Sebuah kajian terbaru mengungkapkan fakta menarik bahwa kehidupan beragama Katolik di Irlandia masih menunjukkan ketahanan yang cukup signifikan meskipun gelombang sekularisasi telah melanda negara tersebut selama beberapa dekade terakhir. Laporan setebal 26 halaman yang berjudul “The Turning Tide ? Recent religious trends on the island of Ireland” ini menyajikan data-data yang mengejutkan tentang praktik keagamaan di negara yang terkenal dengan tradisi Katoliknya.
Posisi unik Irlandia dalam peta keagamaan Eropa
Riset yang ditugaskan oleh konferensi para uskup Irlandia ini mengungkap bahwa negara tersebut masih mempertahankan tingkat partisipasi Misa mingguan tertinggi di Eropa, meskipun mengalami penurunan dalam afiliasi Katolik secara keseluruhan. Data menunjukkan bahwa Irlandia menempati posisi keempat untuk persentase umat yang menghadiri Misa setiap minggu di antara negara-negara yang diteliti, hanya di bawah Polandia, Slovakia, dan Italia.
Pencapaian ini menempatkan Irlandia di atas negara-negara Katolik tradisional lainnya seperti Kroasia, Portugal, dan Spanyol. European Social Survey yang melacak sikap dan perilaku keagamaan di lebih dari 30 negara menjadi basis utama penelitian ini. Menariknya, siklus pengumpulan data terbaru pada 2023-2024 menunjukkan peningkatan yang kuat dalam afiliasi religius dan praktik keagamaan di negara ini.
| Negara | Peringkat Kehadiran Misa Mingguan | Kelompok Usia Signifikan |
|---|---|---|
| Polandia | 1 | Semua kelompok |
| Slovakia | 2 | Semua kelompok |
| Italia | 3 | Semua kelompok |
| Irlandia | 4 | Usia 16-29 tahun |
Fenomena kebangkitan di kalangan generasi muda
Aspek paling menarik dari studi ini adalah tren yang terlihat di kalangan umat Katolik berusia 16 hingga 29 tahun. Meskipun secara keseluruhan terdapat penurunan praktik keagamaan di kalangan dewasa muda, data terbaru menunjukkan pembalikan tren yang mengejutkan. Di Irlandia, 17% Katolik muda menghadiri Misa setiap minggu, menempatkan negara ini di posisi keenam di antara negara-negara yang dikaji.
Para peneliti, Profesor Stephen Bullivant dari St. Mary’s University dan Emily Nelson dari Queens University Belfast, mengidentifikasi beberapa faktor yang mungkin menjelaskan fenomena “kebangkitan yang tenang” ini :
- Generasi muda cenderung kurang mengasosiasikan Gereja Irlandia dengan skandal pelecehan masa lalu
- Menjadi Kristen dipandang sebagai pilihan bebas dan individual, bukan kewajiban yang dipaksakan sejak lahir
- Beberapa kaum muda menemukan penghiburan dalam iman setelah berjuang dengan masalah kesehatan mental
- Pengaruh dari influencer online yang menginspirasi minat terhadap keagamaan
Archbishop Eamon Martin dari Armagh, yang membahas laporan ini dalam pertemuan pleno musim semi para uskup, menekankan pentingnya tidak terlalu antusias namun tetap memperhatikan tren ini. Ia mengatakan bahwa fenomena ini mengajak Gereja untuk merefleksikan bagaimana merespons kelompok muda yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Tuhan dan agama. Pola ini menunjukkan kesamaan dengan tren yang diamati di Amerika Serikat terkait perubahan lanskap keagamaan.
Peran imigrasi dan konteks regional yang berbeda
Studi ini juga menganalisis kontribusi imigrasi terhadap ketahanan relatif Katolik Irlandia. Negara tersebut mengalami arus masuk migran dari negara-negara mayoritas Katolik seperti Brasil, Polandia, Spanyol, serta dari negara bagian Kerala di India. Data menunjukkan proporsi Katolik yang lahir di luar Irlandia meningkat dari 6% pada 2002-2003 menjadi 18% pada 2023-2024.
Laporan ini juga mencatat perbedaan signifikan antara Republik Irlandia dan Irlandia Utara. Irlandia Utara menunjukkan tingkat afiliasi religius yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah selatan. Remaja berusia 18-24 tahun di Republik Irlandia cenderung kurang mengidentifikasi diri sebagai Katolik, namun tren sebaliknya terjadi di Irlandia Utara, yang merupakan bagian dari Inggris Raya.




