Gerakan MAGA yang selama ini tampak bersatu kini menghadapi retakan serius dari dalam. Perselisihan antara kubu Katolik dan Protestan konservatif semakin terbuka, memperlihatkan ketegangan ideologis yang sudah lama tersimpan. Di tengah persaingan ini, pernyataan kontroversial pendeta Doug Wilson menjadi pemantik perdebatan sengit yang sulit diredam.
Pendeta sayap kanan yang memperkeruh suasana di kubu konservatif
Doug Wilson bukan nama sembarangan di lingkaran konservatif Amerika. Ia dikenal sebagai salah satu mentor Menteri Pertahanan Pete Hegseth, tokoh kunci dalam pemerintahan Trump. Denominasinya bahkan mengajarkan bahwa perempuan yang sudah menikah tidak berhak memilih — pandangan yang memantik kritik keras dari berbagai pihak. Baru-baru ini, Wilson memimpin ibadah doa di Pentagon, memperkuat kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan.
Pernyataan Wilson yang paling memantik kemarahan datang saat ia menyebut bahwa dalam negara Kristen ideal yang ia bayangkan, segala bentuk “pemujaan berhala di ruang publik” harus dilarang. Yang ia maksud termasuk pawai dan prosesi Katolik. Pernyataan ini langsung disambut kecaman dari kalangan Katolik sayap kanan di dunia maya.
Berikut adalah beberapa tokoh dan posisi yang terlibat dalam perpecahan ini :
- Doug Wilson — pendeta Protestan, mentor Pete Hegseth, menolak tradisi publik Katolik
- Carrie Prejean Boller — aktivis Katolik konservatif, dicopot dari Komisi Kebebasan Beragama Trump
- Candace Owens — influencer MAGA Katolik, dikenal dengan retorika kontroversial
- JD Vance — Wakil Presiden, Katolik, pernah menyerang uskup yang membela imigran
- Nick Fuentes — figur ekstremis, menjadikan kasus Boller sebagai propaganda pro-Katolik
Konflik Katolik vs Protestan dalam gerakan MAGA yang kian nyata
Perpecahan berbasis keyakinan ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun lalu. Sejumlah figur Katolik terkemuka — termasuk dari sayap konservatif — menentang kebijakan anti-imigran rasis pemerintahan Trump. Bahkan Wakil Presiden JD Vance, yang memeluk Katolik, harus menghadapi konsekuensi atas serangannya terhadap uskup-uskup Katolik yang membela hak imigran. Umat Katolik Amerika memang menunjukkan sikap yang semakin kompleks terhadap agenda Trump.
Kasus Carrie Prejean Boller menambah dimensi baru pada konflik ini. Ia dicopot dari Komisi Kebebasan Beragama bentukan Trump setelah perdebatan panas soal antisemitisme dalam rapat panel. Boller berpendapat bahwa anti-Zionisme merupakan bagian dari imannya sebagai Katolik, dan ia membela Candace Owens yang dikenal menyebarkan retorika antisemit terang-terangan.
| Tokoh | Afiliasi agama | Isu utama |
|---|---|---|
| Doug Wilson | Protestan konservatif | Larangan pawai Katolik di ruang publik |
| Carrie Prejean Boller | Katolik MAGA | Dicopot dari komisi karena isu antisemitisme |
| JD Vance | Katolik | Serangan terhadap uskup pro-imigran |
Pemecatan Boller justru dimanfaatkan oleh figur-figur ekstremis seperti Nick Fuentes. Mereka membingkai pencopotan itu sebagai serangan terhadap iman Katolik, bukan sebagai sanksi atas kontroversi antisemitisme. Narasi ini memperlihatkan bagaimana identitas agama digunakan sebagai senjata politik di dalam gerakan konservatif Amerika.
Yang jelas, perpecahan antara Katolik dan Protestan dalam ekosistem MAGA bukan sekadar perbedaan teologis. Ini adalah perebutan pengaruh ideologis atas masa depan gerakan. Komentar Wilson hanyalah satu contoh nyata dari ketegangan yang jauh lebih dalam — dan kemungkinan besar belum akan mereda dalam waktu dekat.




