Uskup Denver James Golka merespons pertemuan Trump

Uskup berbisik doa di altar gereja bergaya gotik.

Pada 22 Oktober 2026, Uskup Agung Denver, James Golka, menghadiri pertemuan tiga jam di Gedung Putih bersama sejumlah uskup Katolik lainnya. Undangan itu datang dari White House Faith Office, bukan dari Konferensi Uskup Katolik Amerika Serikat (USCCB). Pertemuan ini mencakup topik-topik krusial bagi umat Katolik di seluruh negeri, dan diakhiri dengan doa singkat di Oval Office bersama Presiden Trump, yang dipimpin langsung oleh Uskup Golka.

Undangan tersebut muncul setelah pertemuan Juni sebelumnya, di mana para pemimpin agama menyampaikan kekhawatiran serius soal imigrasi, kebebasan beragama, dan visa pekerja keagamaan. Kemajuan nyata dicapai usai pertemuan itu, yang mendorong Uskup Golka untuk menerima undangan berikutnya. Meski begitu, ia tidak memutuskan dengan tergesa-gesa. “Saya tidak yakin harus berbuat apa,” akunya kepada Denver Catholic. “Di satu sisi, ini peluang besar. Di sisi lain, saya tahu orang bisa salah paham.”

Doa yang memicu kontroversi di kalangan umat Katolik

Video doa Uskup Golka menyebar luas setelah pemerintahan Trump mempostingnya dua belas hari sebelum pemilihan umum. Banyak pihak langsung menafsirkannya sebagai dukungan politik. Uskup Golka menegaskan hal sebaliknya. “Itu bukan niat saya,” katanya. “Para uskup Amerika mengajarkan bahwa Gereja tidak bisa mendukung kandidat atau partai mana pun. Saya berpegang pada prinsip itu.”

Reaksi yang muncul sangat beragam. Sebagian umat merayakannya, sebagian lain menerimanya sebagai panggilan Kristiani yang wajar, dan sebagian lagi merasa terluka. Uskup Golka mengakui beratnya situasi ini. “Saya sangat sedih bahwa ada yang terluka, dan bahwa ada orang yang sengaja menggunakan momen ini untuk menabur perpecahan,” ujarnya. Terkait ketegangan antara gerakan MAGA dan komunitas Katolik di Amerika Serikat, situasi ini memperlihatkan betapa rentannya posisi pemimpin Gereja di tengah pusaran politik.

Dalam pertemuan tiga jam itu, topik yang dibahas meliputi :

  • Visa pekerja keagamaan dan masalah imigrasi
  • Perlindungan kehidupan sejak dalam kandungan
  • Kebebasan beragama
  • Pilihan sekolah Katolik (school choice)

Uskup Golka tidak menyembunyikan fakta bahwa satu pertemuan tidak mengubah kebijakan. “Saya bisa menyampaikan apa yang diajarkan Gereja, dan saya akan mengatakan hal yang sama kepada presiden dari partai mana pun,” tegasnya.

Dampak nyata bagi umat Katolik Colorado dan tanggung jawab pastoral

Di balik perdebatan politik, ada kebutuhan konkret yang mendorong keterlibatan ini. Satu dari lima imam di Keuskupan Agung Denver bertugas dengan visa keagamaan, dan ribuan siswa belajar di sekolah Katolik yang terancam oleh kebijakan negara bagian. Mahkamah Agung AS masih mempertimbangkan apakah Colorado boleh mengecualikan keluarga Katolik dari program prasekolah universal.

Kelompok yang terdampak Isu utama
Imam dengan visa keagamaan Evaluasi ulang program visa oleh pemerintah federal
Keluarga imigran Ketakutan akibat penegakan hukum imigrasi
Siswa sekolah Katolik Eksklusi dari program prasekolah universal Colorado

Uskup Golka menegaskan bahwa Gereja harus membawa pesan yang sama kepada pemimpin dari kedua partai. Anak-anak yang belum lahir, keluarga imigran, dan kaum miskin semuanya butuh pembela. Ini bukan soal politik, ini soal martabat manusia. Ia juga mengingatkan tradisi doa bagi para pemimpin yang berakar jauh ke zaman Santo Paulus, yang dalam 1 Timotius 2 :1-2 meminta agar “permohonan, doa, syafaat, dan ucapan syukur dilakukan untuk semua orang, untuk raja-raja dan semua orang yang memegang kekuasaan.” Fransiskan atau tidak, Katolik atau tidak, mendoakan pemimpin negara tetap menjadi panggilan lintas zaman yang tidak boleh dipolitisasi.

Uskup Denver James Golka merespons pertemuan Trump

jose
Scroll to Top