Pada pemilihan presiden 2024, 55% pemilih Katolik Amerika memberikan suaranya kepada Donald Trump, menurut Pew Research Center. Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah cerminan dari pergeseran moral yang nyata di dalam komunitas yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai Injil : kasih terhadap sesama, kerendahan hati, dan pembelaan terhadap kaum lemah.
Yang lebih mengejutkan, dukungan Katolik Latino terhadap Trump meningkat 17 poin persentase antara 2016 dan 2024, berdasarkan data dari Public Religion Research Institute. Banyak di antara mereka adalah imigran, atau anak imigran, yang kini mendukung kebijakan imigrasi paling keras dalam sejarah modern Amerika.
Ketika iman bertabrakan dengan pilihan politik
Gereja Katolik tidak pernah netral soal perlakuan terhadap orang miskin dan pendatang. Ensiklik Rerum Novarum yang diterbitkan Paus Leo XIII pada 1891 sudah menegaskan bahwa berkorban demi orang lain adalah “penawar paling pasti terhadap keangkuhan dunia.” Prinsip ini tidak berubah sejak abad ke-19. Yang berubah adalah perilaku sebagian besar pemilih Katolik Amerika.
Frankly, ada sesuatu yang sangat mengusik ketika melihat umat Katolik, yang setiap minggu membaca Injil tentang sambutan bagi orang asing, justru mendukung kebijakan deportasi massal. Survei Georgetown’s Center for Applied Research in the Apostolate pada Juni 2024 menunjukkan bahwa 43% responden Katolik mendukung penurunan tingkat imigrasi. Ironisnya, gereja-gereja Katolik Amerika dibangun oleh generasi imigran itu sendiri.
Berikut adalah beberapa isu utama yang mendorong pemilih Katolik ke arah MAGA dalam dua siklus pemilu terakhir :
- Kebijakan ekonomi dan inflasi
- Posisi terhadap aborsi
- Isu hak-hak transgender
- Sikap keras terhadap imigrasi ilegal
Namun kini, ada tanda-tanda perubahan. Pada 12 Agustus, Public Religion Research Institute merilis survei yang menunjukkan bahwa 62% umat Katolik memiliki pandangan negatif terhadap Trump, sementara 57% menentang pendekatannya terhadap imigrasi. Angka-angka ini membuka peluang besar menjelang pemilihan tengah 2026.
Pemilihan tengah 2026 : kesempatan untuk bertobat secara elektoral
Satu faktor baru yang tidak bisa diabaikan adalah Paus Leo XIV, kelahiran Chicago, yang secara terbuka membela para imigran tanpa dokumen dan mengkritik kebijakan luar negeri Amerika di Iran. Ketika pemerintahan Trump mengundangnya ke peringatan 250 tahun Amerika, Leo memilih menghabiskan 4 Juli di Lampedusa, pulau Italia yang menjadi pintu masuk ribuan pengungsi ke Eropa. Gestur itu berbicara lebih keras dari kata-kata mana pun.
| Indikator | Data | Sumber |
|---|---|---|
| Dukungan Katolik untuk Trump (2024) | 55% | Pew Research Center |
| Pandangan negatif Katolik terhadap Trump (2026) | 62% | Public Religion Research Institute |
| Approval rating Trump secara umum (2026) | ~33% | Reuters/Ipsos |
Para uskup Katolik Amerika bahkan mengizinkan umat untuk tidak menghadiri Misa akibat dampak razia imigrasi yang meluas. Ini bukan sekadar pernyataan pastoral. Ini adalah pengakuan bahwa kebijakan MAGA sedang menghancurkan komunitas gereja secara langsung.
Pertanyaannya bukan lagi apakah umat Katolik harus menolak Trump. Pertanyaannya adalah apakah penolakan itu akan terlihat di bilik suara November 2026. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa pertobatan sejati berarti “melakukan sesuatu yang lebih untuk menebus dosa.” Dalam konteks politik, itu artinya memberikan suara secara aktif melawan MAGA, bukan hanya berpaling dalam diam.
Menariknya, kelompok seperti Catholics for Catholics justru semakin erat berafiliasi dengan lingkaran kekuasaan Trump. Pilihan Catholics for Catholics menggelar gala doa mereka di Mar-a-Lago berbicara banyak tentang ke mana loyalitas kelompok itu sebenarnya tertuju. Umat Katolik yang benar-benar memegang nilai Injil harus mempertimbangkan ulang afiliasi semacam itu dengan serius.
- Vaksin agama Florida : Gereja Katolik tolak pengecualian - 28 Agustus 2026
- Gereja Katolik AS catat rekor konversi tertinggi - 26 Agustus 2026
- Gereja larang Katolik hormati Konfusius : sejarah - 22 Agustus 2026




