Di tempat kelahiran Kristen, gereja dan komunitas diserang oleh pemukim Yahudi

Di tempat kelahiran Kristen, gereja dan komunitas diserang oleh pemukim Yahudi

Insiden kekerasan terhadap komunitas Kristen di Tepi Barat terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pemukim Yahudi radikal semakin agresif melancarkan serangan terhadap warga Palestina, termasuk gereja dan komunitas Kristen yang telah lama mendiami tanah suci.

Eskalasi kekerasan pemukim di tanah kelahiran agama Kristen

Tanah suci Palestina, yang dikenal sebagai tempat kelahiran agama Kristen, menghadapi tantangan berat. Serangan terhadap gereja dan komunitas Kristen oleh pemukim Yahudi radikal telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan pada tahun 2025 ini. Menurut laporan PBB, lebih dari 700 insiden kekerasan pemukim terhadap warga Palestina telah tercatat hanya dalam enam bulan pertama tahun ini, melonjak drastis dari 216 serangan selama seluruh tahun 2023.

Di kota Taybeh, tempat Gereja St. George Al Khidr berdiri, video yang diambil oleh saksi mata menunjukkan pemukim muda Yahudi menggiring ternak mereka ke pusat kota, merusak pohon zaitun komersial milik penduduk lokal. Taktik ini, menurut kelompok hak asasi manusia, merupakan strategi terencana untuk merusak pertanian Palestina dan memicu konflik yang kemudian dijadikan dalih untuk kekerasan lebih lanjut.

Meskipun serangan di dekat gereja relatif kecil dan tidak menimbulkan korban jiwa, pola ini mencerminkan tren yang lebih luas dari kekerasan sistematis yang jarang ditindak oleh otoritas Israel. Pemerintah Israel sebelumnya menyatakan bahwa tindakan kekerasan oleh warga sipil tidak dapat diterima, namun implementasi hukum terhadap pelaku tetap minim.

Tragedi kemanusiaan dan impunitas hukum

Kasus kematian warga Amerika keturunan Palestina, Sayfollah Musallet (20 tahun), menjadi sorotan internasional. Pemuda Florida ini tewas dipukuli oleh pemukim Yahudi saat mengunjungi keluarganya di desa Sinjil. Dalam insiden yang sama, Mohammed al-Shalabi (23 tahun) juga tewas, menurut Kementerian Luar Negeri Palestina.

Yesh Din, organisasi hak asasi manusia Israel, melaporkan bahwa lebih dari 93% investigasi kekerasan pemukim antara 2005 dan 2023 ditutup tanpa dakwaan dan hanya 3% yang berakhir dengan vonis. Data ini menunjukkan tingkat impunitas yang mengkhawatirkan. Berikut pola serangan yang umumnya terjadi:

  • Penyerangan fisik terhadap warga Palestina
  • Penghancuran properti dan lahan pertanian
  • Intimidasi untuk mengusir komunitas lokal
  • Pengrusakan tempat ibadah dan situs bersejarah
  • Penggunaan ternak untuk merusak tanaman

Kelompok pemukim radikal yang dikenal sebagai “Hilltop Youth” telah ditetapkan sebagai “kelompok ekstremis kekerasan” oleh Departemen Keuangan AS pada Oktober lalu. Mereka dituduh melakukan pembunuhan, pembakaran, penyerangan, dan intimidasi dengan tujuan mengusir komunitas Palestina dari Tepi Barat.

Tahun Jumlah Serangan Tercatat Tindak Lanjut Hukum
2023 216 Minimal
2025 (6 bulan pertama) 700+ Hampir tidak ada

Di tempat kelahiran Kristen, gereja dan komunitas diserang oleh pemukim Yahudi

Strategi terkoordinasi di balik kekerasan

Pengamat Palestina menyatakan bahwa “Hilltop Youth” hanyalah kaki tangan dari upaya terkoordinasi dan canggih untuk menetap di Tepi Barat dengan cara yang membuat pembentukan negara Palestina menjadi mustahil. Nadav Weiman, direktur eksekutif “Breaking the Silence,” organisasi Israel yang melaporkan penyalahgunaan oleh layanan keamanan Israel, mengatakan, “Sejak pemerintahan ini dibentuk, Anda memiliki menteri yang berkata, ‘Jangan terapkan hukum pada pemukim.'”

Menurut kelompok hak asasi manusia seperti Amnesty International, Peace Now, B’Tselem, dan Kerem Navot, strategi pemukim memiliki dua tujuan utama: merusak pertanian Palestina dan memicu konflik dengan penduduk untuk menciptakan dalih kekerasan. Kedua tujuan ini dimaksudkan untuk mengusir orang Palestina dari tanah mereka.

Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee—seorang Kristen evangelis dan pendukung lama hak pemukim untuk menjajah tanah Palestina—secara mengejutkan mengecam pembunuhan Musallet, menyebutnya sebagai “tindakan kriminal dan teroris” yang harus “diselidiki secara agresif” oleh Israel.

Agung
Scroll to Top