Bishop Barron Roma : Katolik sejalan nilai Amerika

Uskup berbaju ungu berdiri di altar gereja dengan buku doa

Pada 30 September 2026, sebuah pidato mengejutkan banyak orang di Roma. Uskup Robert Barron dari Winona-Rochester, Minnesota, berdiri di hadirin di Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Takhta Suci dan menyampaikan argumen yang tegas : Gereja Katolik dan Amerika Serikat bukan dua dunia yang saling bertolak belakang. Acara bertajuk “America at 250” itu digelar untuk memperingati 250 tahun berdirinya Amerika, dan pernyataan Barron langsung memancing perhatian luas.

Kehadiran Duta Besar Brian Burch di sisi podium bukan sekadar seremonial. Burch menegaskan kepada EWTN News bahwa momen ini luar biasa : Amerika kini punya seorang paus kelahiran AS pertama, Paus Leo XIV, plus presiden dan kabinet yang didominasi umat Katolik. “Eksperimen Amerika sendiri punya banyak kesamaan dengan ajaran sosial Gereja,” kata Burch. Ini bukan retorika kosong, melainkan konteks historis yang nyata.

Hak asasi manusia : titik temu teologi dan konstitusi

Barron tidak sekadar memuji Amerika secara umum. Ia menggali akar filosofis founding fathers dan menolak penyederhanaan bahwa mereka hanya terinspirasi filsafat sekuler modern. Menurutnya, sumber inspirasi para pendiri bangsa jauh lebih beragam dari yang sering diklaim kubu sekuler.

Di sinilah ia mengutip Santo Yohanes Paulus II sebagai referensi kunci. Saat kunjungan pertamanya ke Amerika pada 1979, Paus Yohanes Paulus II memuji komitmen Amerika terhadap hak asasi manusia, namun dengan perspektif yang berbeda dari mainstream. Barron menjelaskan : “Alih-alih memdasarkan hak pada keinginan individu, Yohanes Paulus II mendasarkannya pada martabat manusia.” Perbedaan ini bukan soal semantik. Ini soal fondasi moral yang berbeda secara fundamental dari pendekatan Hobbesian yang menempatkan hak sebagai produk kontrak sosial belaka.

Perspektif Dasar hak asasi Tokoh rujukan
Filsafat Hobbesian Keinginan individu dan kontrak sosial Thomas Hobbes
Teologi Katolik Martabat manusia yang inheren Paus Yohanes Paulus II

Barron menyatakan dengan lantang bahwa ia berdiri sebagai “seorang Amerika yang bangga sekaligus uskup Gereja Katolik yang bangga.” Baginya, ketegangan antara kedua identitas itu bukan sesuatu yang fundamental. Dua setengah abad hubungan bergelombang antara Gereja dan Amerika memang nyata, tapi tidak mengubah keselarasan nilai di dasarnya.

Peran Barron di luar mimbar : kebebasan beragama sebagai misi nyata

Yang menarik, keterlibatan Barron tidak berhenti pada pidato. Ia baru saja bergabung dengan Komisi AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, sebuah lembaga yang dibentuk oleh Kongres jauh sebelum era Trump. Tugasnya jelas :

  1. Memantau pelanggaran kebebasan beragama di seluruh dunia
  2. Melaporkan temuan kepada pemerintah AS
  3. Mendorong kebijakan luar negeri yang melindungi hak beragama

Barron sendiri mengakui ironisnya : rapat perdana komisi itu ia ikuti via Zoom, justru karena ia sedang berada di Roma. Sehari setelahnya, pada 1 Oktober 2026, ia mentahbiskan 18 diakon untuk Pontifical North American College di Basilika Santo Petrus. Simbolisme ini kuat : seorang uskup Amerika, di jantung Vatikan, menjalankan misi gerejawi sambil mengabdi pada lembaga demokrasi konstitusional.

Bagi siapa pun yang selama ini menganggap iman Katolik dan semangat Amerika sebagai dua rel yang tidak pernah bertemu, argumen Barron layak dibaca ulang dengan serius. Bukan karena ia tanpa kritik terhadap sejarah hubungan keduanya, tapi justru karena ia mengakui ketegangan itu sambil tetap meyakini keselarasan yang lebih dalam di bawah permukaannya.

Bishop Barron Roma : Katolik sejalan nilai Amerika

Rian Pratama
Scroll to Top