Dua puluh lima tahun berlalu sejak serangan teroris 11 September 2001 merenggut hampir 3.000 nyawa di New York dan Washington. Bagi keluarga Katolik yang kehilangan orang-orang tercinta hari itu, iman bukan sekadar penghiburan, melainkan tali penyelamat yang nyata.
Joseph Connor, kini berusia 60 tahun, berdiri di kantor lantai 36-nya ketika pesawat menghantam Menara Utara World Trade Center. Ia merasakan getarannya sebelum mendengarnya. Saat lembaran kertas kantor berjatuhan dari gedung yang terbakar, satu nama langsung melintas di benaknya : Steven Schlag, sepupunya, seorang pedagang obligasi di Cantor Fitzgerald yang bekerja di salah satu menara itu. Steven meninggalkan seorang istri dan tiga anak.
Yang membuat Connor tidak hancur sepenuhnya adalah pengalaman yang sudah ia kenal sebelumnya. Ayahnya, Frank Connor, tewas pada 24 Januari 1975 dalam pengeboman di Fraunces Tavern, Manhattan, dilakukan oleh kelompok separatis Puerto Riko FALN. Frank berusia 33 tahun saat itu, dan Joseph baru saja merayakan ulang tahun kesembilannya. Kehilangan ganda itu membentuk fondasi imannya, bukan menghancurkannya.
Doa sebagai titik balik : kesaksian para penyintas
Jean Schlag Nebbia, adik perempuan Steven yang kini tinggal di Naples, Florida, menghabiskan tiga bulan pertama setelah serangan dengan menyaksikan rekaman siaran berita secara obsesif, mencari-cari wajah saudaranya di antara orang-orang yang berjatuhan dari gedung. Suaminya akhirnya menyampaikan saran dari rekan kerjanya : “Serahkan ini ke tangan Tuhan.”
“Saat ia mengucapkan kata-kata itu, saat itulah aku mulai hidup lagi,” kata Nebbia kepada OSV News. Ia tidak pernah menyalahkan Tuhan. Baginya, serangan itu adalah akibat pilihan buruk manusia, bukan kehendak Ilahi. Dua belas tahun pendidikan Katolik memberinya fondasi yang tidak goyah bahkan di tengah duka terdalam.
Vera Murphy Trayner menghadapi kehilangan serupa. Suaminya, Patrick Murphy, wakil presiden teknologi di Marsh McLennan, berada di lantai 97 Menara Pertama saat pesawat menghantam. Departemennya baru pindah ke sana beberapa bulan sebelumnya. Trayner mendorong kereta bayi anaknya pulang dari taman kanak-kanak sambil berdoa rosario dengan sungguh-sungguh.
“Aku berdoa dan berdoa dan berdoa agar Patrick menemukan jalan keluar. Itulah doa pertamaku yang tidak dijawab,” katanya.
Trayner, alumni Boston College yang diasuh Yesuit, tidak menyerah. Ia mengandalkan Roh Kudus, Bunda Maria, dan para kudus, terutama Yohanna dari Arc, untuk melewati setiap cobaan besar. Ia menikah lagi pada 2006 dan kini bekerja sebagai konselor perguruan tinggi di Tampa.
| Nama | Hubungan dengan korban | Bentuk iman yang diandalkan |
|---|---|---|
| Joseph Connor | Sepupu Steven Schlag | Misa rutin, putra imam Agustinian |
| Jean Schlag Nebbia | Adik Steven Schlag | Penyerahan total kepada Tuhan |
| Vera Murphy Trayner | Istri Patrick Murphy | Doa rosario, devosi kepada para kudus |
Pergulatan dengan pengampunan 25 tahun kemudian
Nebbia mengaku mulai bergulat dengan pertanyaan yang sulit : bagaimana memaafkan para teroris itu ? “Itu bukan tugasku,” katanya spontan, lalu langsung mempertanyakan dirinya sendiri. Pergulatan ini bukan tanda kelemahan iman, melainkan tanda bahwa iman itu hidup dan terus bekerja.
Connor menawarkan perspektif yang lebih damai. Ia tidak mengerti mengapa Steven dan 3.000 orang lainnya harus pergi, tapi ia percaya Tuhan punya alasan. Putranya yang menjadi biarawan Agustinian membantu Connor memahami lebih dalam arti menjadi Katolik sejati.
- Jangan menumbuhkan kebencian, pesan nenek Connor yang selalu ia ingat
- Menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan membuka jalan menuju pemulihan
- Iman komunitas membentuk ketahanan yang tidak bisa dibangun sendirian
Bagi para keluarga ini, peringatan 25 tahun bukan sekadar ritual. Ini momen untuk mengakui bahwa iman dalam doa dan komunitas Katolik masih terus bekerja, jauh melampaui tanggal di kalender.
- Faith dalam doa umat Katolik 25 tahun usai - 8 September 2026
- Pengungsi agama : Administrasi Trump nol penempatan - 5 September 2026
- Salib untuk Katolik Queer : Panduan Spiritual - 31 Agustus 2026




