James Talarico, kandidat Senat AS dari Texas, kini berada di pusat kontroversi nasional. Bukan karena ia menyerang lawan, melainkan karena ia mengutip Injil secara harfiah. Media sayap kanan Amerika menyebutnya “demonik” dan “penghujat” hanya karena ia membacakan ayat-ayat dari Matius 22 dan Matius 25 dalam kampanyenya. Paradoks ini layak dicermati.
Talarico maju ke Senat dengan platform yang oleh majalah The New Yorker digambarkan sebagai “pada dasarnya Perjanjian Baru.” Satu pembawa acara Newsmax bahkan menuduhnya mengutip ayat Alkitab palsu, padahal ayat-ayat tersebut adalah dua perintah utama Yesus : kasihi Allah dan kasihilah sesamamu manusia, serta perintah memberi makan yang lapar, menyembuhkan yang sakit, dan menyambut orang asing.
Ketika kutipan Yesus dianggap berbahaya
Apa yang sesungguhnya membuat kelompok Kristen kanan Amerika panik ? Dalam wawancaranya bersama Stephen Colbert, Talarico menyatakan sesuatu yang sederhana namun mengguncang : Yesus tidak pernah menyebut aborsi atau pernikahan sesama jenis, dua isu yang selama puluhan tahun dijadikan senjata utama oleh kelompok Kristen kanan. Yang Yesus katakan, dalam Matius 25 dengan kata-kata yang jelas, adalah bahwa kita akan dihakimi berdasarkan perlakuan kita terhadap yang lapar, yang sakit, orang asing, dan yang dipenjara.
Di sebuah rapat umum di Lubbock, Texas, Talarico menyatakannya tanpa ragu : “Politik hanyalah kata lain untuk cara kita memperlakukan sesama.” Ini bukan retorika baru. Inilah inti Khotbah di Bukit, yang selama dua ribu tahun telah menantang setiap kekuasaan yang mencoba memanfaatkan agama sebagai legitimasi.
Tradisi ini punya akar yang dalam. Perhatikan beberapa tokoh yang berjalan di jalur yang sama :
- Dorothy Day membangun gerakan Catholic Worker berdasarkan prinsip ini
- Martin Luther King Jr. mengkhotbahkannya dari Birmingham saat dipenjara
- Uskup Episkopal Mariann Budde berdiri di depan Presiden Trump dan memintanya berbelas kasihan, lalu disebut “radikal”
- Para pendeta ditangkap saat mendatangi pusat penahanan imigrasi ICE
Semuanya mengutip Yesus. Semuanya mendapat serangan.
Demokrasi dan kekristenan : taruhan yang lebih besar
Serangan terhadap Talarico bukan sekadar soal satu kandidat Senat. Ini adalah pertarungan lama, lebih dari 50 tahun, tentang siapa yang berhak mendefinisikan kekristenan sejati di ruang publik Amerika.
| Kekristenan progresif | Kekristenan kanan |
|---|---|
| Fokus pada Matius 25 : melayani yang lemah | Fokus pada dua isu : aborsi dan pernikahan sesama jenis |
| Politik sebagai bentuk kasih kepada sesama | Politik sebagai alat mempertahankan kekuasaan budaya |
| Inklusif tanpa batas demografis | Eksklusif berdasarkan koalisi tertentu |
Jonathan Rauch, yang mendeskripsikan dirinya sebagai “ateis homoseksual Yahudi” dan menulis buku Cross Purposes : Christianity’s Broken Bargain with Democracy, melihat ancaman ini lebih jernih dari banyak orang Kristen sendiri. Ia menulis bahwa kekristenan adalah dinding penopang demokrasi; jika ia runtuh, institusi demokratis ikut tertekan.
Yang terjadi hari ini bukan sekadar kegagalan bertahap. Ini terasa seperti pembongkaran yang disengaja. Ketika agama digunakan sebagai fasad untuk melegitimasi kebijakan deportasi massal, pengabaian terhadap kemiskinan, dan pengucilan kelompok tertentu, Injil bukan lagi kabar baik, melainkan instrumen kontrol.
Talarico tidak sendirian. Semakin banyak komunitas iman yang memilih untuk merebut kembali pesan Injil yang autentik, bukan karena alasan politik, melainkan karena mereka membaca teksnya sampai tuntas. Kelompok Kristen kanan boleh menyebut itu demonik. Yesus menyebutnya kerajaan surga.
- Frank Turek : Alien tidak akan mengubah Kekristenan - 19 Juni 2026
- JD Vance : Katolik paling berpengaruh Amerika - 19 Juni 2026
- Teologi tempat : kebutuhan khusus, bukan platitude - 17 Juni 2026




