Katolik Meksiko jaga gereja dari vandalisme protes hari perempuan

Orang-orang berkumpul di depan gereja berarsitektur kolonial.

Pada 8 Maret 2026, peringatan Hari Perempuan Internasional di Meksiko diwarnai gelombang unjuk rasa besar. Ribuan perempuan turun ke jalan memprotes diskriminasi kerja, pelecehan di transportasi umum, serta pembunuhan perempuan yang dikenal sebagai femisida. Menurut kelompok hak asasi manusia, femisida terjadi 10 kali setiap hari di negara itu. Meksiko memang telah memilih presiden perempuan pertamanya, Claudia Sheinbaum, pada 2024. Aturan paritas gender juga mewajibkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan di parlemen serta mahkamah agung. Namun kenyataan sosial masih jauh dari harapan bagi jutaan perempuan.

Vandalisme terhadap gereja-gereja Katolik selama protes perempuan

Di tengah demonstrasi, sejumlah bangunan ibadah menjadi sasaran vandalisme. Gereja Sagrario Metropolitano di kota San Luis Potosí — dikenal sebagai Templo de la Compañía dan dibangun pada abad ke-17 — mengalami kerusakan serius. Video di media sosial memperlihatkan pintu gereja yang terbakar dan dinding bangunan yang penuh coretan. Gereja bersejarah tersebut sedang menjalani proses restorasi ketika insiden itu terjadi.

Para analis mengingatkan bahwa aksi vandalisme semacam ini kadang dilakukan oleh pihak-pihak yang menyusup ke demonstrasi untuk mendiskreditkan gerakan tersebut. Vandalisme juga melanda gedung-gedung pemerintah. Umat Katolik di berbagai penjuru Meksiko bergandeng tangan di depan katedral dan gereja paroki untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Berikut bentuk-bentuk vandalisme yang dilaporkan selama demonstrasi :

  • Pembakaran pintu gereja bersejarah di San Luis Potosí
  • Coretan grafiti pada dinding bangunan ibadah
  • Perusakan jendela gedung pemerintah
  • Bentrokan antara sebagian demonstran dan aparat kepolisian

Uskup Agung Jorge Alberto Cavazos Arizpe dari San Luis Potosí menegaskan bahwa kerusakan pada bangunan memang menyakitkan. Namun ia menambahkan bahwa penderitaan perempuan selama bertahun-tahun jauh lebih berat. “Seperti kata Yesus, penghinaan terhadap seseorang, sekecil apapun, selalu lebih serius,” katanya. Uskup juga mengungkapkan bahwa sejumlah pemuda dari kementerian keluarga keuskupan berupaya melindungi gereja secara mandiri.

Respons Gereja Katolik Meksiko dan kekerasan yang terus berlanjut

Konferensi uskup Meksiko mengeluarkan pernyataan resmi pada 9 Maret yang ditandatangani oleh Uskup Ramón Castro Castro dari Cuernavaca selaku ketua, dan Uskup Héctor Pérez Villarreal dari Mexico City selaku sekretaris jenderal. Mereka menyatakan : “Meksiko membutuhkan keadilan dan perdamaian, bukan kekerasan lebih lanjut.”

Tokoh Jabatan Peran dalam pernyataan
Ramón Castro Castro Uskup Cuernavaca Ketua konferensi uskup, penandatangan
Héctor Pérez Villarreal Uskup Pembantu Mexico City Sekretaris jenderal, penandatangan
Jorge Alberto Cavazos Arizpe Uskup Agung San Luis Potosí Merespons langsung insiden gereja

Para uskup menegaskan bahwa gereja adalah tempat doa, perjumpaan, dan penghiburan bagi ribuan orang. Mereka menyerukan agar rasa sakit perempuan menjadi pemersatu, bukan pemecah belah. Keuskupan agung San Luis Potosí mengumumkan Misa reparasi yang dirayakan pada 11 Maret. Pastor Jorge Aurelio Ramírez Torres memimpin Misa di depan gereja yang rusak pada 9 Maret.

Di sisi lain, kekerasan di Meksiko tidak hanya menyentuh gereja fisik. Pastor Juan Manuel Zavala Madrigal dari negara bagian Chiapas ditemukan tewas pada 9 Maret setelah menghilang usai merayakan Misa di sebuah desa terpencil di Ocotepec. Tasnya ditemukan di lokasi berbeda dari tubuhnya. Gereja Katolik Meksiko telah lama menjadi korban kekerasan yang dipicu perang kartel selama dua dekade terakhir. Para uskup menyerukan semua pihak membangun dialog dan jalan menuju keadilan sejati bagi perempuan.

Katolik Meksiko jaga gereja dari vandalisme protes hari perempuan

jose
Scroll to Top