Vatikan tolak usulan diakon perempuan setelah perdebatan bertahun-tahun

Vatikan tolak usulan diakon perempuan setelah perdebatan bertahun-tahun

Sebuah panel kepausan yang ditugaskan meneliti kemungkinan penunjukan perempuan sebagai diakon dalam Gereja Katolik Roma telah memberikan rekomendasi penolakan. Keputusan ini mengakhiri hampir satu dekade perdebatan teologis yang dimulai sejak era Paus Fransiskus dan dilanjutkan hingga kepemimpinan Paus Leo XIV. Komisi beranggotakan 12 orang, termasuk lima perempuan di dalamnya, menyatakan bahwa kemungkinan untuk menahbiskan perempuan sebagai diakon harus dikesampingkan untuk saat ini.

Meskipun diakon memiliki wewenang terbatas dibandingkan imam, mereka dapat berkhotbah, memimpin upacara pernikahan, pemakaman, dan baptisan. Posisi ini dianggap sebagai tingkat paling rendah dalam hierarki klerus, namun tetap memerlukan sakramen penahbisan. Para aktivis yang memperjuangkan kesetaraan gender dalam institusi keagamaan berharap bahwa Vatican akan membuka kesempatan ini bagi kaum perempuan.

Rekomendasi komisi kepada pimpinan Gereja

Kardinal Giuseppe Petrocchi, selaku presiden komisi, menyampaikan temuan panel kepada Paus Leo XIV melalui surat resmi. Dalam komunikasi tersebut, ia menjelaskan bahwa kajian lebih mendalam masih diperlukan sebelum mengambil keputusan final. Komisi tidak menutup kemungkinan revisi di masa mendatang, namun untuk periode saat ini, penahbisan perempuan sebagai diakon tidak direkomendasikan.

Alternatif yang diusulkan mencakup penciptaan peran kepemimpinan khusus bagi perempuan dalam struktur gereja. Panel menyarankan agar perempuan diberikan akses lebih luas ke berbagai pelayanan yang telah dilembagakan, serta dilibatkan dalam pusat-pusat pengambilan keputusan gerejawi. Pendekatan ini dianggap sebagai jalan tengah untuk mengakomodasi aspirasi kaum perempuan tanpa mengubah doktrin penahbisan yang ada.

Aspek Diakon Imam
Penahbisan Ya Ya
Memimpin Misa Tidak Ya
Berkhotbah Ya Ya
Membaptis Ya Ya

Reaksi dan perspektif berbagai pihak

Kate McElwee, direktur eksekutif Women’s Ordination Conference yang berbasis di Washington, menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan ini. Organisasi yang memperjuangkan hak perempuan untuk menjadi imam menilai bahwa Vatican terus menolak kesetaraan gender. McElwee menambahkan bahwa banyak perempuan Katolik kehilangan kesabaran dengan apa yang disebutnya sebagai “permainan menunda-nunda” dari pihak Vatican.

Di sisi lain, Susan Timoney dari Catholic University of America berpendapat bahwa waktu belum tepat untuk membuka diakonat bagi perempuan. Ia berpendapat bahwa peran diakon tidak dapat dipisahkan dari diskusi mengenai imamat, dan membuka peluang tersebut justru akan mengalihkan perhatian dari percakapan penting tentang peran perempuan dalam gereja.

Beberapa langkah yang telah diambil Vatican untuk meningkatkan keterlibatan perempuan meliputi :

  • Penunjukan biarawati untuk memimpin departemen administratif di Vatican
  • Pemberian tanggung jawab pengelolaan Vatican City State kepada perempuan
  • Peningkatan akses perempuan ke berbagai pelayanan institusional

Vatikan tolak usulan diakon perempuan setelah perdebatan bertahun-tahun

Konteks historis dan teologis perdebatan

Phyllis Zagano, pakar sejarah perempuan dalam Gereja Katolik dari Hofstra University, mengkritik keputusan komisi karena tidak memberikan argumen historis, teologis, dan antropologis yang kuat. Ia menganggap penolakan tersebut lebih mencerminkan bias budaya misoginistik yang masih tertanam dalam struktur Vatican.

Beberapa sejarawan gereja menunjukkan bukti bahwa perempuan pernah melayani sebagai diakon pada masa awal kekristenan, yang memperkuat argumen pendukung diakon perempuan. Paus Fransiskus membentuk dua komisi terpisah untuk meneliti sejarah ini, dengan komisi pertama didirikan pada 2016 dan yang kedua pada 2020. Temuan komisi pertama tidak pernah dipublikasikan, sementara hasil kerja komisi kedua baru diumumkan pada Desember 2025 atas permintaan Paus Leo XIV.

Paus Leo XIV sendiri dalam wawancara tahun ini menyatakan tidak berniat mengubah ajaran gereja mengenai penahbisan, namun tetap bersedia mendengarkan berbagai perspektif dan melanjutkan upaya pendahulunya dalam menunjuk perempuan ke posisi kepemimpinan.

Agung
Scroll to Top