Bagaimana “nasionalis Kristen” menjadi sebuah hinaan yang kontroversial

Dua pria berdebat di podium menghadap audiens formal

Istilah “nasionalis Kristen” telah berubah makna secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Hari ini, label ini sering digunakan sebagai serangan politik, bukan sebagai deskripsi netral. Namun sejarah Amerika menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks dan beragam.

Pada tahun 1932, para pemimpin agama berkumpul di Indianapolis atas undangan Federal Council of Churches. Mereka ingin mengintegrasikan nilai-nilai Kristiani ke dalam kebijakan ekonomi nasional. Mereka mendukung sistem ekonomi terencana dan penghapusan kemiskinan. Sekretaris Perburuhan Frances Perkins bekerja sama dengan pemimpin Kristen untuk mendorong undang-undang penting. Ia menyempurnakan Social Security Act dan Fair Labor Standards Act selama retreat di sebuah biara di Maryland. Bagi mereka, memperjuangkan negara kesejahteraan adalah panggilan iman, bukan ambisi kekuasaan.

Ketika label menjadi senjata politik

Buku terbaru Matthew Avery Sutton berjudul Chosen Land menegaskan bahwa nasionalisme Kristen bukan milik satu kelompok politik. Selama berabad-abad, ia mewarnai aktivisme dari berbagai spektrum. Dari Frederick Douglass hingga Jerry Falwell, tokoh-tokoh beragam menggunakan Alkitab untuk mempengaruhi kebijakan publik. Sutton menulis bahwa sejarah Amerika Serikat adalah sejarah Kekristenan Amerika, dan keduanya tidak dapat dipisahkan.

Masalah mendasar pada diskusi saat ini adalah penyempitan makna yang terjadi. Survei menunjukkan bahwa orang Kristen kulit hitam justru mendapat skor tertinggi pada skala pengukuran nasionalisme Kristen. Namun para akademisi sering menambahkan kata “putih” untuk menyempurnakan fokus mereka pada gerakan MAGA. Akibatnya, kelompok ekstrem kanan memanipulasi Kristen sebagai senjata seolah menjadi satu-satunya narasi yang dominan di ruang publik.

Berikut beberapa bentuk nasionalisme Kristen yang pernah muncul sepanjang sejarah Amerika :

  • Gerakan Social Gospel era New Deal yang memperjuangkan hak buruh
  • Aktivisme hak sipil yang dipimpin tokoh seperti Martin Luther King Jr.
  • Gerakan abolisionis yang menggunakan teologi untuk menentang perbudakan
  • Kelompok konservatif religius yang berafiliasi dengan gerakan MAGA

James Talarico, seorang seminaris yang memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di Texas, menyatakan bahwa tidak ada yang Kristiani dalam nasionalisme Kristen versi MAGA. Namun kritiknya mengandung paradoks. Ia sendiri berjuang meraih kekuasaan politik sambil mengutip Injil Matius. Inti kritiknya bukan bahwa iman tidak boleh masuk ke ruang publik, melainkan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan itu tidak cukup Kristiani.

Warisan tersembunyi dan masa depan istilah yang diperdebatkan

Era Tokoh Orientasi politik
Era New Deal (1930-an) Frances Perkins Progresif / kiri
Gerakan hak sipil (1960-an) Martin Luther King Jr. Progresif / kiri
Era kontemporer Jerry Falwell, MAGA Konservatif / kanan

Buku Sutton mengundang kaum progresif untuk mempertimbangkan kemungkinan yang terasa berlawanan dengan intuisi. Lebih banyak agama dalam kehidupan publik, bukan lebih sedikit, mungkin menjadi strategi yang lebih efektif. Sejarah membuktikan bahwa pemisahan formal gereja dan negara tidak berarti agama harus absen dari perdebatan politik.

Barack Obama pernah menyatakan pada 2006 bahwa para reformis besar Amerika, dari Abraham Lincoln hingga Dorothy Day, termotivasi oleh iman dan menggunakan bahasa religius untuk memperjuangkan tujuan mereka. Menonaktifkan label “nasionalis Kristen” sebagai alat serangan politik bisa menjadi langkah kecil namun bermakna. Istilah ini tidak memiliki rujukan yang stabil dalam sejarah Amerika yang lebih luas. Penggunaannya yang memojokkan lebih banyak memperkeruh suasana daripada mengubah pikiran siapa pun. Pertanyaan sesungguhnya bukan apakah Kekristenan akan membentuk Amerika masa depan, melainkan visi Kristiani mana yang akan mendominasi kehidupan politik dan budaya bangsa itu.

Bagaimana

Agung
Scroll to Top