Pada 17 September 2026, sebuah gugatan federal didaftarkan di Pengadilan Detroit yang mengguncang kota Dearborn, Michigan. Penggugat, Margot Cleveland, seorang warga kota sekaligus penulis untuk situs media sayap kanan The Federalist, menuding Wali Kota Abdullah Hammoud secara sistematis mengistimewakan umat Muslim di atas komunitas Kristen dan Yahudi. Gugatan ini bukan sekadar sengketa lokal biasa. Ini menyentuh inti konstitusi Amerika : Klausul Penetapan Agama dalam Amandemen Pertama.
Cleveland diwakili oleh American Freedom Law Center, kelompok hukum konservatif Judeo-Kristen yang bermarkas di Ann Arbor. Kasusnya kini ditangani oleh Hakim Linda Parker.
Tuduhan konkret : spanduk Ramadan dan biaya yang tercatat
Segalanya bermula pada April 2025. Cleveland sedang membeli makan malam di Dearborn ketika ia melihat spanduk bertuliskan “Ramadan Kareem” terpasang di sudut kota, disertai patung bulan sabit di sebuah taman. Ia pun mengajukan permintaan resmi kepada pejabat kota agar Paskah dan Passover mendapat perlakuan serupa. Tidak ada respons yang memuaskan.
Melalui permintaan Freedom of Information Act (FOIA), Cleveland mendapatkan dokumen keuangan yang cukup mengejutkan :
| Item | Biaya |
|---|---|
| Spanduk “Ramadan Kareem” | $1.500 |
| Patung bulan sabit di taman | $5.000 |
| Signage iftar dinner resmi | $360 |
Selain itu, departemen kepolisian kota menjual kaos bertema Ramadan, dan Hammoud mengundang warga terpilih ke acara iftar menggunakan email resmi pemerintah kota. Gugatan menyebut ini sebagai preferensi agama yang jelas dari pejabat pemerintah, bertentangan langsung dengan konstitusi federal.
Di rapat dewan pada 19 Mei, Cleveland berbicara secara publik menyampaikan keberatannya. Tidak satu pun anggota dewan merespons, padahal sesi yang sama dipenuhi tanya jawab antara dewan dan warga lain. Anggota dewan Robert Abraham bahkan mengisyaratkan bahwa Cleveland sudah dianggap ancaman litigasi, sehingga pejabat enggan berkomunikasi dengannya. Cleveland membantah niat itu dan menyebut ia justru ingin menyelesaikan masalah tanpa jalur hukum.
Konteks lebih luas : pola gugatan dan sejarah konflik di Dearborn
Penting dipahami bahwa kasus ini bukan yang pertama. Dearborn memiliki rekam jejak panjang soal sengketa hukum antara komunitas Kristen konservatif dan pejabat kota. Berikut beberapa preseden yang relevan :
- 2009 : Pastor George Saeig menggugat kota setelah mengklaim dilarang menyebarkan literatur Kristen di Arab International Festival.
- 2010 : Empat misionaris dari Acts 17 Apologetics ditangkap, diadili, lalu dibebaskan. Mereka memenangkan $300.000 dari kota.
- 2011 : Pastor Terry Jones sempat dipenjara singkat terkait rencana demonstrasi di depan masjid.
- 2015 : American Freedom Law Center (pengacara Cleveland) memenangkan kasus Bible Believers di tingkat banding.
Kota Dearborn membantah semua tuduhan. Pernyataan resmi menyebut kota “berkomitmen melayani seluruh warga secara adil, tanpa memandang keyakinan atau latar belakang.” Hammoud sendiri pernah menghadiri dan mempromosikan upacara penyalaan pohon Natal tahunan, dan ia mendapat dukungan dari tokoh Kristen setempat seperti Romo Bob McCabe dari Divine Child Catholic Church. Sekitar setengah dari populasi Dearborn memang beragama Islam, berdasarkan data sensus terbaru.
Yang menarik untuk dicermati adalah fakta bahwa di bawah kepemimpinan Hammoud, kota justru mengizinkan dua aksi pembakaran Al-Quran di depan masjid dan berbagai protes anti-Islam. Pada Juni lalu, polisi Dearborn bahkan memberikan pengawalan kepada aktivis Jake Lang saat berunjuk rasa. Ini menunjukkan bahwa perlindungan kebebasan berbicara tetap ditegakkan, terlepas dari dugaan yang dilontarkan Cleveland. Gugatan ini membuka pertanyaan yang lebih dalam : di mana batas antara pengakuan keberagaman budaya dan keberpihakan agama yang melanggar konstitusi ?
- Gugatan bias terhadap Kristen dan Yahudi di Dearborn - 23 September 2026
- Rosario global untuk perdamaian : ajakan ke umat Katolik - 23 September 2026
- Pete Hegseth’s Unholy War : analisis mendalam - 18 September 2026




