Pemimpin baru Katolik Bizantin Belarus di masa kritis

Pendeta Ortodoks mengenakan jubah merah emas di gereja bersejarah

Pada 14 September 2026, Vatikan mengumumkan pergantian kepemimpinan yang signifikan dalam komunitas Katolik Ritus Bizantin di Belarus. Paus Leo XIV menerima pengunduran diri Arkhimandritus Jan Sergiusz Gajek, berusia 77 tahun, yang telah memimpin komunitas ini sejak 1993. Penggantinya adalah Pastor Liavoncij Tumouski, berusia 53 tahun, anggota ordo Studite asal Polotsk, Belarus. Pergantian ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa.

Gereja Katolik Yunani Belarus termasuk yang terkecil di antara 23 Gereja Katolik Timur yang bersatu dengan Roma. Komunitas ini hanya memiliki sekitar 5.000 anggota di Belarus, ditambah ribuan lainnya di diaspora. Secara historis, akar gereja ini terhubung langsung dengan Persatuan Brest pada 1595-1596, ketika komunitas Ortodoks Timur di Persemakmuran Polandia-Lituania bergabung dengan Roma sambil mempertahankan liturgi Timur mereka.

Tekanan negara yang menggerus komunitas minoritas

Situasi komunitas ini memburuk secara drastis sejak pemilihan presiden Belarus 2020 yang kontroversial. Aleksandr Lukashenko mengklaim kemenangan di tengah tuduhan kecurangan luas, lalu mengandalkan Moskow untuk menekan gelombang protes. Kedekatan ini membawa konsekuensi langsung bagi komunitas keagamaan yang memiliki identitas di luar pengaruh Gereja Ortodoks Rusia.

Pada Desember 2023, Lukashenko menandatangani undang-undang yang mewajibkan seluruh organisasi keagamaan mendaftar ulang kepada negara. Berikut kronologi dampaknya terhadap paroki Katolik Bizantin :

  1. Juli 2024 : kewajiban pendaftaran ulang mulai berlaku untuk 16 paroki Ritus Bizantin.
  2. 2025 : pihak berwenang Brest menolak pendaftaran ulang tiga paroki di wilayah barat daya.
  3. April 2026 : Mahkamah Agung Belarus menguatkan keputusan pembubaran ketiga paroki tersebut.
  4. Juni 2026 : satu paroki di Orsha, wilayah Vitebsk timur laut, juga ditolak pendaftarannya.

Hasilnya, jumlah paroki terdaftar turun seperempat, dari 16 menjadi hanya 12. Wilayah Brest, tempat Persatuan Brest lahir lima abad lalu, kini menjadi titik gesekan paling sensitif. Ironisnya, komunitas Latin Katolik pun tak luput : setidaknya 17 imam kelahiran Polandia ditolak izin layanan mereka di Belarus.

Profil Tumouski dan beban kepemimpinan yang diwarisinya

Perbedaan paling krusial antara Gajek dan Tumouski bukan soal usia, melainkan kewarganegaraan. Gajek lahir di Polandia, sedangkan Tumouski lahir di Polotsk, Belarus, tepat di kawasan Vitebsk yang kini menjadi zona pengawasan ketat. Di tengah kebijakan pengusiran imam-imam asing, faktor ini bukan detail kecil.

Aspek Gajek Tumouski
Usia saat penunjukan ~44 tahun (1993) 53 tahun (2026)
Asal negara Polandia Belarus
Ordo Marian Fathers (M.I.C.) Studite (M.S.U.)
Lama kepemimpinan 33 tahun Mulai 2026

Tumouski membawa rekam jejak yang solid : prior biara di Polotsk (2003-2008), wakil dekan paroki Katolik Yunani Belarus (2004-2006), dan sejak 2022 memimpin pelayanan pastoral komunitas Belarus di Polandia. Pengalamannya di diaspora justru memberinya pemahaman dua sisi : realitas tekanan di dalam negeri dan kekuatan jaringan di luar perbatasan.

Tantangannya konkret dan berat. Ia harus menjaga vitalitas paroki-paroki yang masih terdaftar, sekaligus mencari cara kreatif mendampingi komunitas yang kehilangan status hukum mereka. Membangun relasi kerja yang efektif dengan otoritas negara, menjalin kontak dengan Gereja Ortodoks setempat, serta memanfaatkan sumber daya komunitas Latin Katolik yang lebih besar, semua itu harus dilakukan tanpa mengorbankan identitas khas Katolik Yunani Belarus. Untuk konteks yang lebih luas tentang dinamika Katolik dalam tekanan sosial-politik, memahami Katolisisme dalam berbagai konteks nasional memberikan perspektif yang berguna. Masa jabatan Tumouski dimulai dengan warisan tiga dekade Gajek dan tekanan yang belum pernah seberat ini.

Pemimpin baru Katolik Bizantin Belarus di masa kritis

Rian Pratama
Scroll to Top