Umat Katolik diimbau waspada terhadap skisma baru Anglikan

Uskup dalam pakaian liturgi melakukan ibadah di katedral.

Perpecahan baru dalam tubuh Komuni Anglikan global kian mempertegas betapa rumitnya hubungan antarkomunitas Kristen saat ini. Sejak dikonfirmasinya Uskup Agung Sarah Mullally sebagai uskup agung Canterbury ke-106 pada 28 Januari 2026, gelombang penolakan dari kubu konservatif semakin menguat. Mullally, mantan perawat yang menjadi pemimpin pertama perempuan di Gereja Inggris, akan diresmikan pada 25 Maret mendatang. Namun, kehadirannya justru memicu pemutusan hubungan dari sejumlah gereja Anglikan di seluruh dunia.

Skisma Anglikan baru dan dampaknya terhadap umat Katolik

Pada pertemuan 3–6 Maret 2026 di Abuja, Nigeria, 347 uskup dari GAFCON (Global Anglican Future Conference) secara resmi membentuk Dewan Anglikan Global yang baru, dipimpin oleh Uskup Agung Rwanda Laurent Mbanda. GAFCON mengklaim mewakili setidaknya separuh dari 85 juta umat Anglikan yang tersebar di 165 negara. Organisasi ini, yang berdiri sejak 2008, menyatakan bahwa instrumen-instrumen komuni yang ada tidak lagi memenuhi kebutuhan Anglikan konservatif.

Dalam “Deklarasi Abuja” tertanggal 7 Maret, GAFCON mendesak gereja-gereja Anglikan ortodoks untuk menghapus rujukan kepada Takhta Canterbury dan berpegang pada Deklarasi Yerusalem 2008. Dokumen tersebut menegaskan bahwa perpecahan ini bukan sekadar soal seksualitas manusia, melainkan menyangkut penyimpangan doktrinal yang lebih mendasar dari ajaran Kitab Suci. Gereja-gereja Nigeria, Kenya, Uganda, dan India Selatan termasuk di antara 27 pihak yang mengesahkan deklarasi ini.

Bagi umat Katolik, situasi ini menghadirkan tantangan tersendiri. Msgr. Michael Nazir-Ali, mantan uskup Anglikan Rochester yang bergabung ke Gereja Katolik pada 2021, menegaskan bahwa harapan pemulihan komuni sakramental antara kedua gereja kini praktis mustahil. Ia juga mengingatkan bahwa arah Protestan yang semakin konservatif dalam tubuh GAFCON justru mempersulit mereka yang merasa dekat dengan tradisi Katolik.

Pihak Posisi terhadap skisma Sikap terhadap dialog Katolik
GAFCON (konservatif) Membentuk Dewan Anglikan Global baru Terbuka pada dialog lanjutan
Forward in Faith Menolak arah liberal Gereja Inggris Mendukung keterlibatan Roma
Gereja Inggris Mendukung reformasi liberal Tetap menjaga kontak resmi

Waspada namun tetap menjaga dialog ekumenis

Tom Middleton, direktur Forward in Faith, menyebutkan bahwa Komuni Anglikan kini tidak lagi bisa dianggap sebagai organisasi yang koheren. Menurutnya, ketidakjelasan siapa yang sesungguhnya dipimpin oleh Canterbury mempersulit pemahaman tentang arah gereja ke depan. Ia juga mendorong Roma untuk tetap menjalin percakapan dengan GAFCON, mengingat besarnya representasi mereka dalam komunitas Anglikan dunia.

Gereja Katolik sendiri belum mencabut keputusan Paus Leo XIII dalam surat apostolik Apostolicae Curae tahun 1896, yang menyatakan bahwa penahbisan suci Anglikan adalah “sama sekali tidak sah dan tidak berlaku.” Dalam konteks ini, Kardinal Francis Leo dari Toronto mendesak umat Katolik untuk menghindari simbol-simbol yang tidak mencerminkan iman mereka, sebuah seruan yang relevan di tengah kerancuan identitas keagamaan saat ini.

  • Pertahankan hubungan persahabatan dengan komunitas Anglikan
  • Hindari ilusi tentang penyatuan sakramental di masa dekat
  • Ukur ajaran Anglikan berdasarkan doktrin Gereja Katolik
  • Dukung dialog lintas denominasi tanpa mengaburkan identitas iman

Msgr. Nazir-Ali mengingatkan bahwa warisan bersama sebelum Reformasi abad ke-16 tetap menjadi landasan penting yang tidak dapat dihapus begitu saja. Perpecahan yang terjadi justru menjadi undangan bagi umat Katolik untuk semakin memperjelas dan meneguhkan identitas iman mereka sendiri.

Umat Katolik diimbau waspada terhadap skisma baru Anglikan

Agung
Scroll to Top