Natal, Antara yang Profan dan Religius (Pengalaman Merayakan Natal di Pedalaman Amazon)


(Foto: Pater Yanto Naben SVD)

Natal, Antara yang Profan dan Religius (Pengalaman Merayakan Natal di Pedalaman Amazon), Amorpost.com – Natal di Maloca adalah Natal di sebuh dusun yang sunyi dan terpencil. Ada kenangan tentang Natal yang sederhana tanpa semarak natal. Yang terpenting adalah menyadari kehadiran Sang Emanuel, Deus-conosco, Tuhan yang dekat dan akrab.

Saya pun meninggalkan Maloca untuk mengunjungi dua stasi berikutnya. Hujan gerimis kecil ketika kami meninggalkan Maloca. Mario melajukan voadeiranya dengan tenang. Roger juga diam di bangku belakang. Saya pun begitu. Menikmati perjalanan dalam cuaca gerimis dan dingin.

Sebelum pukul delapan pagi, kami sudah tiba di rumahnya Roger. Saya mandi dan mempersiapkan diri. Bersama tiga keponakan Roger, kami menuju kapela stasi Boa Fé. Letak rumah Roger agak jauh dari kapela. Kurang lebih 10 menit pakai rabeta.

Ketika kami tiba, hanya ada sepasang suami istri yang duduk di depan kapela menunggu kami. Roger membuka pintu kapela. Si ibu berinisiatif menyapu lantai kapela. Si bapak langsung memukul lonceng gereja. Umat pun berdatangan. Tidak banyak juga yang datang.

Tak lama kemudian, kami mulai merayakan ekaristi. Seperti di Maloca, saya putuskan untuk merayakan liturgi malam natal. Meskipun hari itu adalah Minggu pagi, minggu keempat Adven. Biarlah mereka merasakan liturgi natal dalam kesederhanaan mereka.

Berbeda dengan di Maloca, kali ini ada seorang ibu yang mengangkat lagu. Yang lain ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan. Ada juga yang memainkan triangel dan gendang. Suasana misa pun menjadi meriah, meskipun yang hadir tidak lebih dari 20 orang. Ini juga adalah natal mereka yang pertama bersama seorang pastor. Saya pun bahagia bisa merayakan natal bersama mereka.

Dari Boa Fé, saya melanjutkan perjalanan ke stasi São Pedro dos Cardoso. Roger mengantar saya dengan rabeta-nya. Kurang lebih setengah jam kami menyisir sungai Manicoré untuk tiba di stasi ini. Tidak banyak keluarga yang tinggal di sini. Kurang lebih hanya ada 10 kepala keluarga.

Saya diantar menuju rumah Geraldo, ketua stasi São Pedro dos Cardoso. Ia mengatakan bahwa mereka tengah melakukan renovasi kapela. Memperluas kapela dan mengganti atap serta pintu dan jendela. Saya dengarkan saja penjelasan dia. Hanya saja muncul pertanyaan kemudian. Jumlah umat sudah tidak seberapa, kenapa harus memperluas kapela lagi?

Karena sementara direnovasi, kami pun merayakan ekaristi malam natal di aula komunitas. Sebelum misa, saya sudah diajak untuk makan malam. Saya ikut saja. Setelah makan malam saya pun mempersiapkan ekaristi. Meja altar sudah disiapkan. Ada lilin dan patung pelindung stasi, São Pedro. Tidak ada salib. Tidak apalah, yang penting mereka mau merayakan ekaristi Malam natal.

Tersesat di Tengah Rawa-Rawa Brasil Demi Injil
Tersesat di Tengah Rawa-Rawa Brasil Demi Injil (Foto: P. Yanto Naben SVD)

Satu per satu umat berdatangan. Saya harus mencari orang untuk membawakan bacaan pertama dan mazmur tanggapan. Dua orang anak muda mengiyakan. Lalu, muncul soal yang sama seperti di Maloca. Tidak ada yang bisa mengangkat lagu. Kata Geraldo, yang biasa menyanyi waktu misa atau ibadat sedang tidak berada di tempat. Dia pergi mengunjungi dan merayakan natal bersama ibu kandungnya.

