Pemerintahan Trump telah mengambil sikap tegas terhadap kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islamic State (ISIS) terhadap komunitas Kristen di Afrika. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya serangan brutal yang terjadi di beberapa negara Afrika, terutama di Republik Demokratik Kongo (RDK) dan Nigeria. Perkembangan komunitas Kristen global saat ini menghadapi tantangan serius akibat serangan kelompok ekstremis.
Serangan berdarah terhadap komunitas Kristen di Afrika
Pada akhir Juli lalu, sebuah tragedi mengerikan terjadi di timur Republik Demokratik Kongo. Sebanyak 49 umat Kristen dibantai dengan senjata tajam saat sedang berdoa di dalam gereja. Pemerintah setempat mengidentifikasi pelaku sebagai militan Islamis dari Allied Democratic Forces, yang juga dikenal sebagai Islamic State RDK.
Di Nigeria, situasi serupa terjadi ketika 27 umat Kristen tewas dalam serangan yang dilakukan oleh kelompok suku Fulani di desa Bindi Ta-hoss, sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Kesaksian dari saksi mata Solomon Sunday sangat menyayat hati: “Saya menyarankan keluarga saya untuk berlindung di gereja karena tampaknya itu tempat teraman saat itu. Saya kehilangan istri dan putri kedua saya dalam serangan tersebut; mereka dibakar hidup-hidup oleh milisi Fulani.”
Menurut Open Doors, sebuah organisasi amal Kristen global, Nigeria termasuk negara paling berbahaya di dunia bagi umat Kristen. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jumlah umat Kristen yang dibunuh karena iman mereka di Nigeria melebihi jumlah gabungan di seluruh dunia. Situasi ini telah mencapai level yang sangat mengkhawatirkan.
| Negara | Jumlah Korban | Kelompok Penyerang |
|---|---|---|
| Republik Demokratik Kongo | 49 | Allied Democratic Forces (ISIS-RDK) |
| Nigeria | 27 | Milisi Fulani |
| Nigeria (Plateau State) | 165+ | Berbagai kelompok ekstremis |
Respons tegas pemerintahan Trump
Menghadapi situasi yang semakin memburuk, Gedung Putih menyampaikan pernyataan tegas kepada media. “Pemerintahan Trump mengutuk dengan kata-kata paling keras kekerasan mengerikan terhadap umat Kristen ini,” kata juru bicara Gedung Putih. Pemerintahan Trump kini bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri untuk menemukan cara menghentikan pembantaian tersebut.
Juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan, “Departemen Luar Negeri bekerja sama dengan Gedung Putih untuk mengidentifikasi peluang guna memajukan kebebasan beragama di seluruh dunia.” Mereka menegaskan bahwa kebebasan beragama bagi semua orang di seluruh dunia merupakan keharusan moral dan keamanan nasional serta prioritas kebijakan luar negeri AS.
Presiden Trump juga telah menyatakan bahwa Amerika Serikat akan gencar mempromosikan kebebasan ini. Ini menunjukkan keseriusan pemerintahan Trump dalam menghadapi isu persekusi agama, khususnya yang ditargetkan pada komunitas Kristen.
Krisis kemanusiaan yang mengkhawatirkan
Situasi di Afrika sub-Sahara telah mencapai tingkat krisis yang sangat mengkhawatirkan. Menurut data dari Open Doors, dalam sepuluh tahun terakhir:
- Sekitar 150.000 orang telah terbunuh dalam kekerasan Jihadis
- Lebih dari 16 juta umat Kristen telah terusir dari rumah dan tanah mereka
- Ribuan gereja dan rumah telah dibakar atau dihancurkan
- Jutaan anak kehilangan akses pendidikan akibat pengungsian
John Eibner, presiden organisasi hak asasi manusia Kristen Christian Solidarity International, menjelaskan bahwa kejadian mengerikan seperti ini telah menjadi hal biasa di Nigeria tengah. “Ini bagian dari proses Islamisasi kekerasan jangka panjang, pembersihan etnis-agama yang sistematis. Pada Minggu Palma lalu, 50 umat Kristen dibantai dengan cara serupa di Bassa yang berdekatan.”
Pengacara Jabez Musa yang berjuang di pengadilan Nigeria untuk mengembalikan tanah umat Kristen menekankan bahwa para penyerang mengincar tanah milik umat Kristen. “Hanya umat Kristen yang menjadi target, mereka dibunuh, dipindahkan, dan tanah mereka diambil alih. Saat kita berbicara, lebih dari 64 komunitas di Plateau State telah diambil alih oleh militan Fulani,” jelasnya.
Harapan untuk solusi konkret
Henrietta Blyth, CEO Open Doors UK dan Irlandia, menyoroti tiga hal yang harus segera disediakan oleh pemerintah Afrika: keadilan, restorasi, dan perlindungan. “Selama ini, tidak ada yang membicarakan pembantaian mengerikan terhadap umat Kristen dan Muslim moderat di Afrika. Dunia Barat perlu terbangun dan marah,” tegasnya.
Pengacara Jabez Musa memohon, “Saya mendesak pemerintah Amerika, terutama Presiden Trump secara pribadi… untuk datang membantu umat Kristen.” Sementara salah satu kerabat korban mengungkapkan perasaannya setelah pembantaian di Bindi Ta-hoss, Nigeria: “Kami lelah dengan belasungkawa dan pernyataan. Yang kami butuhkan adalah keamanan nyata, bukan simpati.”
Seiring dengan meningkatnya keprihatinan global, langkah tegas dari pemerintahan Trump diharapkan dapat membawa perubahan nyata bagi perlindungan umat Kristen di Afrika yang terus mengalami persekusi.




