Pada 1 Juli 2026, Persaudaraan Santo Pius X (SSPX) berencana mentahbiskan empat uskup baru di seminari mereka di Swiss, tanpa restu Paus Leo XIV. Langkah ini bukan kejutan. Ini adalah keputusan yang dipersiapkan berbulan-bulan, dengan pendaftaran peserta, pemesanan hotel di lebih dari selusin lokasi, dan bahkan penjualan paket wine edisi terbatas seharga 75 franc Swiss (sekitar Rp 1,3 juta) sebagai suvenir peristiwa bersejarah ini.
SSPX didirikan di Écône, Swiss, pada 1970 sebagai respons penolakan terhadap reformasi Konsili Vatikan II. Mereka menolak Misa dalam bahasa vernakular dan tetap mempertahankan ritus Latin tradisional. Pada 1988, pendiri mereka Uskup Agung Marcel Lefebvre mentahbiskan empat uskup tanpa izin paus, yang langsung berujung pada ekskomunikasi. Kini, hampir empat dekade kemudian, sejarah berulang.
Keempat uskup yang akan ditahbiskan adalah Pascal Schreiber (Swiss), Michael Goldade (Amerika Serikat), Michel Poinsinet de Sivry (Prancis), dan Marc Hanappier (Prancis). Vatikan sudah menegaskan bahwa tindakan ini merupakan “tindakan skismatik” dan “pelanggaran serius terhadap Tuhan” yang secara otomatis mengakibatkan ekskomunikasi bagi keempat uskup dan siapa pun yang melakukan ritus tersebut.
Argumen SSPX dan respons Paus Leo XIV
Superior SSPX, Rm. Davide Pagliarani, berargumen bahwa dua uskup yang tersisa dari tahbisan 1988 sudah tua dan tidak mampu melayani komunitas global mereka. Ia menyebut ini sebagai “keadaan darurat demi keselamatan jiwa”. Bagi SSPX, Gereja pasca-Vatikan II telah tersesat dari iman Katolik yang sejati, terjebak dalam liberalisme, modernisme, dan ekumenisme.
Berikut komposisi kekuatan SSPX saat ini, berdasarkan data internal mereka :
| Kategori | Jumlah |
|---|---|
| Imam | 733 |
| Seminaris | 264 |
| Saudara religius | 145 |
| Oblat | 88 |
| Suster religius | 250 |
Paus Leo XIV, meski tampak tidak terkejut, tetap menyayangkan keputusan ini. “Mereka menolak menerima elemen-elemen fundamental Gereja, termasuk beberapa poin Konsili Vatikan II. Saya menyesali pilihan itu, tapi kita harus melanjutkan,” katanya kepada para jurnalis. Vatikan sempat mengundang Pagliarani untuk pembicaraan setelah pengumuman tahbisan, namun negosiasi itu buntu karena perbedaan teologis yang sudah berlangsung 50 tahun.
Tradisionalisme versi baru yang melek digital
Massimo Faggioli, profesor teologi di Villanova University (almamater Paus Leo XIV), menyebut SSPX sebagai “Tradisionalisme 2.0”. Mereka membangun identitas keagamaan lewat branding digital yang masif, meski agenda mereka sendiri bersifat antemodern. Acara 1 Juli ini disiarkan langsung secara daring, berlangsung empat hari penuh, dan diorganisasi layaknya festival besar.
Reaksi dari kubu tradisionalis lain pun terpecah. Joseph Shaw, ketua Latin Mass Society of England and Wales, mengakui bahwa tahbisan ini sengaja dibuat sangat publik. Berbeda dengan ordinasi tak resmi kelompok pinggiran yang berlangsung di kamar hotel, SSPX melakukannya secara terbuka dan terorganisir. Luigi Casalini dari blog Messa in Latino menyebut tindakan ini “melanggar hukum secara serius”, sekaligus mengkritik Vatikan atas standar ganda : mengancam ekskomunikasi SSPX sementara masih bernegosiasi dengan uskup-uskup Jerman yang juga menyimpang dari doktrin resmi.
Yang menarik perhatian : beberapa hari sebelum upacara, SSPX mengirimkan surat pengakuan iman kepada Paus Leo XIV dan seluruh kardinal dunia. Mereka menegaskan bahwa pendekatan tradisionalis mereka adalah satu-satunya jawaban atas krisis zaman ini. Bagi Faggioli, ini bukan tentang kembali ke pelukan Roma. Ini tentang memonopoli identitas ultra-tradisionalis untuk generasi Katolik baru yang haus akan Misa Latin dan tidak keberatan berada di luar komunio dengan Roma.
- Warnock dan Talarico pimpin kebangkitan kristianitas progresif - 26 Juni 2026
- Grup tradisionalis SSPX tantang Paus Leo XIV - 26 Juni 2026
- Talarico “Hates Christianity” : audio terbaru muncul - 23 Juni 2026




