Cerdas Sebagai Bendahara Yesus – Renungan Harian Katolik, Jumat 10 November 2017


Renungan Harian Katolik
Ilustrasi (Foto dari Pexels)

Cerdas Sebagai Bendahara Yesus – Renungan Harian Katolik, Jumat 10 November 2017, Amorpost.com – Bacaan: Lukas 16: 1-8

Hari ini Yesus menceritakan kepada kita tentang bendahara yang karena ketidakjujurannya terancam dipecat oleh tuannya. Berhadapan dengan situasi demikian, ia berpikir bagaimana supaya dia nanti tidak mengalami kesulitan setelah dipecat.

Ia pun mulai memanipulasi surat hutang bagi para penghutang untuk memberi kesan bahwa ia adalah orang baik dan murah hati. Tindakannya ini mendapat pujian dari tuannya, walau ia jalankan dengan licik. Apa kiranya yang mau disampaikan Tuhan Yesus lewat ceritera ini?

Pesan Yesus kiranya dapat kita petik dari terjemahan kata Stewardship. Kata Stewardship dapat diterjemahkan menjadi ‘pengelolaan/pengurusan. Dan kata kerja ‘menjadi bendahara/bekerja sebagai bendahara (to be a steward)’ muncul sekali di Perjanjian Baru dan itu terdapat di dalam perumpamaan ini (Luk. 16:2).

Dengan demikian kita dapat segera melihat bahwa seluruh isi perumpamaan ini berbicara tentang hal pengelolaan, hal menjadi seorang pengurus. Sebagai orang Kristen kita juga diangkat oleh Yesus untuk menjadi pengurus atau bendahara rohani.

Semua orang Kristen itu merupakan para pengurus yang bekerja bagi kerajaan Allah. Setiap kita yang telah dipermandikan sudah dibeli, seperti yang disampaikan oleh Rasul Paulus, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1 Korintus 6:20).

Hal terpenting yang perlu disadari sebagai seorang Kristen adalah bahwa sekarang kita menjadi milik Yesus; kita tidak menjadi penguasa atau bos atas diri kita lagi.

Mengapa begitu? Karena kita sudah dibeli dengan darah Yesus. Jika uang sangat berharga, maka darah tentunya jauh lebih berharga lagi.

Darah adalah kehidupan. Dengan kata lain, ketika Alkitab berkata, “Ia telah membelimu dengan darahnya,” itu berarti bahwa Yesus telah membeli Anda, saya dan kita dengan mengorbankan hidupnya. Ia harus mengorbankan nyawanya untuk menjadikan kita sebagai miliknya.

Menjadi seorang Kristen bukan sekadar masalah bahwa tadinya kita tidak pernah ke gereja tetapi sejak sekarang rajin masuk gereja. Bukan sekadar perkara tadinya kita tidak pernah baca Kitab suci tetapi sekarang mulai membacanya.

Bukan sekadar urusan bahwa tadinya kita tidak percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia dan telah mati bagi dosa-dosa manusia, dan sekarang kita mempercayainya. Tidak, menjadi Kristen berarti bahwa Anda, saya dan kita sekarang ini adalah milik Yesus.

Konsekuensi lanjut dari pada hidup sebagai milik Yesus adalah bahwa kita tidak lagi menjalani hidup ini demi diri kita sendiri. Maknanya adalah terjadinya suatu perubahan mendasar di dalam tujuan dan arah hidup kita. Jika sebelumnya yang kita kejar adalah tujuan hidup kita, maka sekarang yang kita kejar adalah penggenapan kehendak Tuhan.

Mungkin kita bertanya lagi, “Lalu apa artinya bahwa sekarang ini saya adalah milik Allah dan saya hidup untuk Dia?” Itu berarti bahwa mulai sekarang, apapun yang kita lakukan, apakah di dalam hal pekerjaan atau pelajaran, Anda menjalankan semua itu atas dorongan niat untuk memuliakan nama Allah.

Itu sebabnya mengapa Paulus berkata kepada jemaat di Korintus, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Kor. 10:31).

Jika kita sedang menuntut ilmu, maka kita melakukan itu demi kemuliaan-Nya. kita memikirkan tentang bagaimana cara memanfaatkan ilmu pengetahuan yang kita dapat itu bagi Dia. Seluruh hidup kita sekarang terpusat kepada Dia.

Sebagai seorang Kristen, kita bertanggung-jawab atas cara kita menjalani hidup ini. Sama seperti seorang pengurus, kita harus memberi pertanggung-jawaban kepada Allah.

Inilah poin utama di dalam perumpamaan ini. Anda dan saya akan menghadap takhta penghakiman Allah dan Ia akan bertanya, “Apa yang telah engkau kerjakan dengan hidup yang telah Kuberikan padamu?”

Dalam hal ini, setiap orang harus bertanggung-jawab kepada Allah karena sekalipun kita bukan orang Kristen, dari manakah asalnya hidup yang kita miliki sekarang?

Allah adalah Pencipta segala kehidupan, baik kehidupan jasmani mau pun rohani. Jika kita menikmati kehidupan jasmani, kita harus mempertanggung-jawabkan hal-hal yang telah kita kerjakan dengan kehidupan jasmani kita.

Dan orang Kristen memiliki tanggung-jawab ganda. Ia tidak sekadar harus mempertanggung-jawabkan kehidupan jasmaninya tetapi juga kehidupan rohaninya, hidup kekal yang telah diberikan Allah kepadanya.

Jadi, hidup sebagai seorang Kristen justru bermakna bahwa kita menerima tanggung-jawab yang lebih besar, tetapi hal itu juga memberi kita satu hak istimewa yang lebih besar. Jika lebih banyak yang diberikan kepada kita, kita mempunyai penghargaan yang lebih tinggi, tetapi tanggungjawab yang menyertainya juga lebih besar.

Kita adalah bendahara Kristus yang dipercayakan untuk mengelola keuangan rohani yang telah dianugerahkan kepada kita sebagai umat beriman. Kita perlu cerdas mengelola keuangan rohani yang diberikan Yesus kepada kita, hingga menghasilkan buah berlimpah.

Jika demikian maka kita pun akan mengalami apa yang dikatakan Mat. 25:21, “baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setiap dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (LN)

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Doa Bapa “Kami” dan bukan Bapa “Ku” di dalam Surga. Orang Katolik Harus Tahu!

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

110 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
2
Suka
Bahagia Bahagia
1
Bahagia
Wow Wow
0
Wow

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *