Peradilan Scopes atau “Monkey Trial” yang terjadi di Dayton, Tennessee pada tahun 1925 merupakan tonggak penting dalam sejarah kekristenan evangelikal Amerika. Selama seabad terakhir, kasus ini telah membentuk hubungan kompleks antara agama dan politik di Amerika Serikat, menjadi katalisator bagi perubahan signifikan dalam lanskap keagamaan negara tersebut.
Asal usul pertentangan evolusi versus kreasi
Pada Maret 1925, negara bagian Tennessee mengeluarkan undang-undang yang melarang pengajaran teori evolusi di sekolah umum. Larangan ini didukung oleh kaum Protestan konservatif yang menyebut diri mereka “fundamentalis”, yang percaya bahwa teori Darwin bertentangan dengan kisah penciptaan dalam kitab Kejadian dan mengancam iman serta moralitas.
American Civil Liberties Union (ACLU) kemudian menawarkan untuk membiayai “kasus uji” yang menantang konstitusionalitas undang-undang Tennessee tersebut. Para pemimpin bisnis Dayton, kota kecil dengan 1.800 penduduk, melihat kesempatan untuk mendapatkan publisitas dan meyakinkan John Scopes, guru sains dan pelatih sepak bola lokal, untuk menerima tawaran itu.
Persidangan ini menjadi konfrontasi dramatis antara dua pandangan dunia yang bertentangan: “modernis” yang berusaha menyesuaikan iman dengan penemuan ilmiah, dan “fundamentalis” yang memegang teguh interpretasi literal Alkitab. Bagi kebanyakan fundamentalis, “pandangan dunia alkitabiah” mencakup keyakinan bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya, termasuk penetapan prokreasi, pernikahan, dan keluarga inti.
Persidangan ini menampilkan dua pengacara terkenal: William Jennings Bryan, fundamentalis populis yang pernah menjadi kandidat presiden Partai Demokrat tiga kali, dan Clarence Darrow, pengacara terkenal yang mengaku skeptis dan agnostik dalam hal agama.
Dampak kultural dan penarikan diri kaum fundamentalis
Setelah enam hari persidangan yang disiarkan langsung melalui radio ke seluruh negeri, Scopes dinyatakan bersalah dan didenda $100. Meskipun Bryan dan kaum fundamentalis memenangkan pertempuran hukum, dalam persepsi publik nasional, Darrow dan terdakwa muda itu memenangkan perdebatan kultural dan ilmiah secara meyakinkan.
Liputan media tentang persidangan ini banyak mengejek pandangan agama tradisional dan daerah pedesaan tempat tinggal banyak fundamentalis. Istilah “fundamentalis” mulai menjadi ejekan. Sebagai respons, komunitas religius konservatif menarik diri dari kehidupan publik dan membangun institusi mereka sendiri:
- Denominasi gereja independen
- Seminari teologi konservatif
- Sekolah swasta dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi
- Media penyiaran dan penerbitan khusus
Seperti dikatakan Carter Johnson, pendeta Gereja Presbyterian Westminster di Dayton: “Ada penarikan diri yang jelas dari masyarakat” oleh kaum fundamentalis sebagai respons terhadap nada mengejek dari opini publik. Penarikan diri ini berlangsung selama beberapa dekade.
Sementara itu, gerakan fundamentalis mengubah branding mereka menjadi “evangelikal” dan subkultur religius konservatif mulai berkembang, berakar pada bagian-bagian signifikan dari budaya nasional yang sering diabaikan oleh media berita. Pada saat yang sama, denominasi Protestan arus utama yang lebih liberal mulai menurun.
| Periode | Perkembangan Kunci |
|---|---|
| 1925-1940an | Penarikan diri kaum fundamentalis dari kehidupan publik |
| 1940an-1970an | Rebranding sebagai “evangelikal” dan pembangunan institusi |
| 1980an | Kemunculan kembali sebagai kekuatan politik yang mendukung Reagan |
| 2000an-sekarang | Pengaruh politik puncak meskipun menurun secara demografis |
Kebangkitan politik evangelikal dan warisan berkelanjutan
Pada tahun 1980-an, Protestan evangelikal muncul kembali sebagai suara utama dalam lanskap religius bangsa dan kekuatan politik yang membantu Ronald Reagan menjabat sebagai presiden selama dua periode. Sejak saat itu, kaum Evangelikal menjadi pemain kekuasaan penting dalam Partai Republik.
Meskipun survei menunjukkan bahwa Protestan evangelikal kulit putih mengalami penurunan selama dua dekade terakhir, isu-isu yang mereka pedulikan tetap menonjol dalam perdebatan nasional. Menurut Matthew Sutton, profesor sejarah di Washington State University, “Polling menunjukkan bahwa Evangelikal kehilangan jumlah mereka dalam hal persentase populasi, namun mereka lebih kuat dari sebelumnya dalam hal mempengaruhi pengadilan dan kebijakan publik.”
Koalisi religius Evangelikal dan Katolik konservatif telah melihat kemenangan demi kemenangan di Mahkamah Agung, termasuk pembatalan Roe v. Wade dan mengizinkan dana publik untuk institusi keagamaan. Presiden Trump juga menciptakan satuan tugas untuk “Memberantas Bias Anti-Kristen,” dan bendera “Appeal to Heaven” telah berkibar di luar rumah milik Hakim Agung Samuel Alito dan kantor Capitol anggota Kongres Republik.
Douglas Mann, presiden Bryan College di Dayton, melihat banyak isu yang sama bermain dengan cara yang serupa seperti seabad yang lalu, terutama pada persimpangan sains dan agama. “Kami akan terlibat,” katanya. “Kami tidak akan mundur dari masyarakat.”
Seratus tahun setelah Peradilan Scopes, dampaknya pada perkembangan kekristenan evangelikal tetap terasa. Dari penarikan diri awal hingga kebangkitan politik yang kuat, perjalanan kaum evangelikal Amerika mencerminkan transformasi besar dalam hubungan agama dan politik di Amerika Serikat, menjadikan “Monkey Trial” sebagai salah satu titik awal paling penting dalam konflik kultural yang terus berlangsung hingga saat ini.




