Natalku yang Tanpa Semarak Natal (Pengalaman Merayakan Natal di Pedalaman Amazon, Brasil)


(Foto: Pater Yanto Naben SVD)

Natalku yang Tanpa Semarak Natal (Pengalaman Merayakan Natal di Pedalaman Amazon, Brasil), Amorpost.com – Maloca, itu nama komunitas atau stasi yang saya kunjungi di penghujung tahun ini. Ini adalah stasi terakhir dari ke-46 stasi dari paroki tempat saya bekerja yang saya kunjungi. Letaknya di pedalaman Amazon, di distrik Manicoré, Amazonas, Brasil. Tepatnya di daerah aliran sungai Manicoré.

Boleh dibilang tempat ini sangat terpencil. Butuh lebih dari sepuluh atau sebelas jam untuk tiba di tempat ini dengan menggunakan perahu penumpang. Itu karena kondisi sungai yang berkelok-kelok dan kecepatan perahu penumpang yang kira-kira tidak lebih dari 30 km/jam.

Juga sering kali perahu harus berhenti untuk menurunkan atau menaikkan penumpang ataupun barang-barang muatan. Tapi jarang sekali perahu penumpang mampir ke stasi ini. Orang-orang setempat harus menggunakan rabeta (sampan bermotor) atau voadeira (perahu motor berkapasitas mesin lebih besar dengan body perahu dari aluminium) punya sendiri.

Sejak tiba Februari lalu belum sekali pun saya mengunjungi stasi ini. Kunjungan ini juga adalah kunjungan pastoral yang kedua. Maret lalu, rekan misionaris saya, Padre Norberto Foester, berkunjung dan merayakan ekaristi saat umat di stasi itu merayakan pesta pelindung stasi, São Sebastião. Itu berarti sudah sekitar delapan bulan mereka tidak mendapat kunjungan pastoral, tidak merayakan ekaristi atau mungkin juga ibadat bersama.

Sabtu sebelum natal, saya pun berangkat menuju Maloca. Perahu penumpang yang saya tumpangi hanya akan sampai di stasi Boa Fé. Butuh perahu lain untuk mengantar saya sampai Maloca. Beruntung, ada yang sudah menunggu saya dengan voadeira untuk mengantar saya hingga tujuan.

Hujan deras mengiringi perjalanan saya sejak keluar dari pastoran. Perahu yang biasanya menarik sauh jam 8 pagi, kali ini molor hingga hampir jam 9 baru bisa berangkat. Sudah pasti saya akan telat tiba di Boa Fé.

Saya beruntung tiba lebih awal di perahu dan bisa menambatkan hammock atau ayunan saya. Beberapa penumpang terpaksa duduk di tumpukan barang atau beberapa kursi lepas yang ada atau bahkan berdiri saja. Saya menikmati perjalanan dalam diam ditemani musik dari handphone saya. Satu per satu penumpang turun. Hingga akhirnya tinggal saya sendirian.

Sudah pukul tiga sore lewat. Perahu belum juga tiba di Boa Fé. Masih butuh satu atau dua jam lagi perjalanan. Tiba-tiba salah satu anak buah perahu membangunkan saya. Katanya, yang mau membawa saya ke Maloca sudah datang dengan voadeiranya. Saya lihat di samping perahu penumpang itu ada satu voadeira yang merapat. Segera saya mengenal pengemudinya, Mario. Dia memberikan sinyal untuk pindah ke voadeiranya. Saya pun bergegas membereskan hammock, membayar perahu dan berpindah ke voadeira Mario lalu kami melanjutkan perjalanan ke Maloca.

“Saya sudah menunggu lama di Boa Fé. Perahu belum juga tiba. Maka saya putusukan untuk menjemput Padre langsung di perahu. Kalau tidak, kita bisa kemalaman tiba di Maloca,” kata Mario setelah saya menyalaminya.

Voadeira Mario punya kapasitas mesin 40 HP (Horse Power). Punya kecepatan lumayan. Saya bisa memperkirakan lajunya bisa mencapai 50an km/jam atau bahkan lebih. Maka dalam hitungan belasan menit, kami sudah mencapai stasi Boa Fé. Mario mampir di rumah seorang umat dan mengajak dia bersama kami menuju Maloca. Roger namanya. Dia adalah ketua stasi Boa Fé.

Kami tidak banyak bicara sepanjang perjalanan. Raungan mesin voadeira terdengar keras mengalahkan kicauan burung-burung yang bercanda selepas hujan panjang hari itu. Rupanya hujan juga di wilayah itu sedari pagi hingga selepas makan siang. Saya pun menikmati pemandangan yang tersaji sepanjang perjalanan.

Sesudah sekian waktu berlaju kencang, Mario melambatkan laju voadeiranya. Dari kejauhan saya sudah melihat salib besar yang biasa terpancang di depan kapela. Mario memandangku dan memberi tanda bahwa kami sudah tiba. Dia menepikan voadeiranya. Tiba-tiba terdengar bunyi letusan petasan. Bukan hanya sekali. Rupanya itu adalah tanda yang memberitahukan bahwa kami sudah tiba.

Ivo, ketua stasi Maloca, datang menyambut kami di tepi sungai. Ia langsung mengantar kami ke rumah tempat kami menginap nantinya. Beristirahat sejenak, ia menyuguhkan air minum.

“Padre baru pertama kali ke sini?” tanya Ivo. Saya mengangguk.

