Saya meninggalkan Katolik karena tidak ada komunitas yang mendukung

Saya meninggalkan Katolik karena tidak ada komunitas yang mendukung

Banyak orang meninggalkan Gereja Katolik bukan karena alasan teologis yang mendalam, melainkan karena rasa kesepian dan ketidakhadiran komunitas yang nyata. Sarah, seorang penelepon dalam sebuah diskusi keagamaan, berbagi pengalamannya. Ia bergabung dengan Gereja Katolik saat remaja karena mencintai sejarah dan tradisinya. Namun setelah berpindah domisili berkali-kali, ia tak pernah menemukan paroki yang terasa seperti rumah.

Sarah menyebutkan bahwa program paroki umumnya hanya menyasar dua kelompok saja. Ia merasa terpinggirkan sebagai seorang profesional dewasa yang belum memiliki anak.

  • Program untuk anak-anak dan remaja
  • Kegiatan khusus lansia dan pensiunan
  • Hampir tidak ada ruang untuk umat dewasa aktif

Kondisi ini mendorongnya keluar dari Gereja. Ia merasa datang ke Misa lalu pulang begitu saja, tanpa ada hubungan yang bermakna dengan sesama umat.

Komunitas yang hangat sebagai fondasi iman yang kuat

Joe Heschmeyer merespons kegelisahan Sarah dengan penuh empati. Ia mengakui bahwa rasa terisolasi di lingkungan paroki adalah masalah nyata, bahkan mungkin sudah menjadi hal yang lumrah di banyak tempat di Amerika Serikat. Menurutnya, solusinya bukan sekadar menambah program paroki, melainkan membangun rasa kepemilikan bersama di antara umat.

Joe menyebut contoh konkret dari tradisi Perjanjian Lama. Abraham dalam Kitab Kejadian menyambut tamu dengan keramahan yang luar biasa. Hospitalitas bukan sekadar etiket, melainkan bagian dari kekudusan hidup itu sendiri. Sayangnya, nilai ini sering diabaikan dalam kehidupan paroki modern.

Masalah Solusi yang disarankan
Umat merasa tidak dikenal di paroki Budayakan sapaan dan keterlibatan aktif antarumat
Program hanya untuk anak dan lansia Inisiasi kelompok untuk umat dewasa profesional
Tidak ada rasa memiliki terhadap paroki Dorong umat untuk menjadi bagian dari solusi

Ia juga menyebut contoh nyata : sebuah kelompok ibu di paroki terdekat yang rutin bertemu setiap minggu. Kelompok ini tumbuh bukan atas inisiatif pastor, melainkan karena para ibu sendiri mengambil langkah nyata. Bagi Joe, itulah inti dari komunitas yang hidup.

Untuk memahami lebih dalam tentang peran Misa dalam membentuk iman yang sejati, ada baiknya membaca memahami misa dan iman yang melampaui pemahaman kita, sebuah refleksi yang membantu umat memaknai kembali kehadiran mereka dalam liturgi.

Ketidakberanian berkhotbah dan perpecahan internal Gereja

Sarah juga menyentuh isu lain yang tak kalah penting : minimnya bimbingan moral dari mimbar. Ia merasa paroki-paroki yang ia kunjungi jarang sekali membahas isu-isu sosial secara tegas, mulai dari pornografi hingga persoalan seksualitas. Ironisnya, di gereja Protestan tempatnya kini beribadah, ia justru menemukan keberanian itu.

Joe menjelaskan bahwa ini bukan masalah tingkat Gereja secara keseluruhan. Setiap imam memiliki kepekaan pastoral yang berbeda, dan beberapa topik sensitif memang lebih mudah dibahas secara personal daripada di depan ribuan umat. Namun ia setuju bahwa keberanian berkhotbah adalah kebutuhan yang mendesak.

Cy Kellett menambahkan dimensi yang lebih luas. Sejak tahun 1960-an, Gereja Katolik menghadapi pergolakan internal yang signifikan. Para uskup saling berbeda pendapat tentang cara menyampaikan pesan moral, bahkan soal isu besar seperti aborsi dan dukungan para politisi. Ketidakpastian pesan ini menjadi salah satu akar permasalahan yang dirasakan umat seperti Sarah.

Joe menegaskan bahwa dalam tradisi Protestan, perbedaan semacam ini biasanya berujung pada perpecahan dan pembentukan denominasi baru. Dalam Gereja Katolik, perbedaan itu tetap hidup berdampingan, menciptakan gandum dan ilalang dalam satu tubuh yang sama. Ini adalah tantangan nyata yang membutuhkan keberanian, kejujuran, dan dialog yang terbuka dari seluruh komunitas beriman.

Saya meninggalkan Katolik karena tidak ada komunitas yang mendukung

Rian Pratama
Scroll to Top