“Siapa lagi yang bisa mengangkat lagu?” tanyaku pada mereka yang ada di situ.

Diam. Tidak ada yang menjawab.

“Kalau begitu, kita rayakan misa malam natal tanpa lagu,” kataku.

Juga tidak ada reaksi soal keputusan saya itu. Saya pun memulai perayaan ekaristi. Kami berdoa bersama. Mendengarkan sabda Tuhan. Lalu saya membawakan renungan singkat.

Tibalah saatnya komuni kudus. Saya ke depan meja altar untuk membagikan komuni kudus. Seorang ibu tua mendekat dan menyambut komuni kudus. Tidak ada lagi yang mengikuti ibu tua itu. Saya menyapukan pandangan ke sekeliling lagi. Tidak ada yang mau menyambut Tubuh Kristus.

Muncul pertanyaan baru di dalam diri saya. Mengapa mereka tidak mau menyambut komuni kudus padahal sebagian besar dari mereka adalah orang dewasa yang kemungkinan besasr sudah membuat komuni pertama? Saya kira itu bukan saat yang tepat untuk bertanya langsung kepada mereka untuk hal yang mungkin sangat pribadi itu.

Menyambut komuni kudus adalah perihal kesiapan batin dan kepantasan diri. Banyak dari antara mereka yang mempunyai halangan untuk menyambut komuni kudus. Sejauh pengalaman saya, yang paling umum adalah hidup bersama tanpa ikatan nikah.

Kasus seperti ini banyak sekali ditemukan. Barangkali hanya sedikit yang tidak merasa pantas dan tidak punya persiapan yang cukup untuk menyambut komuni kudus. Sisanya adalah anak-anak yang belum komuni pertama. Yang terakhir ini juga satu persoalan serius karena di stasi itu tidak ada katekis yang mempersiapkan anak-anak untuk komuni pertama. Barangkali hingga dewasa mereka belum juga membuat komuni pertama.

Saya pun mengakhiri perayaan ekaristi dengan berkat penutup. Kami sudah merayakan natal bersama. Dan sekali lagi natalku ini tanpa terdengar lagu Malam Kudus, lagu wajibnya Natal.

Kami bersalaman. Saling mengucapkan salam damai natal. Lalu, ngobrol sebentar. Dan satu per satu meninggalkan aula itu. Saya pun kembali ke tempat penginapan.

Kurang lebih sepuluh menit setelah perayaan ekaristi itu, saya mendengar bunyi musik yang keras dari aula tempat perayaan ekaristi itu. Rupanya ada acara natal bersama. Mereka melanjutkan tradisi “Ceia de Natal” atau perjamuan Malam Natal.

Biasanya ada acara makan bersama dan menunggu tengah malam untuk saling mengucapkan selamat Natal. Beberapa anak muda mulai berdansa. Sebagian mulai minum bir dan anggur. Ada juga churrasco atau daging bakar. Ada daging sapi, ayam dan babi. Hanya sebentar saja saya ikut pesta mereka.

Saya memilih untuk beristirahat karena esoknya saya harus melanjutkan safári natal saya ke stasi yang lain. Apalagi saya terserang pilek akibat terkena gerimis pagi harinya.

Itulah pesta natal mereka. Natal yang profan. Dan ini lebih meriah ketimbang natal yang religius saat misa tadi yang tanpa lagu-lagu Natal.

Baca juga: Natalku yang Tanpa Semarak Natal (Pengalaman Merayakan Natal di Pedalaman Amazon, Brasil)

Entah yang religus atau pun yang profan, yang pasti, Yesus pun telah lahir di tengah mereka. Dia-lah Sang Emanuel yang menyertai perjalanan mereka.

Aplikasi Android Amorpos

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

13 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Wow Wow
0
Wow

Comments 1

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like