Hidup yang Berpusat kepada Allah – Renungan Harian Katolik, Selasa 7 November 2017


Hidup yang berpusat pada Allah – Renungan Harian Katolik, Selasa 7 November 2017, Amorpost.com  – Bacaan Luk 14: 15-24

Dalam injil hari ini Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah sebagai sebuah jamuan makan khusus, yang diadakan Allah bagi orang-orang Israel. Sebelumnya Allah telah mengutus para nabi untuk memanggil Israel kembali kepada jalan yang benar, tetapi mereka menolak ajakan Allah dengan berbagai macam alasan.

Mereka tidak mau mengikuti perayaan keselamatan yang diselenggarakan Allah sendiri. Allah kecewa dan marah, Allah heran mengapa orang-orang terpilih itu menolak undangannya?

Mengapa mereka menomorsatukan kepentingan mereka sendiri seperti urusan pribadi, urusan keluarga dan urusan pekerjaan!

Hidup yang berpusat keapda Allah
Hidup yang berpusat keapda Allah (Foto: Pixabay.com)

Karena kekecewaan itu maka Allah yang adalah tuan pesta itu menyuruh utausannya untuk mengundang orang berdosa, orang cacat, orang-orang lumpuh, orang-orang miskin dan orang-orang buta untuk masuk kedalam perjamuannya.

Bukan hanya itu, tuan pesta itu juga menyuruh utusannya untuk memanggil semua orang yang ditemukan di jalan untuk masuk ke dalam perjamuannya.

Prinsipnya tempat yang telah disediakan harus penuh. Perumpamaan di atas mengajarkan kita beberapa hal penting untuk pertumbuhan kehidupan beriman kita.

Pertama: bahaya mental orang terpilih. Orang-orang terpilih atau orang-orang yang merasa diri berhak biasanya memiliki motivasi perjuangan yang rendah, karena mereka merasa telah memiliki tiket otomatis.

Mereka merasa bahwa berbuat baik atau jahat, hidup baik atau tidak tetap mereka akan masuk ke dalam kerajaan surga. Tidaklah demikian yang kita pelajari dalam injil hari ini.

Bahwa anugerah sebagai orang terpilih saja belum cukup. Kita harus terus menerus memelihara semangat untuk mencari terus menerus kebenaran Allah, kita harus meminta terus-menerus, mengetuk berulang kali supaya pintu dibukakan.

Menjadi Kristen berarti kita memperolah kasih karunia lewat penderitaan salib. Yesus masih terus menerus memanggil kita lewat firmannya.

Kedua: Allah harus merupakan pusat kehidupan kita. Sebagai orang kristen kita patut menjaga komunio dengan Allah dan saudara seiman, sama seperti orang-orang yang duduk semeja dan makan bersama.

Di atas meja makan Allah memberikan rahmat kebaikan-Nya, yaitu: anugerah keselamatan, untuk dinikmati bersama. Kita tidak boleh mendahulukan kebutuhan dan kepentingan sendiri lebih dari pada saudara-saudara seiman.

Di dalam persekutuan makan semeja dengan Allah tiap orang kristen berbagi sukacita bersama saudaranya seiman, supaya ada keselamatan.

Ketiga: sebagai orang Kristen, kita juga dipanggil untuk mengalami sukacita Allah, sekaligus diutus untuk membawa berkat Allah kepada semua orang di muka bumi.

Sesudah makan-minum bersama, Tuhan Yesus mengutus kita untuk memberitakan Injil pembebasan kepada siapapun yang masih dikuasai dosa dan bergumul dalam kondisi sengsara.

Marilah kita terus mengobarkan semangat untuk tetap hidup dalam sukacita Allah dan menjadikan Allah sebagai pusat hidup kita sehingga kita dapat membawa berkat Allah bagi sesama yang membutuhkan keselamatan.

Kita berjuang sambil terus merenungkan nasihat St. Paulus dalam bacaan pertama: “janganlah hendaknya keranjinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Rom12:111) dan bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.” (Rom12:12). (LN)

Baca juga: Belajar Investasi Rohani pada Yesus – Renungan Harian Katolik, Senin 6 November 2017

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

132 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
2
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Wow Wow
0
Wow

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *