Nick Fuentes, pengacara nasionalisme Kristen berusia 27 tahun, telah menjadi figur kontroversial yang menarik perhatian ribuan pemuda Katolik melalui acara streaming langsungnya yang ditonton setengah juta penonton. Dengan sejuta pengikut di platform X, ia membangun komunitas yang menyebut diri mereka “Groypers”, pengikut setia yang bahkan hadir di Gedung Putih pada 6 Januari 2021. Meski tidak terbukti memasuki gedung Capitol, komite penyelidik Kongres mengutip perannya dalam mempromosikan klaim tidak berdasar tentang pemilihan. Kemunculannya dalam podcast Tucker Carlson baru-baru ini memicu kontroversi ketika ia menyuarakan pandangan tentang komunitas Yahudi di Amerika, yang memicu tuduhan antisemitisme.
Pengaruh digital dan ajaran Katolik yang disalahgunakan
Fuentes memulai kariernya sebagai mahasiswa Boston University dengan streaming dari kamar asramanya. Setelah menghadiri reli Unite the Right di Charlottesville pada 2017, ia menerima ancaman dan memutuskan fokus pada program tayangan yang menggemakan pandangan anti-imigran Trump namun melangkah lebih jauh dengan memperingatkan tentang “genosida kulit putih” dan merayakan ide tentang “pemerintahan Taliban Katolik”. Platform digitalnya menampilkan foto-foto dengan kacamata hitam khasnya sambil menampilkan teks dari Pengakuan Iman Para Rasul, gambar Kristus, dan kutipan Kitab Suci.
Steven P. Millies, direktur Bernardin Center di Catholic Theological Union Chicago, menjelaskan bahwa Gereja Katolik sebagai institusi kuno memiliki struktur yang memungkinkan siapa pun mengambil identitas Katolik tanpa otoritas resmi. Hal ini menciptakan krisis otoritas di era digital, di mana Fuentes membingkai politik alt-right dengan bahasa tradisi Katolik untuk mempromosikan apa yang disebutnya sebagai “kembali ke tatanan moral Kristen”.
| Aspek | Fuentes | Ajaran Gereja Resmi |
|---|---|---|
| Imigrasi | Menentang keras imigrasi | Paus mendukung penerimaan migran |
| Hubungan Yahudi-Katolik | Menentang Nostra Aetate | Menegaskan warisan spiritual bersama |
| Otoritas | Platform digital independen | Hierarki episkopal tradisional |
Westley S., penggemar berusia 22 tahun yang dibaptis pada April lalu, mewakili generasi muda yang terpengaruh. Ia mengakui bahwa pandangan imigrasinya lebih sejalan dengan Fuentes daripada Vatikan, menolak keterbukaan Paus terhadap imigran. Fenomena ini menunjukkan bagaimana pemuda Katolik mencari identitas di tengah ketidakpastian nilai-nilai modern.
Respons gereja dan media Katolik terhadap ancaman ini
Montse Alvarado, presiden EWTN yang menjangkau 64 juta penonton, mulai memantau Fuentes lebih ketat setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ia menekankan kegagalan gereja dalam menyediakan suara yang “benar dan terbentuk dengan baik” tentang isu antisemitisme dan imigrasi yang mudah diakses pemuda. EWTN berencana meluncurkan layanan streaming baru pada Desember dengan cakupan berita yang diperluas untuk melawan narasi Fuentes.
Kardinal Blase Cupich dari Chicago mengakui kurang mengetahui tentang Fuentes namun menegaskan bahwa siapa pun yang merendahkan orang lain harus ditolak publik. Ia menunggu momen yang tepat untuk intervensi langsung, terutama jika Fuentes mulai menggunakan otoritas gereja untuk melegitimasi pandangannya. Beberapa langkah yang dapat diambil gereja meliputi :
- Mengembangkan platform digital yang menarik untuk pemuda Katolik
- Menyediakan pendidikan teologis tentang antisemitisme dan toleransi
- Melibatkan tokoh muda dalam dialog tentang iman dan politik
- Memperkuat pemahaman tentang dokumen Nostra Aetate
Robert P. George, profesor Princeton yang juga Katolik, mengundurkan diri dari dewan Heritage Foundation setelah presiden organisasi tersebut membela Carlson. Ini menunjukkan perpecahan di kalangan elit Katolik konservatif. Banyak katolik muda memiliki masalah antisemitisme yang mengkhawatirkan, sebuah realitas yang mengharuskan gereja bertindak cepat dan tegas untuk membimbing generasi masa depan dengan ajaran autentik yang menekankan kasih, bukan kebencian.




