Uskup California bebaskan umat Katolik dari misa di tengah ketakutan razia imigrasi

Uskup California bebaskan umat Katolik dari misa di tengah ketakutan razia imigrasi

Di tengah ketegangan razia imigrasi yang meningkat di California, Uskup Alberto Rojas dari Keuskupan San Bernardino mengambil langkah luar biasa dengan mengeluarkan dekrit yang membebaskan umat Katolik dari kewajiban menghadiri misa. Keputusan ini mencerminkan keprihatinan gereja terhadap keselamatan dan kesejahteraan jemaatnya yang mungkin menghadapi ancaman penangkapan imigrasi.

Dekrit pengecualian kewajiban misa karena ketakutan razia imigrasi

Pada Selasa lalu, Uskup Alberto Rojas secara resmi mengumumkan dekrit yang jarang terjadi dalam sejarah gereja Katolik Amerika. Dekrit tersebut menyatakan bahwa semua anggota umat beriman di Keuskupan San Bernardino yang tidak dapat menghadiri misa Minggu atau misa pada hari raya wajib karena ketakutan yang nyata terhadap tindakan penegakan imigrasi, dibebaskan dari kewajiban ini.

Keuskupan San Bernardino merupakan keuskupan terbesar keenam di Amerika Serikat, melayani sekitar 1 juta umat Katolik di kabupaten San Bernardino dan Riverside. Dekrit ini muncul sebagai tanggapan langsung terhadap pembelaan Katolik terhadap penegakan hukum imigrasi yang semakin intensif.

Dalam pernyataannya, Uskup Rojas menjelaskan, “Dalam mengeluarkan dekrit ini, saya dipandu oleh misi Gereja untuk merawat kesejahteraan spiritual semua yang dipercayakan kepada perawatan saya, terutama mereka yang menghadapi ketakutan atau kesulitan.” Meskipun membebaskan dari kewajiban hadir, beliau tetap mendorong jemaatnya untuk melakukan praktik spiritual alternatif.

Dampak operasi imigrasi terhadap komunitas religius

Pengumuman Uskup Rojas terjadi sehari setelah otoritas imigrasi melakukan operasi di sebuah taman di Los Angeles. Reaksi masyarakat dan pemimpin politik terhadap razia tersebut sangat kuat. Walikota Los Angeles Karen Bass bahkan muncul di lokasi kejadian dan menuntut penghentian razia dengan tegas menyatakan, “Mereka perlu pergi, dan mereka perlu pergi sekarang juga!”

Beberapa keuskupan Katolik lain di Amerika Serikat telah mengambil langkah serupa. Pada Mei lalu, Keuskupan Nashville juga mengeluarkan dekrit serupa sebagai tanggapan terhadap aktivitas penegakan imigrasi. Dekrit tersebut menyatakan bahwa gereja-gereja tetap terbuka untuk menyambut dan melayani komunitas paroki mereka, namun tidak ada umat Katolik yang wajib menghadiri Misa pada hari Minggu jika hal tersebut membahayakan keselamatan mereka.

Pastor Katolik dan penulis James Martin memuji langkah keuskupan ini, menyebutnya sebagai “tanda dramatis bahwa bahkan gereja-gereja Katolik tidak lagi dianggap sebagai tempat yang aman.”

Uskup California bebaskan umat Katolik dari misa di tengah ketakutan razia imigrasi

Tanggapan berbagai pihak terhadap kebijakan pengecualian

Gubernur California Gavin Newsom, yang telah mengkritik keras kebijakan imigrasi pemerintah, berkomentar di platform X, “Kebebasan beragama? Tidak di Amerika Donald Trump. Orang-orang sekarang harus memilih antara iman mereka dan kebebasan mereka.” Beliau menyatakan bahwa dekrit ini merupakan respons terhadap taktik penegakan imigrasi yang agresif, termasuk razia imigrasi di pengadilan dan ruang publik.

Berbagai tanggapan terhadap kebijakan pengecualian ini dapat dikelompokkan menjadi:

  • Dukungan dari kelompok hak-hak imigran dan pemimpin religius
  • Kritik dari pendukung kebijakan imigrasi ketat
  • Keprihatinan tentang dampak sosial dari ketakutan komunitas imigran
  • Pertanyaan tentang hubungan antara kebebasan beragama dan penegakan hukum

Juru bicara Gedung Putih menanggapi komentar Gubernur Newsom dengan mengingatkan bahwa Newsom sendiri pernah menutup gereja-gereja selama pandemi COVID-19. “Komunitas religius terpaksa terkunci di luar tempat ibadah mereka karena kebijakannya,” kata juru bicara tersebut kepada Fox News Digital.

Keuskupan Waktu Penerbitan Dekrit Alasan Utama
San Bernardino, CA Juli 2025 Ketakutan razia imigrasi
Nashville, TN Mei 2025 Aktivitas penegakan imigrasi

Biasanya, dekrit pengecualian semacam ini hanya dikeluarkan oleh uskup Katolik pada saat bencana alam, perang, atau peristiwa ekstrem lainnya. Fakta bahwa razia imigrasi kini dianggap sebagai situasi ekstrem menunjukkan tingkat keprihatinan yang tinggi di kalangan pemimpin gereja terhadap dampak kebijakan imigrasi terhadap komunitas mereka.

Agung
Scroll to Top