Ketika Presiden Donald Trump memanfaatkan National Prayer Breakfast sebagai panggung untuk menyerang lawan-lawan politiknya dan mengklaim monopoli keimanan bagi Partai Republik, muncul suara perlawanan dari dalam komunitas Kristen itu sendiri. James Talarico, seorang legislator Texas dan calon Senator AS yang juga sedang menempuh pendidikan seminari Presbyterian, tampil dengan tegas menentang nasionalisme Kristen versi MAGA yang menurutnya mengkhianati ajaran Yesus Nazareth.
Pertarungan ideologis di dalam kekristenan Amerika
Dalam sebuah wawancara viral dengan Stephen Colbert yang tayang di YouTube, Talarico menyatakan bahwa memaksakan agama kepada orang lain bukanlah bentuk cinta kasih. Ia menekankan pentingnya pemisahan gereja dan negara sebagaimana dijamin dalam Amandemen Pertama konstitusi Amerika.
Perspektif Talarico didasarkan pada ajaran kakeknya yang merupakan pendeta Baptis. Menurutnya, batasan antara gereja dan negara tidak hanya menguntungkan demokrasi, tetapi juga melindungi gereja itu sendiri. Ketika institusi keagamaan terlalu dekat dengan kekuasaan politik, mereka kehilangan suara profetik mereka untuk berbicara kebenaran dan membayangkan dunia yang berbeda.
Pernyataan tegas Talarico menggarisbawahi bahwa kelompok ekstrem kanan memanipulasi Kristen sebagai senjata, sebuah fenomena yang semakin mengkhawatirkan banyak umat beragama di Amerika.
Kontroversi Pete Hegseth dan Doug Wilson di Pentagon
Sementara Trump berpidato selama 75 menit dengan mengagungkan dirinya sendiri, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan sambutan yang justru lebih mengkhawatirkan. Ia menyebut dirinya sebagai “Secretary of War” dan menggunakan kesempatan tersebut untuk mengkristenisasi militer Amerika Serikat.
Hegseth memperkenalkan kebaktian bulanan di Pentagon sebagai bagian dari “kesiapan spiritual” dan mengklaim bahwa Amerika didirikan sebagai negara Kristen. Ia bahkan mengundang Doug Wilson, seorang pendeta Idaho yang kontroversial dan pendiri denominasi tempat Hegseth beribadah, untuk berkhotbah kepada para pemimpin militer.
| Tokoh | Posisi | Pandangan tentang nasionalisme Kristen |
|---|---|---|
| Pete Hegseth | Menteri Pertahanan AS | Mempromosikan nasionalisme Kristen di Pentagon |
| Doug Wilson | Pendeta, mentor Hegseth | Pendukung keras patriarki dan nasionalisme Kristen |
| James Talarico | Legislator Texas, calon Senator | Menentang nasionalisme Kristen sebagai pengkhianatan iman |
Wilson dikenal sebagai pendukung paleo-Confederate yang kontroversial karena meremehkan kengerian perbudakan dan mempromosikan patriarki ekstrem. Brian Kaylor, seorang pendeta Baptis, mengamati dengan keprihatinan bahwa Hegseth bahkan menyiratkan tentara dapat memperoleh keselamatan dengan berperang untuk Amerika Serikat.
Spektrum pandangan tentang pemisahan gereja dan negara
Penting untuk memahami bahwa tidak semua orang Kristen Amerika mendukung visi nasionalisme Kristen yang dipromosikan oleh kubu MAGA. Terdapat spektrum luas pandangan tentang hubungan antara gereja dan negara di kalangan umat Kristen :
- Nasionalis Kristen ekstrem : Percaya bahwa Amerika adalah negara Kristen dan harus diperintah berdasarkan prinsip-prinsip Kristen tertentu
- Kristen konservatif moderat : Menginginkan nilai-nilai Kristen mempengaruhi kebijakan publik tanpa memaksakan agama
- Kristen progresif : Mendukung pemisahan ketat gereja-negara demi melindungi kebebasan beragama semua orang
- Kristen pluralis : Menekankan panggilan untuk mengasihi semua tetangga tanpa memandang keyakinan mereka
Talarico menegaskan bahwa nasionalisme Kristen adalah penyembahan terhadap kekuasaan atas nama Kristus. Pandangannya mencerminkan keresahan yang berkembang di kalangan Protestan arus utama dan Katolik terhadap militarisasi ajaran Yesus yang dikenal sebagai Pangeran Damai. Perlawanan terhadap dominasi MAGA atas kekristenan Amerika semakin mendapat perhatian publik, terutama setelah wawancara Talarico menjadi viral ketika CBS sempat menghalangi penayangannya atas permintaan ketua FCC yang ditunjuk Trump.