Kata Ivo, hanya ada dua keluarga yang tinggal di dekat kapela. Beberapa keluarga lain yang tidak lebih dari delapan kepala keluarga tinggal agak jauh dari kapela. “Komunitas ini juga adalah komunitas orang Indian. Kami dari suku Moura. Tapi tidak banyak orang yang tinggal di sini. Banyak memilih tinggal di tempat lain,” kata Ivo menjelaskan. Dia pun mengajak saya mengenal kapela stasi Maloca.

Ada keramaian kecil di lapangan bola di samping kapela. Beberapa orang muda tengah bermain bola. Jumlah mereka tidak banyak. Tidak cukup untuk jadi dua kesebelasan. Maka pertandingan mereka hanyalah adu penalti. Meskipun demikian, ada canda tawa dan kegembiraan juga teriakan yang menonton kalau ada yang berhasil bikin gol, gol yang melenceng atau penjaga gawang yang berhasil mematahkan penalti lawan.

Saya menemui beberapa orang yang ada di pinggir lapangan itu. Di antaranya ada Dona Maria dan Tereza menantunya. Saya menyalami mereka berdua. Dona Maria tersenyum senang karena saya sudah tiba. Dia pun meminta saya memberkati air yang dia bawa saat misa nanti. Saya mengiyakan. Sepanjang hidupnya, Dona Maria hanya tinggal di Maloca. Dari lahir hingga punya cucu, dia tidak pernah berpindah dari tempat yang sunyi dan terpencil itu.

(Foto: Pater Yanto Naben SVD)

“Padre mau rayakan natal di sini?” tanya Dona Maria.

“Iya. Sebentar kita misa natal saja.” kata saya sambil menganggukkan kepala.

Hari itu tanggal 23 Desember. Secara liturgis, gereja masih dalam masa adventus. Belum saatnya merayakan natal. Namun saya pikir, tidak ada salahnya kalau saya melawan aturan liturgis ini dan merayakan liturgi malam natal. Ini satu-satunya kesempatan mereka merayakan natal dengan kehadiran seorang pastor.

Dona Maria masih ingat para pastor yang pernah berkunjung ke Maloca. Beberapa nama ia sebutkan. Meskipun demikian, belum pernah ada pastor yang merayakan natal bersama mereka.

“Berarti ini natal yang pertama dengan kehadiran pastor kan?” tanyaku. Sambil tertawa kecil, Dona Maria mengiyakan. Barangkali dia senang. Dia usianya yang sudah rentah, dia punya kesempatan untuk merayakan natal bersama seorang pastor.

Saya pun pamit untuk mempersiapkan perayaan ekaristi. Perlengkapan misa saya bawa ke kapela. Bangku-bangku sudah tersusun rapih. Di bagian depan ada dua meja. Di atas meja yang beralaskan kain putih sudah ditahtahkan patung São Sebastião, pelindung kapela. Meja satunya lagi pasti untuk meja altar. Tanpa alas. Tidak ada kain altar juga. Di atas meja itu saya mempersiapkan perlengkapan misa.

Tidak ada satu pun ornamen yang berbau natal di dalam kapela. Tidak ada kandang natal. Pohon natal pun tidak ada. Ada penerangan listrik dari generator set milik komunitas. Tapi, tidak ada kerlap kerlip lampu natal yang sudah lazim seperti sekarang ini. Satu-satunya hiasan yang ada itu untaian pita kuning pucat di langit-langit kapela yang mungkin sudah terpasang sejak pesta pelindung kapela Maret lalu.

Satu per satu umat berdatangan. Saya berhasil mendapatkan orang untuk membawakan bacaan pertama dan mazmur tanggapan. Saya bertanya apakah ada yang bisa bernyanyi. Semua diam. Roger yang datang bersama saya pun berbisik bahwa di stasi itu tidak ada orang bisa menyanyi. Saya pun maklum bahwa misa malam natal saya itu bakal tanpa lagu.

Pater Yanto dan bapak Oliveira (Foto: Pater Yanto Naben)

Kami pun merayakan misa malam natal tanpa lagu-lagu natal. Tidak ada alunan lagu Malam Kudus. Tidak ada gema lagu Gloria in Excelcis Deo. Ekaristiku malam itu hanyalah berupa darasan doa.

Saya pun bertanya dalam hati, entahkan mereka bisa merasakan suasana natal saat itu? Saya tidak mau memikirkan kemungkinan jawaban untuk pertanyaan ini. Saya hanya bersyukur bahwa mereka datang dan mau merayakan ekaristi bersama saya.

Itu berarti tanpa semarak natal pun, Yesus lahir di tengah mereka. Kehadiran mereka itu sudah satu bukti bahwa Sang Imanuel pun ada dan menemani perjalanan iman mereka meskipun jarang sekali mendapat kunjungan seorang gembala. Mereka tahu bahwa gembala mereka yang utama adalah Sang Imanuel itu sendiri.

Baca juga: Natal, Antara yang Profan dan Religius (Pengalaman Merayakan Natal di Pedalaman Amazon)

Inilah natalku di pedalaman Amazon. Natal yang tanpa semarak natal.

Saya pun teringat lagu Charles Hutagalung yang dulu sering diputar di rumah: Kenangan Natal di Dusun Kecil.

Jauh di dusun yang sunyi, di situ rumahku

…….

Kenangan natal di dusun yang kecil…

Aplikasi Android Amorpos

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

3 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
0
Suka
Bahagia Bahagia
0
Bahagia
Wow Wow
0
Wow

Comments 1

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like