John Banville : ‘Gereja Katolik adalah organisasi teroris negara’

Pria senior berbicara di perpustakaan dengan buku-buku lama

John Banville, sastrawan Irlandia yang kini berusia 80 tahun, dikenal luas sebagai penulis terbesar yang masih hidup di negaranya. Namun, di balik reputasinya yang gemilang, ia menyimpan pandangan-pandangan kontroversial yang kerap mengejutkan publik. Dalam sebuah percakapan panjang di rumahnya di Howth, pinggiran Dublin, ia berbicara tanpa filter tentang gereja, keluarga, dan dunia sastra.

Gereja Katolik sebagai “organisasi teroris negara”

Banville tidak pernah menyembunyikan permusuhannya yang mendalam terhadap Gereja Katolik. Baginya, institusi ini pernah mencengkeram Irlandia seperti rezim otoriter. “Ketika saya mengunjungi Eropa Timur pada tahun 1970-an, saya berpikir : ini seperti Irlandia,” ungkapnya. Partai Komunis mengendalikan kehidupan mereka; kami punya Gereja Katolik.

Perbandingan itu terasa keras, namun Banville tidak bergeser. Ia pernah menulis sebuah artikel di New York Times yang menyatakan bahwa semua orang tahu tentang pelecehan anak yang dilakukan oleh institusi keagamaan di Irlandia. “Seperti orang-orang yang tinggal di dekat Belsen — mereka tahu dan tidak tahu sekaligus,” katanya. Artikel itu membuatnya dijauhi oleh kalangan elite Dublin.

Kejatuhannya yang cepat, sejak awal 1990-an, tetap memukau Banville. “Gereja Katolik bukan lagi sebuah organisasi teror yang didukung negara,” katanya dengan nada puas. Ia juga mengenang dengan keheranan referendum 2015 yang melegalkan pernikahan sesama jenis di Irlandia. “Dublin seperti sedang berpesta karnaval. Saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya sedang berhalusinasi ?” Namun ia tetap kritis : bangsa yang benar-benar dewasa seharusnya melewati masa trauma panjang setelah runtuhnya keyakinan lama. “Kami hanya butuh tiga minggu,” sindirnya.

Bagi banyak orang yang kini meninggalkan gereja dan mencari makna sejati dalam iman Kristen, refleksi Banville tentang dominasi institusional ini terasa relevan dan menyentuh.

Kehidupan, cinta, dan sastra : potret seorang penulis tanpa kompromi

Lahir pada 1945 dari keluarga kelas menengah bawah di Wexford, Banville memilih jalan yang tak biasa. Ia menolak masuk universitas, pindah ke Dublin di usia 17, dan bekerja untuk Aer Lingus. Kesempatan itu memberinya tiket murah untuk menjelajahi dunia. Berikut beberapa perjalanan yang membentuk dunia intelektualnya :

  • Paris dan Roma, tempat ia menyerap sastra Eropa continental
  • Yunani, yang memperkaya imajinasi estetikanya
  • San Francisco, ditempuh dengan kelas satu Lufthansa seharga dua pound

Ia kemudian menjadi editor sastra The Irish Times dari 1988 hingga 1999. Pengaruh Thomas Mann dan Rilke membentuk ambisinya sebagai novelis gagasan bertaraf internasional. “Saya sangat serius pada diri sendiri di usia dua puluhan,” akuinya sambil tertawa.

Karya penting Tahun Keterangan
The Book of Evidence 1989 Masuk daftar pendek Booker Prize
The Sea 2005 Pemenang Booker Prize
The Singularities 2022 Disebut “novel nyata terakhirnya”
Venetian Vespers 2026 Novel terbarunya, perpaduan prosa dan misteri

Di sisi kehidupan pribadi, Banville mengakui bahwa ia bukan ayah yang baik. Selama 40 tahun, ia membagi waktunya antara istrinya Janet Dunham dan Patricia Quinn. “Orang-orang menyebut saya ‘bigamis’ di belakang punggung saya,” ujarnya. Namun ia menyatakan mencintai keduanya, dan keempat anaknya kini saling kenal dengan baik.

Tentang masa depan penulisannya, ia mengutip Iris Murdoch : setiap buku berikutnya adalah harapan untuk menebus semua yang sebelumnya. Dan dengan gaya khas Larkin, Banville menutupnya dengan ironi tajam : “Saya tidak menulis dengan sangat baik — hanya lebih baik dari semua orang.”

John Banville : 'Gereja Katolik adalah organisasi teroris negara'

jose
Scroll to Top