Ratusan tokoh agama Kristen dan akademisi di Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan bersama yang mengkritik kebijakan pemerintahan Trump. Mereka menyerukan perlawanan aktif terhadap ketidakadilan dan bahaya anti-demokratis yang melanda negara. Pernyataan bertajuk “A Call to Christians in a Crisis of Faith and Democracy” ini dirilis bertepatan dengan awal masa Prapaskah, periode refleksi spiritual dan pertobatan bagi umat Kristiani.
Inisiatif ini diorganisir oleh Adam Russell Taylor dari Sojourners, Jim Wallis dari Georgetown Center for Faith and Justice, dan Barbara Williams-Skinner dari Skinner Institute. Sekitar 400 penandatangan awal mewakili berbagai denominasi, termasuk pemimpin gereja kulit hitam, Asia, dan Latino serta institusi pendidikan Kristen. Jumlah dukungan terus bertambah sejak publikasi pada 18 Februari 2026.
Keprihatinan terhadap nasionalisme Kristen kulit putih
Para pemimpin Kristen mengungkapkan kegelisahan mendalam terhadap ideologi nasionalisme Kristen kulit putih yang dianggap merusak iman. Pendeta Cynthia Hale dari Ray of Hope Christian Church menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar krisis demokrasi, melainkan krisis keyakinan yang fundamental. Nasionalisme Kristen, yang mengusung gagasan bahwa hukum Alkitab harus mengatur kehidupan Amerika, telah merasuki tingkat tertinggi pemerintahan.
Uskup Raymond Rivera dari Council of Holistic Christian Churches menyoroti bagaimana pemimpin agama tertentu memberikan dukungan tanpa syarat kepada administrasi Trump. Ia menilai mereka telah mencampuradukkan kedekatan dengan kekuasaan politik dengan kedekatan kepada kuasa Tuhan. Taylor bahkan menyebut pencampuradukan ini sebagai bentuk penyembahan berhala yang berbahaya.
| Aspek | Kondisi saat ini | Harapan pemimpin Kristen |
|---|---|---|
| Imigran | Demonisasi dan deportasi masif | Perlindungan dan keadilan |
| Hak sipil | Erosi kebebasan fundamental | Pembelaan hak demokratis |
| Keberagaman | Upaya pembalikan sistematis | Penghargaan inklusivitas |
Contoh konkret mencakup undangan Menteri Perang Pete Hegseth kepada pendeta Doug Wilson, yang berpandangan kontroversial bahwa perempuan tidak seharusnya memilih atau memegang jabatan kepemimpinan. Iklan rekrutmen Immigration and Customs Enforcement yang mengutip ayat Alkitab juga dianggap sebagai penyalahgunaan bahasa religius untuk membenarkan taktik-taktik yang keras.
Seruan untuk tindakan nyata melawan ketakutan
Pernyataan kolektif ini menekankan bahwa diam bukanlah sikap netral, melainkan pilihan aktif untuk membiarkan bahaya terjadi. Para penandatangan berkomitmen untuk melakukan tindakan konkret yang mencerminkan keyakinan teologis mereka. Profesor Kristin Kobes Du Mez dari Calvin University menjelaskan bahwa pernyataan ini ditujukan bagi pastor dan umat Kristen biasa yang mungkin baru menyadari apa yang dipertaruhkan.
Beberapa langkah praktis yang diusulkan meliputi :
- Membela hak-hak pemilih dan proses demokratis
- Mengejar perdamaian melalui dialog konstruktif
- Berdiri bersama imigran yang menjadi sasaran ketidakadilan
- Membangun jaringan solidaritas antar-gereja
Uskup Dottie Escobedo-Frank dari United Methodist Church menandatangani surat tersebut untuk mendorong komunitas Kristen California Selatan melayani mereka yang tertindas. Namun, ia mengakui bahwa pelayanan gereja seperti distribusi makanan dan perawatan anak menghadapi gangguan dari agen ICE atau demonstran anti-imigran. Banyak orang takut menjalankan iman mereka karena tindakan pemerintah.
Taylor mengajak umat untuk mengatasi ketakutan dengan terhubung satu sama lain melalui jaringan yang tersedia di situs web inisiatif ini. Ia mengingatkan bahwa pesan “jangan takut” adalah salah satu ajaran paling konsisten dalam Kitab Suci. Pemerintahan otoriter berkembang ketika masyarakat merasa terisolasi dan kewalahan, sehingga solidaritas dan keberanian kolektif menjadi kunci untuk mencegah situasi memburuk. Fenomena ini juga terkait dengan perubahan lanskap keagamaan Amerika yang tengah berlangsung.




