Arkeolog temukan gigi kuno yang menantang sejarah Kekristenan

Peneliti senior memeriksa fosil gigi purba di laboratorium batu

Sebuah penemuan arkeologi mengejutkan kembali mengguncang dunia ilmu pengetahuan. Di sebuah biara Bizantium yang terletak dekat Kota Tua Yerusalem, para peneliti menemukan sisa-sisa tulang seorang pertapa yang terbungkus rantai. Temuan ini berasal dari periode antara 350 hingga 650 Masehi. Yang paling mencengangkan bukan hanya rantai itu sendiri, melainkan identitas biologis sang pertapa.

Gigi kuno mengungkap identitas pertapa bertulang rantai

Kondisi kerangka tersebut sangat rusak akibat akar pohon dan faktor degradasi lainnya. Tulang-tulang diagnostik, seperti tulang panggul, sama sekali tidak dapat dianalisis. Hanya tiga ruas tulang belakang dan sebuah gigi yang tersisa setelah lebih dari 1.600 tahun terkubur.

Analisis DNA mustahil dilakukan dalam kondisi ini. Namun, tim peneliti menemukan solusi inovatif. Dr. Paula Kotli dan rekan-rekannya sebelumnya mengembangkan metode identifikasi jenis kelamin berdasarkan protein enamel gigi yang disebut amelogenin. Protein ini sedikit berbeda antara individu laki-laki dan perempuan.

Berikut cara kerja metode ilmiah tersebut :

  • Manusia memiliki dua salinan gen amelogenin : satu pada kromosom X dan satu pada kromosom Y.
  • Individu dengan dua kromosom X hanya memiliki amelogenin terkait-X.
  • Kehadiran amelogenin terkait-Y menunjukkan individu berjenis kelamin laki-laki secara biologis.

Ketika gigi pertapa berrantai itu dianalisis, tidak ditemukan amelogenin terkait-Y. Hasil ini sangat mengindikasikan bahwa pemilik gigi tersebut adalah perempuan. Para peneliti menyatakan bahwa ini merupakan “bukti pertama yang solid” bahwa perempuan di era Kekristenan awal juga melakukan praktik penyiksaan diri.

Asketisme ekstrem dan perempuan dalam sejarah Kekristenan awal

Selama bertahun-tahun, sejarah mencatat bahwa praktik asketisme ekstrem hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Asketisme sendiri mencakup berbagai praktik devosional, mulai dari puasa panjang hingga meditasi mendalam. Namun bentuk paling ekstremnya—yang pertama kali didokumentasikan pada abad kedua—selalu diasosiasikan dengan tokoh laki-laki.

Sosok seperti Simeon Stylites, yang menghabiskan 36 tahun di atas sebuah tiang batu, menjadi ikon asketisme dalam budaya populer. Kisahnya diabadikan dalam puisi karya Alfred, Lord Tennyson dan sebuah film tahun 1965 oleh sutradara Meksiko Luis Buñuel. Bahkan karakter Silas dalam novel thriller The Da Vinci Code menggambarkan seorang biarawan laki-laki yang menyiksa diri sendiri.

Aspek Asumsi sebelumnya Setelah penemuan gigi
Pelaku asketisme ekstrem Hanya laki-laki Juga perempuan
Metode identifikasi Tulang diagnostik Protein enamel gigi (amelogenin)
Periode penemuan — 350–650 Masehi (era Bizantium)

Tokoh-tokoh Gereja seperti Santo Barsanuphius dan Yohanes sang Nabi memang pernah mengecam praktik penyiksaan diri yang ekstrem. Namun fakta bahwa praktik ini tetap berlangsung—bahkan kemungkinan besar dilakukan oleh perempuan—membuka perspektif baru tentang kehidupan devosional di era Kekristenan awal.

Penemuan ini berkaitan erat dengan temuan-temuan arkeologi lain yang turut mempertanyakan narasi sejarah. Misalnya, arkeolog menemukan jimat kuno yang dapat mengubah sejarah Kekristenan, sebuah penemuan yang juga menantang pemahaman kita tentang praktik religius masa lampau.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science ini memperluas pemahaman kita tentang siapa yang boleh beribadat dan bagaimana caranya dalam tradisi Kristen kuno. Identitas perempuan di balik rantai-rantai itu bukan sekadar data arkeologi—melainkan cerminan kompleksitas spiritualitas yang selama ini tersembunyi di bawah tanah.

Arkeolog temukan gigi kuno yang menantang sejarah Kekristenan

Agung
Scroll to Top