Pada 2019, seorang pria asal Appalachia berdiri di kapel kecil yang dipimpin biarawan Dominikan di Cincinnati. Ia menerima baptisan dan komuni pertamanya sebagai Katolik Roma. Dalam keheningan upacara itu, ia mengaku mendengar suara neneknya yang telah tiada berbisik : “Time to shit or get off the pot.” Pria itu adalah JD Vance, kini Wakil Presiden Amerika Serikat dan, menurut pengakuannya sendiri dalam memoar terbarunya Communion : Finding My Way Back to Faith, pejabat Katolik tertinggi di pemerintahan AS saat ini.
Perjalanannya menuju iman ini jauh dari lurus. Masa kecilnya diwarnai kekacauan : ibu yang berjuang melawan kecanduan, ayah yang melepaskan hak asuh saat Vance berusia enam tahun, dan neneknya yang menjadi pelabuhan. Vance bertumbuh di lingkungan Kristen Protestan yang lebih bersifat kultural daripada devosional. Menurutnya, gereja justru lebih sering dihadiri kalangan berpendidikan dan berpenghasilan tinggi, bukan komunitas miskin di sekitarnya. Kekristenan bagi kebanyakan orang yang dikenalnya hanyalah “penanda identitas”, bukan komitmen hidup.
Dari ateis marah hingga misa Dominikan
Remaja Vance sempat terpikat Pentekostalisme ayah kandungnya, sebelum berbalik arah secara drastis. Ia merasakan lingkungan itu anti-intelektual dan apokaliptik. Setelah bertugas di Irak pada 2006, ia menulis bahwa dirinya tidak lagi menjadi Kristen dalam arti apapun yang nyata. Di Yale Law School, ia menyebut diri “ateis yang marah”, terinspirasi argumen Christopher Hitchens dan gelombang penulis anti-agama era 2000-an.
Titik baliknya datang dari pertemuan tak terduga dengan Peter Thiel, investor ventura yang ia deskripsikan sebagai “mungkin orang paling cerdas yang pernah saya temui”, namun secara terbuka mengidentifikasi diri sebagai Kristen. Realitas itu menghancurkan skema sederhana Vance : bahwa orang bodoh beragama dan orang cerdas ateis. Dari sana, rasa ingin tahu tumbuh pelan-pelan menjadi keyakinan. Dua friar Dominikan, Rm. Dominic Legge dan Rm. Henry Stephan, keduanya akademisi yang meninggalkan karier sekuler gemilang, membimbing konversinya. Ia memilih Agustinus dari Hippo sebagai santo pelindungnya, teolog yang memandang sejarah sebagai pertarungan spiritual antara kota Tuhan dan kota manusia.
Bagi mereka yang penasaran apa yang sesungguhnya hilang ketika seseorang meninggalkan Katolik, kisah Vance menawarkan cermin yang menarik dari arah sebaliknya.
Iman, kekuasaan, dan kontradiksi seorang kandidat presiden
Pengaruh Katolik dalam politik konservatif Amerika bukan fenomena baru. William F. Buckley Jr., arsitek intelektual gerakan kanan modern, adalah Katolik devout. Hari ini, enam dari sembilan hakim Mahkamah Agung AS beragama Katolik, meski hanya sekitar 20% warga Amerika yang mengidentifikasi diri demikian. Berikut gambaran pergeseran teologis di kalangan klerus Katolik AS :
| Periode ordinasi | Klerus identifikasi liberal |
|---|---|
| 1980–1989 | 40% |
| 2020–sekarang | 11% |
Vance tidak bebas dari kontradiksi. Ia berselisih dengan Paus Fransiskus soal kebijakan imigrasi, lalu beradu pandang dengan Paus Leo soal sikap anti-perang. Soal aborsi, ia pernah tampak keras, lalu mundur ketika pemerintahan Trump menyadari kebijakan itu tidak populer. Bukunya menyebutnya soal prudence, kebijaksanaan praktis. Kritikus menyebutnya kalkulasi politik.
Survei menunjukkan bahwa konversi tingkat tinggi seperti Vance tetap anomali statistik. Pakar politik Ryan Burge menegaskan : “Gereja Katolik sebenarnya tidak terlalu pandai mengonversi orang.” Namun kebangkitan kecil memang terjadi, terutama di kalangan muda urban. Gereja Santo Yusuf di West Village, Manhattan, pada Minggu biasa bisa dipadati ratusan jemaat berusia rata-rata 25 tahun, sebagian duduk di lantai.
Jika Vance maju dalam pemilihan presiden 2028 dan menang, ia akan menjadi presiden Katolik ketiga dalam sejarah AS, dan yang pertama dari Partai Republik. Pertanyaannya bukan lagi apakah imannya nyata, melainkan bagaimana ia akan menggunakannya di Oval Office.
- Frank Turek : Alien tidak akan mengubah Kekristenan - 19 Juni 2026
- JD Vance : Katolik paling berpengaruh Amerika - 19 Juni 2026
- Teologi tempat : kebutuhan khusus, bukan platitude - 17 Juni 2026




