Spiritualitas Politisi Katolik: Mengindonesia demi Kekatolikan dan Keindonesiaan


Spiritualitas Politisi Katolik, Amorpost.com-Tulisan ini merupakan suatu goresan yang kupersembahkan untuk semua politisi Indonesia yang sejauh ini menyandang predikat beriman dalam konteks tradisi Katolik dan kekatolikan. Katolik artinya umum atau universal. Namun Katolik itu pun khas, unik dan khusus.

Maka sesungguhnya, Katolik itu suatu konteks partikularitas (kekhususan) sekaligus universalitas (keumuman). Katolik itu eksklusivitas sekaligus inklusivitas. Katolik itu indah dan strategis karena memungkinkan kita untuk bermain antara (playing between).

Karena berada antara titik partikularitas dan universalitas, maka menjadi polisiti Katolik itu das sollen (seharusnya) cerdas bermain dalam pusaran arus partikularitas dan universalitas. Politisi Katolik harus lihai melakukan playing between (permainan antara).

Politisi Katolik harus bermain antara kekhususan dan keumuman. Namun ini bukan karena konsekuensi posisi Katolik sebagai entitas minoritas di negeri ini, melainkan semata-mata karena nama KATOLIK itu sendiri yang artinya umum, publik dan universal.

Mengindonesia demi Kekatolikan dan Keindonesiaan
Mengindonesia demi Kekatolikan dan Keindonesiaan (Foto: https://pixabay.com)

Menarik juga karena politik berkaitan dengan urusan pengaturan hidup bersama menuju kebaikan bersama bangsa dan negara. Politik membuat seseorang populer dalam hidup berbangsa dan bernegara. Ia dikenal dari level bawah hingga sentral kekuasaan di tingkat atas.

Menggoda karena politik itu menantang. Menantang karena panggung politik menghadirkan berbagai rayuan gombal godaan yang menggiurkan tentunya.

Politik dapat saja membelokkan seseorang jadi pribadi berhati lurus menuju pribadi berhati bengkok manakala ia dihadapkan pada godaan-godaan politik seperti uang (harta, korupsi) dan kekuasaan (takta/abuse of power) yang dapat membutakan mata iman kekatolikan seseorang. Maka di sini politisi Katolik harus memiliki kecerdasan Katolik yang mumpuni.

Penebar Damai
Penebar Damai (Foto: https://pixabay.com)

Cerdas akan Nilai kekatolikan
Ketika politisi Katolik bermain dalam konteks khusus, artinya politisi Katolik harus bermain cerdas di dalam kelompok Katolik. Ia harus bisa memahami Katolik dari dalam Katolik itu sendiri.

Ia mengenal dan memahami nilai-nilai Katolik, berakar dalam nilai-nilai Katolik dan bertumbuh dalam nilai-nilai Katolik itu sendiri. Nilai-nilai Katolik itu apa?

Banyak sekali nilai Katolik yang dapat dipelajari dalam Kitab Suci dan Magisterium Gereja seperti ensiklik para paus dan ajaran sosial gereja yang lain. Menjadi politisi Katolik artinya cerdas untuk dapat melayani pada dua (2) aras.

Melayani ke dalam (dunia Katolik) dan melayani keluar (masyarakat umum). Untuk itu politisi Katolik harus berakar kuat ke dalam sehingga ia bertunas subur dan membuahkan hasil yang positif keluar untuk kebaikan bersama (bonum commune).

Indonesiaku Kaya
Indonesiaku Kaya (Foto: https://pixabay.com)

Politisi Katolik mengharuskan dan mewajibkan dirinya agar kuat dalam pemahaman nilai-nilai Kekatolikan sehingga dirinya dapat mewartakan karakteristik kekatolikan itu kepada others, yang lain. Pemahaman akan nilai-nilai kekatolikan merupakan suatu conditio sine qua non (kondisi yang tidak bisa tidak)!

Ia harus paham agar cerdas dalam mengimplementasikan kekatolikan itu. Ia harus cerdas sehingga tidak salah arah, tidak sesat, tidak buta dan tidak keliru berjalan dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Katolik di panggung politik praktis kekuasaan.

Politisi Katolik tidak boleh gagal paham. Ia harus cerdas secara Katolik dan sekaligus memiliki hati dan tindakan Katolik yang jitu-tepat untuk nasib Katolik dan kukuhnya entitas bangsa ini.

Ada banyak nilai-nilai Katolik yang dapat kita endus dalam Kitab Suci Magisterium Gereja. Saya menyitir ajaran kitab suci yang dianggap relevan dan urgen.

Indah Negeriku
Indah Negeriku (Foto: https://pixabay.com)

Nilai-nilai politisi Katolik itu seperti pemimpin pelayan menurut teladan Sang Yesus Kristus yang datang untuk melayani dengan kerendahan hati dan bukan dilayani (ingat kisah perjamuan malam terakhir ketika Yesus membasuh kaki para rasul).

Juga pada bagian lain Santo Petrus memberikan nasihat bijak “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah (1 Petrus 4: 10). Petrus menasihati agar setiap politisi (pengurus) melayani dengan kasih karunia. Kasih karunia itu kebenaran, kebaikan dan kejujuran serta cinta kasih.

