Lebih dari 21 juta orang meninggalkan Gereja Katolik di Prancis, Italia, Spanyol, dan Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir. Angka ini bukan spekulasi — ia berasal dari analisis terbaru Pew Research Center, dipublikasikan pada 23 April 2026, yang menyurvei 24 negara di lima kawasan dunia. Hasilnya cukup mengejutkan : Katolisisme kehilangan lebih banyak anggota daripada yang berhasil diraih di 21 dari 24 negara yang diteliti.
Data Pew menunjukkan pola yang konsisten. Mereka yang meninggalkan Katolisisme cenderung beralih ke Protestantisme atau melepaskan identitas agama sepenuhnya — fenomena yang disebut disaffiliation. Sebaliknya, mereka yang keluar dari Protestantisme hampir selalu menjadi “tidak beragama” — ateis, agnostik, atau sekadar tidak mengidentifikasi diri dengan kelompok mana pun.
Negara-negara dengan penurunan dan retensi anggota Katolik
Tidak semua negara mengalami krisis yang sama. Polandia, Filipina, dan Italia masih menjadi basis terkuat Katolisisme global. Di Polandia, 96% penduduk dibesarkan sebagai Katolik, dan 92% masih mengidentifikasi diri demikian saat dewasa. Filipina menunjukkan tren serupa : dari 88% yang dibesarkan Katolik, 78% tetap bertahan hingga dewasa.
Namun gambarannya jauh berbeda di Eropa Barat. Spanyol memiliki 80% penduduk yang dibesarkan Katolik, tetapi hanya 45% yang masih mengaku Katolik saat dewasa. Prancis lebih dramatis lagi : dari 60% yang tumbuh dalam iman Katolik, hanya 34% yang bertahan. Italia pun tak luput — 89% dibesarkan Katolik, dan angkanya turun ke 67% pada usia dewasa, mencerminkan kerugian bersih 22 poin persentase.
| Negara | Dibesarkan Katolik (%) | Identifikasi dewasa (%) |
|---|---|---|
| Polandia | 96 | 92 |
| Filipina | 88 | 78 |
| Italia | 89 | 67 |
| Meksiko | 87 | 66 |
| Spanyol | 80 | 45 |
| Prancis | 60 | 34 |
| AS | 30 | 17 |
Amerika Serikat masuk dalam kategori yang memprihatinkan. Hanya 30% orang Amerika dibesarkan Katolik, dan angka itu menyusut ke 17% di kalangan dewasa. Kanada sedikit lebih baik : 39% dibesarkan Katolik, dengan 20% yang tetap mengidentifikasi diri demikian. Hungaria menjadi satu-satunya pengecualian dalam survei ini — negara satu-satunya di mana lebih banyak orang bergabung (5%) daripada yang pergi (2%).
Protestantisme tumbuh, dan faktor-faktor yang mendorong perpindahan iman
Berbeda dengan Katolisisme, Protestantisme mencatat pertumbuhan bersih di sejumlah negara, khususnya di Amerika Latin, Afrika Sub-Sahara, dan beberapa bagian Asia. Di Brasil, Kenya, Nigeria, dan Filipina, mantan Katolik lebih sering berpindah ke Protestantisme daripada meninggalkan agama sepenuhnya. Ghana mencatat populasi Protestan sebesar 62%, sementara Kenya 55%.
Beberapa faktor mendorong tren perpindahan ini :
- Sekularisasi yang mempercepat disaffiliation di Eropa Barat
- Pertumbuhan gereja-gereja Protestan evangelikal di Amerika Latin
- Ketidakpuasan terhadap institusi Gereja Katolik
- Pernikahan lintas iman yang mendorong perpindahan identitas agama
Pew juga menegaskan bahwa sangat sedikit orang dewasa yang masuk Katolisisme setelah dibesarkan dalam agama lain. Di Italia, hanya 1% yang tidak dibesarkan Katolik kemudian bergabung — sementara 22% meninggalkan Gereja. Ini gambaran yang perlu dibaca secara kritis oleh para pemimpin Gereja.
Menariknya, di Prancis pada awal 2026, lebih dari 21.000 orang dibaptis dewasa dalam Misa Paskah — sebuah rekor baru yang mengindikasikan bahwa meski angka agregat turun, ada segmen kecil yang justru bergerak menuju Gereja. Bagi mereka yang ingin memahami dinamika internal umat, studi Pew tentang sikap umat Katolik yang rajin menghadiri misa terhadap perubahan dalam Gereja memberikan lapisan analisis yang sangat relevan dengan tren ini.
- Doktrin neraka : mengapa kita membutuhkannya - 30 April 2026
- Katolisisme kehilangan lebih banyak anggota daripada mendapat di AS dan negara lain - 28 April 2026
- Pengikut MAGA lebih mengikuti gereja Trump daripada Kekristenan sejati - 25 April 2026




