Inilah Resep Sukses Seorang Murid Yesus – Renungan Harian Katolik Rabu 8 November 2017


Inilah Resep Sukses Seorang Murid Yesus – Renungan Harian Katolik Rabu 8 November 2017, Amorpost.com – Bacaan : Lukas 14:25-33

Injil hari ini mewartakan kepada kita bagaimana hidup sebagai murid Yesus yang sejati. Dalam setiap perjalanan-Nya, Yesus selalu ditemani oleh begitu banyak orang.

Banyak orang berduyun-duyun mengikuti Dia dalam setiap perjalanan. Dari beribu-ribu orang yang mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem, Yesus tahu apa yang ada dalam pikaran mereka, siapa yang benar-benar mau mengikuti Yesus dan siapa yang ikut-ikutan.

Yesus tidak mencari kerumunan orang yang tidak jelas motivasi dan komitmentnya tapi Yesus mencari murid-murid yang sungguh-sungguh mau mengikuti Dia. Maka ia berpaling dan menyampaikan resep hidup ini kepada semua pengikut-Nya.

1. Membenci ibu-bapak, istri dan anak-anak (26)

Renungan harian Katolik (Foto: Pixabay.com)

Yesus berkata : “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, dan anak-anaknya, saudaranya-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (ay.26).

Dalam ayat 26 ini Yesus mengemukakan syarat yang pertama untuk menjadi murid Yesus adalah mengasihi Yesus lebih utama dari pada ikatan hubungan keluarga dan bahkan nyawa sendiri. Kasih kepada Yesus harus nomor satu dari apapun juga.

Ikatan hubungan keluarga, mulai dari bapa dan ibu kandung, kemudian istri (apalagi pacar atau teman), terus anak-anaknya, bahkan saudara-saudaranya laki-laki/perempuan, bahkan sampai nyawanya sendiri harus dinomor duakan dibandingkan kasih kepada Yesus.

Kata membenci (MISEO=HATE) disini tidak bisa diartikan Yesus mengajarkan kebencian kepada keluarga. Jelas sekali Yesus mengajarkan kita supaya menghormati orangtua kita (perintah ke-5 Kel 20, Mat 15:4), tapi kata ini adalah gaya bahasa Ibrani, yang dimaksudkan untuk ungkapan pembanding, preferensi, bisa diartikan love less.

Jadi bukan kebencian yang agresif kepada anggota keluarga tapi adalah soal prioritas, perbandingan kepada siapa kita lebih loyal.

2. Memikul salib

Memikul salib sendiri (Foto: Pixabay)

Syarat yang kedua adalah rela menderita dan terus menerus mengikuti Yesus (ay.27). Orang-orang yang berduyun-duyun mengikuti Yesus itu mungkin berharap bahwa Yesus akan berkata: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan menjadi murid-Ku, dia akan mendapatkan kekayaan, kehormatan, dan berkat yang berkelimpahan; dia akan kujadikan orang hebat”.

Tapi justru Yesus mengucapkan: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan menjadi murid-Ku ia harus memikul salibnya dan terus-menerus ikut Aku dalam keadaan apapun”.

Apakah maksud dari memikul salib? Salib pada jaman Tuhan Yesus pada abad pertama bukan seperti yang kita lihat sekarang ini, bukan sebagai asesoris yg manis dikalungkan dileher, atau symbol gedung gereja.

Salib pada jaman Tuhan Yesus dikenal sebagai alat dari kayu kasar untuk menghukum mati para penjahat di bawah pemerintahan Romawi.

Penjahat yang dihukum dengan alat kayu palang itu harus memikul salibnya sendiri sampai tempat penyaliban, diikat pada pergelangan tangan dan kakinya, kemudian dipaku pada tangan dan kakinya, dan dibiarkan mati perlahan-lahan.

Jadi pada saat Yesus mengatakan “pikullah salib”, kepada orang-orang yg mengikuti-Nya, mereka memiliki gambaran seperti ini, gambaran penderitaan salib yg mengerikan dan mematikan.

