Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan peringatan serius mengenai upaya terkoordinasi untuk merusak hubungan antara komunitas Kristen dan Yahudi di Amerika Serikat. Dalam acara di Jerusalem yang dihadiri Pastor Paula White-Cain, penasihat spiritual Presiden Donald Trump, Netanyahu menegaskan bahwa kemitraan yang mempromosikan nilai-nilai Yudeo-Kristen sedang menghadapi tantangan berat.
Menurut Netanyahu, kampanye global ini bertujuan memutarbalikkan kebenaran tentang peran Israel sebagai pelindung komunitas Kristen di Timur Tengah. Israel kini digambarkan sebagai ancaman bagi umat Kristen, padahal kenyataannya sangat berbeda. Wilayah ini menjadi satu-satunya tempat di kawasan tersebut dimana komunitas Kristen dapat berkembang dengan aman.
Realitas komunitas Kristen di wilayah Israel
Netanyahu menunjukkan perbedaan mencolok antara kondisi umat Kristen di berbagai wilayah. Nazareth menjadi contoh nyata dimana kehidupan Kristen terlihat terbuka dan berkembang pesat. Sebaliknya, Bethlehem mengalami penurunan drastis populasi Kristen dari 80% menjadi kurang dari 20% setelah Israel mundur dan Otoritas Palestina mengambil alih kendali.
Perubahan ini menunjukkan pentingnya perlindungan yang diberikan Israel terhadap minoritas agama. Pastor John Hagee, pendiri Christians United for Israel (CUFI), menjelaskan bahwa Zionisme Kristen menjadi tulang punggung dukungan Amerika terhadap Israel. Mereka yang membenci Israel memahami bahwa aliansi Yahudi-Kristen menghalangi tujuan mereka untuk menghancurkan negara tersebut.
| Wilayah | Populasi Kristen Sebelumnya | Populasi Kristen Saat Ini | Status Perlindungan |
|---|---|---|---|
| Nazareth | Mayoritas | Berkembang | Dilindungi Israel |
| Bethlehem | 80% | Kurang dari 20% | Di bawah Otoritas Palestina |
Propaganda anti-Israel dan pengaruhnya terhadap persepsi publik
Netanyahu mengkritik keras media dan influencer yang dibeli yang menyajikan Israel sebagai musuh agama Kristen di televisi Amerika. Ia menyebutnya sebagai “kebodohan, kebohongan, dan pengkhianatan terhadap kebenaran”. Kampanye ini didukung oleh miliaran dollar yang diinvestasikan para aktor anti-Israel untuk mempengaruhi pikiran generasi muda di kampus-kampus Amerika.
Dr. Mike Evans, pendiri Friends of Zion Heritage Center di Jerusalem, menjelaskan bahwa anti-Zionisme adalah antisemitisme. Sistem kepercayaan ini menganggap keberadaan Israel sebagai tidak sah, padahal mereka tidak mengatakan hal serupa tentang negara lain di dunia, tidak peduli seberapa berdarah asal-usulnya.
Beberapa insiden terkini yang dimanfaatkan untuk kampanye anti-Israel meliputi:
- Tuduhan pemukim ekstremis menargetkan gereja bersejarah di Tepi Barat
- Klaim IDF sengaja menyerang gereja di Gaza
- Penyebaran narasi yang menguntungkan teroris Palestina
Tantangan generasi muda dan upaya mempertahankan aliansi
David Parsons dari International Christian Embassy Jerusalem menekankan bahwa dukungan Kristen terhadap Israel telah berlangsung berabad-abad dan akan terus ada setelah para pemimpin saat ini tiada. Namun, tantangan terbesar datang dari generasi muda Kristen yang tidak lagi membeli rasionalisasi yang sama seperti orang tua mereka.
Parsons menjelaskan bahwa banyak pendukung muda Israel evangelis tidak berada di universitas-universitas elit dimana mereka diracuni melawan Israel. Membawa orang Kristen muda untuk mengalami Israel secara langsung membantu menumbuhkan koneksi tersebut. Ketika melihat pencapaian luar biasa Israel, seperti operasi pager melawan Hezbollah dan kemenangan atas Iran dalam 12 hari, generasi muda akan terkesan dengan kreativitas dan kecerdikan Israel.
Evans juga menyoroti pentingnya mengajarkan pandangan dunia alkitabiah yang menganggap Israel sebagai tanah Alkitab. Ia mengingatkan bahwa gereja di Jerman pernah selaras dengan partai Nazi karena menolak pandangan dunia alkitabiah dan membeli teologi penggantian. Untuk mencegah pengulangan sejarah kelam ini, diperlukan kurikulum signifikan untuk mengajar gereja dan para pemimpinnya tentang hubungan yang benar antara Kristen dan Yahudi.




