Nasionalisme Kristen tiba di Britania : analisis mendalam

Pria berpakaian formal membaca buku di gereja katedral bergaya gotik

Nasionalisme Kristen di Britania bukan lagi sekadar bisikan dari sudut-sudut gelap internet. Gerakan ini merambah ke pusat panggung politik dengan kecepatan yang mengejutkan banyak pengamat. James Orr, seorang don Cambridge yang kini menjabat sebagai kepala kebijakan partai Reform UK milik Nigel Farage, pernah melontarkan pertanyaan yang tak biasa dalam sebuah podcast : “Bisakah kita masih memiliki etos jika kita tidak memiliki etnos ?” Pertanyaan itu merangkum segalanya.

Reform UK bukan sekadar partai protes. Di dalamnya, sebuah argumen sedang berkembang : Kekristenan harus menjadi fondasi tatanan nasional baru Britania. Danny Kruger, seorang anggota parlemen yang membelot dari Partai Konservatif pada September 2025 untuk bergabung dengan Reform UK, berbicara terang-terangan : “Negara kita berakar pada Kekristenan,” dengan kebebasan yang bersumber dari gagasan Kristen tentang martabat moral absolut. Bukan sekadar warisan budaya — melainkan cetak biru ideologis.

Infrastruktur ideologi : dari Amerika ke Inggris

Paralel dengan Amerika Serikat sangat mencolok. Di sana, nasionalisme Kristen berkembang berkat pemisahan gereja dan negara yang hampir mutlak, menciptakan pasar keyakinan yang kompetitif. Gereja-gereja bersaing seperti bisnis, menawarkan komunitas, identitas, dan keselamatan dalam satu paket. Sosiolog Philip Gorski telah mendokumentasikan bagaimana teologi perjanjian antara bangsa dan Tuhan — warisan Puritan, Rekonstruksionis Kristen abad ke-20 — membentuk narasi bahwa Amerika adalah bangsa terpilih yang menyandang misi providensial.

Pete Hegseth, mantan pembawa acara Fox News yang kini menempati posisi menteri, menulis dalam bukunya tahun 2020 American Crusade : “Kita orang Kristen perlu mengangkat pedang Amerikanisme tanpa permintaan maaf.” Ini bukan teologi — ini nasionalisme berpakaian salib. Ironisnya, pengikut MAGA lebih mengikuti gereja Trump daripada Kekristenan sejati, sebuah pola yang kini mulai terbaca pula di Britania.

Hubungan lintas Atlantik ini bersifat personal. Orr dikenal sebagai “British Sherpa” J.D. Vance — sebutan Vance sendiri. Ada upaya sadar untuk mentransposisi apa yang terjadi di AS ke tanah Inggris.

Aspek Nasionalisme Kristen AS Versi Britania (Reform UK)
Hubungan gereja-negara Pemisahan ketat, pasar keyakinan bebas Gereja negara (Church of England)
Orientasi utama Doktrin dan proselitisasi aktif Warisan budaya dan identitas etnis
Tokoh kunci Hegseth, Cruz, Wilson Orr, Kruger, Goodwin, Farage

Etnisitas, ras, dan batas-batas keanggotaan nasional

Matt Goodwin, mantan ilmuwan politik yang kini berpolitik bersama Reform UK, menulis dalam bukunya Suicide of a Nation bahwa “inti etnis dan budaya suatu bangsa adalah yang menopangnya.” Ia memperingatkan bahwa tidak semua orang yang merasa “Inggris” memiliki koneksi emosional yang sama terhadap identitas, sejarah, dan lanskap negeri ini.

Di sinilah perbedaan krusial muncul antara dua versi nasionalisme ini :

  • Di AS, identitas etnis sering menyamarkan kekhawatiran tentang kemurnian rasial
  • Di Britania, ras dipandang sebagai indikator loyalitas etnis, bukan penentu tunggal
  • Imbasnya : Muslim Britania secara sistematis dikecualikan dari “Britishness” sejati
  • Sementara Church of England justru semakin diisi jemaat non-kulit putih dan imigran

Buku Tom Holland, Dominion, hampir selalu ada dalam daftar bacaan kelompok ini. Holland berpendapat bahwa pengaruh Yesus pada peradaban modern adalah fakta sejarah. Bagi beberapa pembacanya, itu berarti lebih jauh : mendekode DNA nasional Inggris. Perbedaan antara historiografi dan ideologi itu tipis — dan di situlah bahayanya paling nyata.

Nasionalisme Kristen tiba di Britania : analisis mendalam

jose
Scroll to Top