Dalam Lukas 9 :22-26 Yesus lebih terperinci mengatakan bahwa menjadi pengikut Yesus berarti menyangkal diri, memikul salibnya sendiri setiap hari.

Memikul salib disini bukanlah hal mneghadapi masalah-masalah sehari-sehari seperti tidak cocok dgn mertua, atau tidak bisa bayar hutang.

Arti memikul salib adalah seperti apa yang dikatakan Paulus yaitu: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yg hidup, melainkan Kristus yg hidup di dalam aku” (Gal 2: 19-20). Jadi secara rohani

Salib Kristus merupakan lambang penderitaan (1 Petrus 2:21; 4:13), kematian (Kisah Para Rasul 10:39), kehinaan (Ibrani 12:2), cemoohan (Matius 27:39), serta penyangkalan diri (Matius 16:24), Yesus rela mengalami semuanya itu, disalibkan, mati, dikuburkan, dan bangkit untuk menebus dosa-dosa kita.

Maka setiap orang yang memikul salibnya sendiri karena Yesus pastilah akan mengalami hal yang sama seperti Sang Guru, Yesus Kristus. Itulah ciri murid Kristus yg sejati, sama seperti gurunya.

3. Melepaskan diri dari segala miliknya (33)

Melepaskan diri dari segala miliknya (Foto: Pixabay)

Yesus bertemu dengan orang-orang yg mau mengikut Dia tapi setengah hati, tidak total memberikan seluruh hidupnya kepada Yesus, hati mereka belum bisa mengucapkan selamat tinggal kepada harta miliknya, apakah itu keluarga, (Luk 9: 59-61), dan harta benda (Mat 19: 21-22).

Akibat dari sikap diatas maka ia tidak hanya tidak bisa menjadi murid-Nya yg sejati tapi juga digambarkan seperti garam yg kehilangan asinnya, menjadi tawar, tidak ada lagi gunanya menurut fungsinya, akhirnya dibuang orang.

Orang –orang Kristen yg kompromi dengan selera dunia ini akan kehilangan penagaruh rohaninya bagi dunia yg sedang berdosa, gagal menjadi murid Yesus yg sepenuh hati, akhirnya tidak berguna bagi Kerajaan Allah, bagi Injil, dan gereja.

4. Komitmen: Punya perhitungan dan perencanaan matang

Berkomitmen (Foto: Pixabay)

Menjadi murid Yesus, diumpamakan seperti seorang yg mau mendirikan sebuah menara ia harus duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Menjadi murid Yesus diumpamakan juga seperti raja yg mau pergi berperang melawan raja lain, harus duduk dahulu untuk mempertimbangkan secara matang, tidak hanya emosi tapi juga dengan pikiran yg matang dan sepenuh hati.

Maksud kedua analogi itu adalah bahwa orang harus mempertimbangkan secara matang terlebih dahulu sebelum memutuskan mengikuti Yesus, sebelum menjadi orang Kristen, tidak hanya sekedar emosi sesaat, coba-coba, ikut-ikutan, karena ongkos menjadi murid Yesus bisa saja hubungan keluarga terputus, pekerjaan hilang, kerugian materi, meninggalkan dosa-dosa, bahkan kehilangan nyawa.

Semua orang Kristen adalah juga murid Yesus. Kita semua adalah murid Yesus yang dipanggil sesuai dengan bakat dan profesi kita.

Dalam perjuangan hidup setiap hari, kita berusaha untuk memenuhi keempat resep di atas, karena keempat resep di atas merupakan juga ciri karakter seorang Kristen sejati. Seorang Kristen sejati harus menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupannya.

Untuk itu kita harus mampu melepaskan diri dari kelekatan emosional keluarga, melepaskan diri dari kelekatan materi, komit, dan berani memikul salib.

Jika demikian maka kita boleh berharap untuk memperoleh upah sesuai janji Yesus ini: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. (Mrk.: 10: 29-30). (LN)

Baca juga: Ini Doa Singkat yang Diucapkan Paus Fransiskus Sebelum Tidur. Kamu Bisa Mencoba Doa Indah ini!

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

232 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
3
Suka
Bahagia Bahagia
1
Bahagia
Wow Wow
1
Wow

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *