Lihatlah Anak Domba Allah – Renungan Harian Katolik 3 Januari 2018


Anak Domba Allah
Foto: JW.org

Lihatlah Anak Domba Allah – Renungan Harian Katolik 3 Januari 2018, Amorpost.com – Bacaan: Yohanes 1:29-34

Dalam Injil hari ini Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada publik untuk pertama kalinya. Yohanes Pembaptis memperkenal Yesus dengan dua atribut, yakni sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, dan Ia inilah Anak Allah. Mari kita membahas kedua atribut ini sehingga dapat kita pahami dengan lebih jelas.

Yohanes berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”

Diceriterakan dalam injil Yohanes bahwa Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus dengan berkata: “”Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”

Predikat yang diberikan Yohanes Pembaptis ini ditunjang oleh kesaksiannya yang mengatakan bahwa Dialah yang dimaksud Yohanes Pembaptis ketika berkata: kemudian dari padaku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.

Mengapa Yohanes menyebut Yesus Kristus dengan sebutan “Anak domba Allah”? Selain mengingatkan kita kepada makna penghiburan, anak domba juga adalah simbol dari kemurnian, tanpa cacat. Anak domba merujuk kepada keadaan Yesus Kristus yang tanpa cacat, murni, menjadi Juru Selamat yang kudus bagi umat-Nya yang cemar.

Lihatlah Anak domba Allah! Inilah seruan keselamatan yang begitu agung. Lihatlah kepada Dia yang mengambil dosamu demi memurnikanmu. Dia datang untuk menyelamatkan umat-Nya di dalam dunia. Dia datang untuk menghapus dosa dunia.

Kemurnian-Nya, kekudusan-Nya, keadaan-Nya yang tanpa cacat membuat Dia menjadi satu-satunya yang sanggup menjadi penebus bagi dunia ini.

Pertanyaan refleksi untuk kita: apakah kita telah melihat Anak Domba Allah itu? Apakah kita sudah merasakan peran Anak Domba Allah dalam hidup kita? mari renungkan hal ini….

“Ia inilah Anak Allah.”

Yohanes Pembatis berkata: Dia Inilah Anak Allah. Apa yang dimaksud dengan anak Allah? Yesus itu Anak Allah dalam konteks, Ia sebagai Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14). Yesus itu Anak Allah dalam konteks, Ia dikandung oleh Roh Kudus.

Lukas 1:35 mengatakan, “Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Di zaman itu, kata ”anak manusia” digunakan untuk merujuk seorang manusia. Jadi, “anak manusia” adalah manusia.

Pada waktu Ia dihakimi para pemimpin Yahudi, Imam Agung memerintahkan Yesus, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak” (Matius 26:63). “Engkau telah mengatakannya,” Yesus menjawabnya.

“Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit” (Matius 26:64). Para pemimpin Yahudi merespon dengan menuduh bahwa Yesus telah menghujat Allah (Matius 26:65-66).

Kemudian, di hadapan Pontius Pilatus, “Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: ‘Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah'” (Yohanes 19:7). Mengapa mengklaim sebagai Anak Allah dianggap penghujatan dan layak dihukum mati?

Para pemimpin Yahudi itu mengerti apa yang dimaksud Yesus dengan ungkapan “Anak Allah.” Menjadi Anak Allah adalah sama dengan berkhodrat sama dengan Allah.

Klaim yang menyamai khodrat Allah – adalah sama dengan menjadi Allah – dan merupakan penghujatan bagi para pemimpin Yahudi; sehingga mereka menuntut kematian Yesus, sesuai dengan Imamat 24:15. Ibrani 1:3 mengungkapkan hal ini secara jelas, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.”

Yesus adalah anak Allah, apakah kita sudah mengalami peran ke-Allahan Yesus dalam hidup kita? Jika belum, maka kita perlu bertanya diri, sudah sekuat apa iman kita kepada Yesus?

Kita juga perlu memulihkan status sebagai anak Allah dengan bertobat dan melakukan perbuatan-perbuatan cinta kasih. Hanya dengan demikian maka kita akan turut merasakan dan mengalami kehidupan sebagai anak Allah dalam keseharian kita.

Yohanes Pembaptis mengajak kita untuk turut memperkenalkan Yesus, pertama, kepada diri kita lebih dahulu sebelum memperkenalkan Dia kepada publik. Artinya Yohanes mengajak kita untuk sungguh-sungguh mengimani Yesus dalam diri kita, sehingga kita pun mampu memperkenalkan Yesus kepada orang lain dengan lebih meyakinkan.

Baca juga: Baca dan Hayati Doa Paus Benediktus XVI di Malam Tahun Baru

Mari kita membina hidup kita seperti Yehanes Pembaptis, yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk membuka jalan bagi Yesus, memperkenalkan Yesus kepada umat Israel, lalu menarik diri dan membiarkan Yesus semakin besar dalam hati umat yang percaya kepada-Nya.(LN)

Aplikasi Android Amorpos

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

128 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
2
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Wow Wow
0
Wow

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like