Uskup Niall Coll dari Raphoe menyampaikan pandangan tegas tentang arah kehidupan iman kaum muda Katolik kontemporer. Dalam peluncuran buku karya Pastor John O’Brien CSSp berjudul Transformative Renewal in the Catholic Church di Kimmage Manor, beliau menjelaskan bahwa generasi yang lahir sejak 1995 tidak mencari perubahan progresif, melainkan kejelasan doktrin yang kokoh. Pernyataan ini muncul di tengah perdebatan Gereja tentang sinodalitas dan reformasi menjelang Sinode Irlandia pada bulan Oktober mendatang.
Generasi digital mencari kebenaran yang utuh
Uskup Coll menggambarkan apa yang disebutnya sebagai “I-Gen” dan “Gen-Z”, yakni generasi muda Katolik yang tumbuh sepenuhnya dalam budaya pasca-Kristen yang terfragmentasi secara moral. Berbeda dengan ekspektasi banyak pihak, generasi ini justru menunjukkan keseriusan baru terhadap iman. Mereka tidak memiliki memori warisan dari Irlandia Katolik masa lalu, namun secara paradoks hal ini mendorong mereka mencari klaritas, koherensi dan tradisi.
Banyak dari mereka adalah konversi baru yang tertarik pada soliditas ajaran doktrin, kedalaman sakramental, dan kontinuitas dengan tradisi Gereja. Bagi mereka, Gereja harus merepresentasikan kebenaran yang dapat dipahami secara intelektual dan menuntut, bukan sekadar kemampuan beradaptasi dengan tren zaman. Fenomena ini kontras dengan asumsi bahwa generasi digital menginginkan perubahan liberal dalam struktur Gereja.
Dalam konteks yang lebih luas, Katolik yang menghadiri misa mingguan cenderung menolak perubahan dalam Gereja, studi Pew menunjukkan, memperkuat observasi Uskup Coll tentang kerinduan akan stabilitas doktrinal.
Pembentukan katekese sebagai fondasi pembaruan
Uskup Coll menekankan bahwa sinodalitas tanpa jangkar dalam Kitab Suci dan doktrin berisiko terjerumus ke dalam diskusi tanpa arah. Beliau mengidentifikasi katekese yang lemah sebagai faktor sentral dalam kerapuhan Gereja saat ini. Banyak kaum muda sekarang menemukan iman melalui sumber-sumber online yang terfragmentasi dan terpolarisasi, bukan melalui pengajaran terstruktur di paroki atau sekolah.
Gereja sinodal memerlukan tidak hanya partisipasi tetapi juga pemahaman. Umat Allah tidak dapat melakukan pembedaan bersama kecuali mereka dapat mengartikulasikan apa yang mereka percayai dan mengapa. Berikut adalah elemen kunci pembentukan iman yang diperlukan :
- Katekese sistematis yang menghubungkan doktrin dengan kehidupan sehari-hari
- Pembentukan katekis yang kompeten dan terdidik secara teologis
- Integrasi antara mendengarkan dan mengajar dalam proses sinodal
- Pengajaran yang menghasilkan keyakinan dan kepercayaan diri iman
Menyeimbangkan tradisi dengan keterlibatan aktif
Dalam pernyataan yang tajam, Uskup Coll mengamati bahwa orang Katolik yang ditemuinya tidak terbakar oleh agenda progresif. Sebaliknya, beliau memperingatkan bahwa sinodalitas yang terlepas dari doktrin berisiko melayang tanpa tujuan. Tugas Gereja bukanlah memilih antara sinodalitas dan tradisi, melainkan mengintegrasikan keduanya.
Berikut adalah perbandingan antara pendekatan yang berbeda dalam pembaruan Gereja :
| Aspek | Pendekatan Sinodal Tanpa Doktrin | Sinodalitas Terintegrasi |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Diskusi proses dan struktur | Kebenaran yang dapat diajarkan |
| Pembentukan | Partisipasi tanpa pemahaman | Keterlibatan dengan formasi |
| Hasil | Debat tanpa arah | Kejelasan teologis dan spiritual |
Uskup Coll menyimpulkan dengan pengingat yang realistis bahwa pembaruan akan berlangsung lambat dan kadang tidak merata. Hal ini memerlukan kejelasan teologis dan kedalaman spiritual yang berkelanjutan. Masa depan Katolikisme Irlandia akan bergantung pada apakah Gereja dapat menjadi sinodal sekaligus koheren : sebuah gereja yang mendengarkan secara mendalam, mengajar dengan jelas, membentuk secara intensional, dan memberikan kesaksian hangat dalam dunia yang terluka.