Kita pun melayani sesama dengan karunia yang diberikan Roh Kudus yang sudah ada pada kita ketika kita menerima Sakramen Baptis dan Krisma untuk mewartakan Kekatolikan kepada sesama dan dunia. Dengan ini kita menjadi ragi, garam dan terang dunia.

Berakar dalam spiritualitas melayani, maka politisi Katolik akan memposisikan diri berbeda dengan politisi lain yang mungkin saja menanti untuk dilayani alias bermental bos. Politisi Katolik akan dengan sendirinya memiliki dorongan roh untuk bertindak katolik: reflektif dalam situasi, cepat bersikap, dan bertindak tepat untuk menciptakan kebaikan Katolik dan kebaikan masyarakat bangsa secara keseluruhan.

Indonesia Tanah Air Beta
Indonesia Tanah Air Beta (Foto: https://pixabay.com)

Adalah tabu menjadi politisi Katolik itu yang tidur terlelap dalam romantisme arus partai dan dogmatisme politik yang bermain menurut arus keinginan partai yang dimasukinya. Politisi Katolik jangan mengorbankan idealisme nilai Katolik untuk kepentingan partai yang dapat saja membuat nilai-nilai kekatolikan menjadi kabur bahkan redup dan padam.

Politisi Katolik yang gagal bertindak Katolik di dalam partai adalah politisi yang maaf, tidak setia dalam berpolitik secara Katolik. Tidak setia artinya tidak konsisten dengan nilai-nilai Katolik. Tidak konsisten dengan nilai-nilai katolik artinya juga gagal berpolitik secara katolik di panggung politik Indonesia.

Apakah dengan ini orang Katolik takut dan tidak mau berpolitik? Karena takut nanti tidak dapat berjuang melawan keinginan partai?

Indonesiaku Kaya
Indonesiaku Kaya (Foto: https://pixabay.com)

Tidak! Sebab menjadi politisi Katolik itu tidak boleh juga merasa tinggal dalam status quo. Artinya jabatan dan posisi di panggung politik itu bukan untuk dilestarikan dan dijaga agar kita tetap berkuasa di situ.

Namun orang seharusnya menggunakan jabatan politis atau posisi kekuasaan itu untuk sebanyak mungkin melakukan kebaikan kekatolikan dengan cara spiritualitas melayani dengan piawai bermain antara (playing between). Piawa dan cerdas bermain antara kekatolikan dan keindonesiaan.

Piawai bermain secara kekatolikan artinya politisi Katolik berpolitik untuk nilai-nilai Katolik seperti kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, dan cinta kasih untuk option for the poor (pilihan untuk orang miskin papa) dan juga voice of the voiceless (suara kaum yang tak bersuara).

Ia ibarat nabi yang menyuarakan kebenaran dan nilai-nilai kekatolikan tanpa takut tidak populer atau bahkan ditolak sekalipun. Ia berpolitik berbasis idealisme nilai Katolik dan bukan pada pertimbangan pragmatisme politik yang sering kali tidak fair dan tidak santun dalam bermain.

Indah Negeriku
Indah Negeriku (Foto: https://pixabay.com)

Ia mencintai kitab suci, akrab dengan Yesus, dekat dengan hirarki dan terlibat dalam komunitas-komunitas Katolik. Ia dikenal dan aktif dalam kegiatan internal Katolik di organisasi katolik: di gereja, di wilayah, di stasi, di komunitas umat basis dan di tengah keluarga sebagai gereja mini.

Piawai bermain secara keindonesiaan artinya ia berpolitik untuk bonum commune atau kebaikan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Ia berjuang untuk NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal dan UUD 1945 sebagai nilai yang patut dijunjung tinggi dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Piawai bermain untuk Indonesia artinya ia menjadi negarawan sejati. Ia menjadi politisi yang memiliki visi dan misi jauh ke depan untuk Indonesia abadi, Indonesia jaya, Indonesia lestari.

Berpolitik untuk membasmi korupsi dengan jujur dalam berpolitik, menyuarakan kebenaran dan keadilan dengan lantang mengkritik hal yang tidak etis dan melawan hukum, bertindak profetis untuk menyelamatkan Indonesia dalam kondisi yang tidak menguntungkan bangsa dan negara ini.

Penebar Damai
Penebar Damai (Foto: https://pixabay.com)

Politik kekuasaan di tahun 2018 hampir tiba. Politisi Katolik atau kandidat politisi atau simpatisan politisi Katolik jangan tidur terlelap. Genderang pertarungan politik sudah mulai ditabuh.

Pak SBY barusan bertemu Pak Prabowo. Lobi-lobi partai sudah mulai jalan. Jokowi akan bagaimana? Orang Katolik bagaimana? Jangan diam. Lakukanlah sesuatu dengan menjadi sesuatu. Apa yang dilakukan dan menjadi seperti apa?

Sesuatu itu adalah spiritualitas, menjadi apa itu artinya menjadi politisi katolik. Ya, jadilah politisi Katolik yang mengindonesia demi keindonesiaan dan kekatolikan. Ini tugas mulai yang menanti bagimu hai politisi katolik saat ini. Bukan esok atau lusa!

Aplikasi Android Amorpos

Silakan Berikan Komentar Anda


Like it? Share with your friends!

97 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Sedih Sedih
0
Sedih
Lucu Lucu
0
Lucu
Suka Suka
4
Suka
Bahagia Bahagia
1
Bahagia
Wow Wow
0
Wow

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like