner. Pusat perhatiannya adalah Allah.

Lain kali jika ada orang di kantor atau di sekolah berbuat yang sewenang-wenang terhadap Anda, bersyukurlah kepada Allah karena Anda tahu bahwa itu berarti Allah berpihak kepada Anda. Anda mendapat perlakuan yang sewenang-wenang, itu adalah buktinya.

Jangan ngotot berusaha menyeimbangkan keadaan. Jika Anda melakukan hal itu, maka Anda akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keberpihakan dari Allah bagi Anda. Jika ada orang yang menampar pipi Anda, lalu Anda membalasnya dengan tamparan juga, maka sumber pembelaan itu adalah diri Anda sendiri.

Akan tetapi jika ada orang menampar pipi Anda dan Anda tidak membalasnya, maka ia berhutang satu perkara kepada Anda dan Allah akan berpihak kepada Anda. Jika Anda tidak menyakini hal itu, Anda tentu akan bertanya, “Tidak adil! Mengapa saya harus diam berdiri dan ditampar?”

Tentu saja Anda akan bertanya-tanya seperti itu, karena Anda tidak peduli pada Allah. Jika hati Anda terpusat pada Allah, maka Anda akan berkata, “Haleluyah! Ini pipi yang satu lagi. Kalau ditampar juga, berarti dia berhutang dua perkara.

Allah akan semakin berpihak padaku. Kalau dia terus menampari saya, maka Allah akan terus berpihak padaku!” Wah, sulit sekali berpikir seperti itu, karena cara berpikir seperti ini selalu menempatkan Allah sebagai pusat perhatian kita, bukankah begitu?

Perbuatan baik yang bertujuan untuk memuji dan memuliakan Allah adalah perbuatan-perbuatan baik yang tidak mengharapkan balasan. Dan jika karena perbuatan baik itu kita harus dihukum, dihina, bahkan disakiti, maka di situlah Allah ingin berkarya, Allah ingin menyalurkan rahmat dan kebaikannya kepada kita.

Karena Allah sendirilah yang akan membalasnya ketika kita mengakhiri hidup di dunia ini. Sebaliknya perbuatan baik yang langsung mendapatkan manfaat atau balasan tidaklah akan dibalas Yesus karena telah dipuji atau telah mendapat balasannya di dunia.

Mari kita selalu berdoa dan berusaha untuk berbauat kebaikan yang tidak mendapatkan balasan langsung dari manusia supaya Tuhan memperhitungkannya di kemudian hari.

Baca juga : Ilmu Padi, Semakin Berisi Semakin Merunduk-Renungan Harian Katolik 4 November 2017

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

86 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
2
Bahagia
Wow Wow
0
Wow

Comments 1

Your email address will not be published. Required fields are marked *