Paus di Angelus ajak umat cinta daripada benci

Paus dalam jubah putih berbicara kepada ribuan umat di Lapangan Santo Petrus

Pada Minggu, 22 Juni 2026, ribuan umat berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, untuk doa Angelus bersama Paus Leo XIV. Di hadapan mereka, sang Paus menyampaikan pesan yang tajam dan menggugah : mewartakan Injil bukan soal strategi atau teknik, melainkan soal perjumpaan pribadi yang nyata dengan Kristus.

Refleksinya berpijak pada perikop Injil Matius, di mana Yesus mengutus para murid-Nya dengan kata-kata yang kuat : “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang kaubisikkan di telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.” Bagi Paus Leo, kontras antara yang diterima secara pribadi dan yang diwartakan secara terbuka bukanlah kebetulan. Ini adalah inti seluruh panggilan kristiani.

Perjumpaan pribadi sebagai dasar pewartaan Injil

Paus Leo XIV menegaskan dengan lugas bahwa keaslian kesaksian kristiani tidak bergantung pada metode atau sumber daya, tetapi pada karya Roh Kudus dan kejujuran respons setiap orang beriman. “Kekuatan setiap kerasulan, di luar teknik dan alat, berasal dari karya Roh Kudus di dalam kita dan dari keaslian respons kita,” ujarnya.

Ia mengutip ajaran Santo Thomas Aquinas, yang mendefinisikan pewartaan sebagai contemplata aliis tradere, yakni meneruskan kepada orang lain apa yang telah dikontemplasikan. Artinya, seseorang hanya bisa berbicara secara kredibel tentang apa yang sungguh-sungguh telah ia hayati sendiri.

Yang menarik, Paus secara tegas menolak anggapan bahwa kontemplasi hanya milik kalangan elit spiritual. Berikut tiga poin inti ajarannya soal kontemplasi :

  1. Setiap orang kristiani dipanggil meluangkan saat-saat hening di tengah kesibukan harian.
  2. Kontemplasi bukan hak eksklusif biarawan, pertapa, atau orang-orang suci tertentu.
  3. Mendengarkan Allah dalam keheningan membentuk iman yang lebih kokoh dan kesaksian yang lebih bebas.

Pesan ini selaras dengan semangat yang diusung Paus Leo dalam membangkitkan kembali semangat kristiani progresif, di mana iman yang hidup bertumpu pada relasi otentik, bukan formalitas belaka.

Merespons kebencian dengan cinta, bukan dengan rasa takut

Paus Leo XIV tidak berhenti pada refleksi teologis semata. Ia mengingatkan konteks historis Injil Matius : komunitas awal yang menulis teks itu hidup di bawah tekanan dan penganiayaan. Godaan untuk menyerah, membiarkan kelelahan dan ketakutan menguasai diri, sangat besar saat itu.

Tantangan Respons yang dianjurkan
Kebencian dari lingkungan sekitar Menjawab dengan cinta
Kesombongan dan arogansi Menjawab dengan kelemahlembutan
Rasa putus asa Menjawab dengan ketekunan

Tantangan itu, kata Paus, tidak berubah hingga hari ini. Di berbagai penjuru dunia, umat kristiani masih menghadapi permusuhan dan marginalisasi. Namun jawabannya tetap sama : setia pada ajaran Yesus, bukan menyesuaikan diri dengan logika dunia.

Menutup pesannya, Paus Leo XIV menggemakan ajaran Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium : memperdalam akar iman melalui relasi intim dengan Tuhan adalah satu-satunya cara agar misi kristiani tetap hidup dan berdampak nyata. “Dunia sangat membutuhkannya,” tegasnya, merujuk pada pesan Kristus tentang harapan, cinta, dan damai.

Paus di Angelus ajak umat cinta daripada benci

Agung
Scroll to Top