AI sebagai alat kebajikan : respons Katolik terhadap klaim Anthropic tentang AI yang bermoral

Pria berdoa menyaksikan sosok cahaya terang di gereja katedral

Pada awal Maret 2026, sebuah konferensi akademik dua hari berlangsung di Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas di Roma, dikenal sebagai Angelicum. Tema yang diangkat cukup provokatif : “Kecerdasan Buatan : Alat untuk Kebajikan ?” Para frater Dominikan, profesor filsafat Katolik, dan peneliti AI berkumpul untuk membahas pertanyaan mendasar tentang moralitas teknologi modern.

Ketika kode etik Silicon Valley bertemu teologi Thomistik

Salah satu momen paling menarik terjadi ketika Pastor Jean Gové, koordinator Kelompok Riset AI Eropa di bawah Dikasteri Vatikan untuk Kebudayaan dan Pendidikan, membacakan kutipan dari panduan internal Anthropic. Perusahaan ini menyatakan bahwa model AI mereka, Claude, bertujuan menjadi “agen yang baik, bijaksana, dan berbudi luhur”, tanpa mendefinisikan istilah-istilah bermuatan etika tersebut. Pernyataan ini memancing tawa dari para hadirin.

Pastor Gové menjelaskan bahwa Anthropic adalah salah satu perusahaan AI terdepan yang paling serius mempertimbangkan etika dan keselamatan teknologi. Namun dari perspektif Thomistik, pendekatan ini tetap memiliki celah fundamental. Claude tidak memiliki definisi tentang kebaikan, tidak ada hierarki nilai, dan tidak ada tujuan akhir yang jelas ke mana tindakan baik diarahkan. “Apakah ini menjadikan Claude alat untuk kebajikan ? Tidak persis,” kata Pastor Gové. “Saya berharap ini menjadikan Claude alat yang lebih aman. Itu pun sudah sesuatu.”

Konteks ini penting, mengingat Paus Leo XIV menyayangkan masyarakat lebih menghargai teknologi, uang, dan sukses daripada Kekristenan, menjadikan AI salah satu fokus utama pontifikatnya sejak hari-hari pertama.

Perspektif Pandangan tentang AI dan kebajikan
Pastor Alejandro Crosthwaite AI bukan subjek moral; kebajikan hanya milik pribadi manusia
Pastor Jean Gové AI bisa menjadi alat lebih aman, bukan alat kebajikan sejati
Dr. Angela Knobel AI berpotensi menggantikan guru dan mentor, melemahkan pembentukan moral
Suster Catherine Droste AI memperburuk “efek zombie” dan keterputusan koneksi manusiawi

AI, pembentukan karakter, dan bahaya kenyamanan yang menipu

Pastor Alejandro Crosthwaite, profesor ilmu sosial di Angelicum, menegaskan bahwa kebajikan sejati membutuhkan akal budi yang diwujudkan dalam agen yang menentukan dirinya sendiri. Sebuah model bahasa besar hanya memprediksi pola statistik. Ia tidak mempertimbangkan, tidak memiliki kehendak, dan tidak memahami kebaikan sebagai tujuan. “Simulasi adalah peniruan epistemik,” katanya. “Kebajikan adalah kepemilikan ontologis.”

Pertanyaan yang lebih mendesak, menurutnya, bukan apakah AI bisa menjadi bermoral, melainkan jenis manusia seperti apa yang dibentuk oleh AI. Jika AI menggantikan pertimbangan bijaksana manusia, maka kebijaksanaan manusia itu sendiri akan melemah.

Dr. Angela Knobel dari Universitas Dallas memperingatkan bahwa algoritma dapat menghambat pembentukan kebiasaan bajik. Ia membandingkan AI dengan TikTok : platform yang dirancang untuk melacak perilaku pengguna, bahkan jeda sekilas pada konten tertentu, lalu memperkuat paparan yang sama. Berikut risiko utama yang ia identifikasi :

  • Menggantikan peran guru dan mentor dalam pembentukan moral
  • Menciptakan kenyamanan yang menghalangi pertumbuhan intelektual
  • Melemahkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif

“AI lebih dekat ke opiat,” katanya, “yang membutuhkan kehati-hatian ekstrem dalam penggunaannya.”

Suster Catherine Droste, teolog dari Angelicum, menambahkan dimensi relasional. Ia menyebut “efek zombie” : manusia yang terserap perangkat digital hingga kehilangan kepekaan terhadap sesama. AI memperburuk fenomena ini karena mengurangi bahkan koneksi manusiawi yang ada di media sosial konvensional. Meski demikian, ia mengakui bahwa AI bisa digunakan secara bijaksana dalam konteks tertentu, asalkan kebijaksanaan (prudence) sudah ada sebelumnya dalam diri pengguna.

AI sebagai alat kebajikan : respons Katolik terhadap klaim Anthropic tentang AI yang bermoral

Rian Pratama
Scroll to Top