Sebuah jajak pendapat terbaru yang dirilis awal bulan ini mengungkapkan pandangan mengejutkan dari pemilih Katolik Amerika Serikat terkait kebijakan imigrasi kontroversial Presiden Donald Trump. Survei yang dilakukan oleh EWTN News bersama RealClear Opinion Research pada November 2025 melibatkan seribu responden yang mengidentifikasi diri sebagai Katolik, menunjukkan dukungan signifikan terhadap program deportasi massal meskipun para uskup Katolik telah menyatakan keprihatinan mendalam.
Temuan ini menggarisbawahi perbedaan mencolok antara posisi resmi hierarki gereja dengan pandangan umat di lapangan. Sementara Konferensi Uskup Katolik Amerika Serikat secara tegas menentang deportasi massal yang tidak diskriminatif, mayoritas umat justru menunjukkan sikap berbeda yang lebih mendukung penegakan hukum imigrasi ketat.
Angka dukungan yang melampaui popularitas Trump
Data menunjukkan bahwa sekitar 54 persen pemilih Katolik mendukung penahanan dan deportasi imigran ilegal dalam skala besar. Dukungan ini bahkan melampaui tingkat persetujuan terhadap Trump secara keseluruhan yang berada di angka 52 persen. Hanya 30 persen responden yang menentang kebijakan tersebut, sementara 17 persen menyatakan netral terhadap program deportasi.
Perbedaan demografis memberikan gambaran lebih nuansa tentang perpecahan dalam komunitas Katolik. Pemilih Katolik kulit putih menunjukkan dukungan tertinggi dengan 60 persen mendukung deportasi dan hanya 26 persen menentangnya. Sebaliknya, Katolik Latino hampir terbagi rata dengan 41 persen mendukung dan 39 persen menolak kebijakan tersebut.
| Kategori pemilih | Mendukung deportasi | Menentang deportasi |
|---|---|---|
| Katolik kulit putih | 60% | 26% |
| Katolik Latino | 41% | 39% |
| Misa rutin mingguan | 58% | 23% |
| Misa tidak rutin | 50% | 36% |
Kehadiran di Misa juga berkorelasi dengan tingkat dukungan. Mereka yang menghadiri Misa setidaknya sekali seminggu menunjukkan 58 persen dukungan terhadap deportasi, dibandingkan 50 persen di kalangan yang jarang beribadah. Mayoritas diam umat Katolik AS dukung upaya penegakan imigrasi Trump, sebuah fenomena yang mengindikasikan kompleksitas pandangan keagamaan terhadap isu politik kontemporer.
Ketegangan dengan kepemimpinan gereja
Konflik antara kepemimpinan gereja dan umat awam semakin jelas ketika bulan lalu Konferensi Uskup Katolik AS mengeluarkan pernyataan bersama yang disetujui lebih dari 95 persen uskup yang hadir. Pernyataan tersebut menentang deportasi massal tanpa pandang bulu, posisi yang kemudian diperkuat oleh Paus Leo XIV yang mendorong masyarakat Amerika untuk mendengarkan para uskup mereka.
Chad Pecknold, profesor teologi di Universitas Katolik Amerika, berpendapat angka-angka ini sejalan dengan dukungan publik secara umum terhadap deportasi. Menurutnya, para uskup beroperasi dengan asumsi liberalisme yang sudah ketinggalan zaman dan perlu meninjau kembali pernyataan mereka tentang keamanan nasional dan kebaikan bersama.
Namun Julia Young, sejarawan dari universitas yang sama, menawarkan perspektif berbeda. Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan Gereja Katolik selama beberapa dekade terakhir sebagian besar disebabkan oleh imigrasi, membuat keprihatinan uskup terhadap populasi imigran masuk akal karena mereka adalah umat mereka.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa negara-negara sejahtera memiliki kewajiban menyambut orang asing sesuai kemampuan mereka, namun juga menyatakan bahwa otoritas politik dapat membuat kondisi yuridis tertentu demi kebaikan bersama. Ajaran ini menciptakan ruang interpretasi yang telah menjadi sumber perdebatan teologis dan politik dalam komunitas Katolik Amerika saat ini.
- Mengapa umat Kristen mengabaikan ajaran Alkitab tentang imigran dan pendatang - 9 Januari 2026
- Richard Moth diangkat sebagai uskup agung Katolik Roma Westminster - 21 Desember 2025
- Buku mengharukan tentang dosa yang menyentuh hati dan membawa pencerahan spiritual - 20 Desember 2025




