Paus Leo XIV ajak Gereja berdoa dan puasa untuk perdamaian di hari raya Ratu Maria

Paus Leo XIV ajak Gereja berdoa dan puasa untuk perdamaian di hari raya Ratu Maria

Dalam audiensisnya pada 20 Agustus 2025, Paus Leo XIV mengumumkan seruan khusus kepada umat Katolik di seluruh dunia untuk menjadikan 22 Agustus sebagai hari doa dan puasa demi perdamaian dunia. Perayaan Ratu Maria yang jatuh pada tanggal tersebut akan dijadikan momentum spiritual untuk memohon kedamaian bagi negara-negara yang dilanda konflik.

Sekitar 6.000 peziarah internasional yang hadir di Aula Audiensi Paulus VI menjadi saksi langsung seruan ini. Bapa Suci menekankan pentingnya meminta interesesi Maria sebagai Ratu Perdamaian bagi mereka yang menderita akibat perang dan kekerasan di berbagai belahan dunia.

Seruan perdamaian untuk konflik global yang berkelanjutan

Menghadapi realitas konflik yang terus berlangsung, Paus Leo XIV secara tegas menyatakan keprihatinannya terhadap situasi dunia saat ini. “Saat dunia kita terus terluka oleh perang di Tanah Suci, di Ukraina, dan di bagian lain dunia, saya mengundang semua umat beriman untuk menghayati tanggal 22 Agustus sebagai hari doa dan puasa,” ungkap Pontiff tersebut.

Seruan ini bukan sekadar ajakan ritual, melainkan respons konkret terhadap penderitaan yang dialami berbagai bangsa. Paus Fransiskus menyerukan gencatan senjata segera di seluruh konflik Timur Tengah, menunjukkan kontinuitas kepedulian Gereja terhadap situasi regional yang kompleks ini.

Tujuan utama dari inisiatif spiritual ini mencakup beberapa aspek penting :

  • Memohon kepada Tuhan agar menganugerahkan perdamaian dan keadilan
  • Menghapus air mata mereka yang menderita karena konflik bersenjata
  • Mencari jalan perdamaian melalui interesesi Maria
  • Memperkuat solidaritas global umat beriman

Katekese tentang pengampunan dan cinta tanpa batas

Dalam katekesenya yang berjudul “Yesus Kristus Harapan Kita”, Paus Leo XIV menyampaikan refleksi mendalam tentang kekuatan pengampunan. Beliau mengambil contoh sikap Yesus ketika menghadapi pengkhianatan Yudas Iskariot, salah satu dari dua belas rasul.

Mengutip Injil Santo Yohanes pasal 13, Pontiff menekankan bahwa “Yesus tahu bahwa saatnya telah tiba… ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya.” Cinta hingga akhir menjadi kunci untuk memahami hati Kristus, sebuah kasih yang tidak berhenti menghadapi penolakan, kekecewaan, bahkan ketidakberterimakasihan.

Aspek Pengampunan Manifestasi dalam Yesus Pesan untuk Umat
Cinta tanpa syarat Membasuh kaki murid-murid Membebaskan yang lain sambil mengasihi
Pengampunan sejati Tidak menunggu pertobatan Memberikan sebagai hadiah cuma-cuma
Wajah harapan Tidak membiarkan kejahatan berkuasa Menunjukkan kekuatan sejati

Paus Leo XIV ajak Gereja berdoa dan puasa untuk perdamaian di hari raya Ratu Maria

Misteri partisipasi dalam karya penebusan Kristus

Paus Leo XIV menjelaskan bahwa pengampunan sejati bukan tanda kelemahan atau kelupaan, melainkan manifestasi dari wajah harapan dan keselamatan yang sesungguhnya. “Ini adalah kemampuan untuk membebaskan yang lain, sambil mengasihinya hingga akhir,” tegas Bapa Suci.

Kasih Yesus tidak menyangkal kebenaran penderitaan, namun tidak membiarkan kejahatan memiliki kata terakhir. Misteri yang Yesus wujudkan bagi kita adalah sesuatu yang terkadang kita juga dipanggil untuk berpartisipasi di dalamnya.

Setelah katekese berlangsung lebih dari satu jam, Paus Leo XIV memberikan berkat apostolik kepada para hadirin di Aula Audiensi Paulus VI. Beliau kemudian melanjutkan pertemuan dengan peziarah di Piazza del Sant’Uffizio dan Basilika Santo Petrus, menyampaikan versi ringkas katekesenya dalam bahasa Italia, Spanyol, dan Inggris, menunjukkan komitmen pastoral yang luar biasa untuk menjangkau umat dari berbagai latar belakang budaya.

Rian Pratama
Scroll to Top