Pangeran William kini mulai memperlihatkan komitmennya terhadap Gereja Inggris. Namun, langkah ini justru menuai kritik tajam dari mantan pendeta Ratu Elizabeth II. Gavin Ashenden, yang menjabat sebagai pendeta kerajaan antara 2008 dan 2017, menyebut sikap ini terasa seperti manuver politik semata. Ia menyampaikan pandangannya secara terbuka di stasiun radio LBC di Inggris.
Sikap Pangeran William terhadap iman yang dinilai kurang tulus
Minggu ini, Pangeran Wales dijadwalkan hadir dalam pelantikan Uskup Agung Canterbury yang baru, Dame Sarah Mullally, wanita pertama yang menduduki jabatan tertinggi dalam Gereja Anglikan. Menjelang momen penting itu, seorang asisten William menyampaikan kepada The Sunday Times bahwa pangeran siap mengungkapkan “iman yang tenang” yang selama ini ia simpan.
Pernyataan ini justru menyulut reaksi negatif dari Ashenden. Ia menegaskan bahwa iman Kristen bukanlah sesuatu yang bisa dimainkan secara strategis. Menurutnya, kekristenan menuntut integritas mendalam. “Orang mati karenanya. Mereka menyerahkan hidup mereka untuknya,” ujarnya tegas. Ia pun menambahkan bahwa William selama ini dikenal sebagai sosok yang “tidak terlalu religius” dan diliputi keraguan tentang apakah ia layak memimpin gereja yang jarang ia kunjungi.
Perlu diingat bahwa posisi Gubernur Tertinggi Gereja Inggris akan jatuh ke tangan William saat ia naik takhta menggantikan Raja Charles III. Jabatan ini bersifat seremonial, namun memiliki bobot simbolis yang sangat besar bagi jutaan umat Anglikan.
| Anggota kerajaan | Hubungan dengan agama |
|---|---|
| Ratu Elizabeth II | Berbicara terbuka tentang iman Kristen sebagai sumber penghiburan |
| Raja Charles III | Tertarik pada berbagai tradisi spiritual termasuk Buddhisme |
| Pangeran William | Menjaga iman tetap pribadi, jarang hadir di gereja secara rutin |
Antara keaslian iman dan tuntutan peran kerajaan
Dibaptis saat bayi dan dikonfirmasi ke dalam Gereja Inggris pada usia 14 tahun, William sebenarnya tidak pernah tampil sebagai sosok yang secara kasat mata sangat saleh. Ia umumnya hadir di gereja hanya pada momen keluarga atau acara resmi seperti Natal dan Paskah. Pola ini memicu spekulasi berkepanjangan tentang bagaimana ia akan menjalankan perannya sebagai pemimpin nominal gereja di masa depan.
Penulis biografi Robert Hardman, dalam tulisannya di Daily Mail, mencoba melihat sisi lain dari pernyataan terbaru ini. Menurutnya, William adalah pribadi yang sangat tertutup dan ingin menjaga imannya tetap personal. Namun ia menilai pernyataan ini “terasa signifikan dan menggembirakan”. Hardman menegaskan bahwa William tidak mengalami pencerahan dramatis seperti Santo Paulus di jalan menuju Damaskus, tetapi gestur ini menunjukkan bahwa pangeran mulai mempersiapkan diri secara serius untuk takhta.
Ada beberapa hal yang ingin disampaikan William melalui langkah ini :
- Meyakinkan para pendukung gereja bahwa ia memahami peran dan pentingnya institusi tersebut
- Membangun hubungan autentik dengan kepemimpinan Gereja Anglikan
- Menunjukkan kesiapan bertahap menuju tanggung jawab kerajaan yang lebih besar
Konteks ini penting untuk dipahami secara lebih luas. Instrumentalisasi agama untuk kepentingan tertentu menjadi perhatian banyak pihak saat ini. Seperti yang diungkapkan para ahli, kelompok ekstrem kanan memanipulasi Kristen sebagai senjata politik, sebuah fenomena yang membuat sensitivitas terhadap penggunaan simbol-simbol keagamaan semakin tinggi di berbagai kalangan.
Bagi Gavin Ashenden, masalahnya bukan pada niat William, melainkan pada kesan yang ditimbulkan. Ketika iman diekspresikan secara tiba-tiba menjelang momen seremonial penting, hal itu terasa seperti kalkulasi politik. Dan bagi seorang Kristen yang berkomitmen, perasaan itu sungguh menyakitkan.




