Lebih dari 100 tentara Amerika Serikat telah melaporkan keluhan kepada Military Religious Freedom Foundation (MRFF) tentang komandan mereka. Keluhan ini menyebut penggunaan retorika agama ekstremis untuk menggambarkan serangan militer AS terhadap Iran. Beberapa komandan diduga menyatakan bahwa serangan itu adalah perang suci, dan bahwa Presiden Donald Trump “diurapi oleh Yesus untuk menyalakan api sinyal di Iran demi memicu Armageddon.” Mikey Weinstein, presiden MRFF, mengonfirmasi bahwa lembaganya dibanjiri laporan dari prajurit yang menyebut para komandan tampak euforia karena perang ini akan “membawa kembali Yesus versi mereka yang dipersenjatai.”
Retorika kekerasan serupa juga datang dari pejabat AS lainnya. Duta besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, memicu kontroversi diplomatik dengan menyatakan bahwa Israel memiliki klaim alkitabiah atas sebagian besar Timur Tengah. Marco Rubio menyebut pemerintah Iran dijalankan oleh “fanatik agama gila,” sementara Menteri Pertahanan Pete Hegseth menggambarkan Iran sebagai rezim yang terobsesi dengan “delusi Islam profetik.” Televangelis John Hagee bahkan mengklaim bahwa Rusia, Turki, dan “sisa-sisa Iran” akan menyerbu Israel sebelum dihancurkan Tuhan.
Eskatologi evangelis dan obsesi terhadap akhir zaman
Untuk memahami mengapa sebagian orang Kristen evangelis Amerika mendukung narasi ini, perlu diketahui apa yang dimaksud dengan eskatologi — teologi tentang akhir zaman. Sejarawan David Bebbington mendefinisikan empat ciri utama gerakan evangelis : keyakinan kuat pada Alkitab, kematian Yesus untuk menebus dosa, pengalaman pertobatan, dan aktivisme sosial.
Kelompok evangelis tertentu yang terhubung dengan politik MAGA dan nasionalisme Kristen kulit putih meyakini bahwa konflik di Timur Tengah adalah tanda dimulainya tindakan akhir Allah dalam sejarah. Mereka membaca kitab Wahyu secara harfiah dan percaya bahwa pemulihan Israel sebagai bangsa dan pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem akan mendahului kedatangan Yesus kedua kali. Trump dipandang sebagai sosok dominan yang dapat mempercepat penghakiman ilahi ini.
| Perspektif teologis | Tokoh utama | Pandangan tentang kematian Yesus |
|---|---|---|
| Evangelis protestan | J. I. Packer, John Stott | Pembayaran hukuman untuk dosa manusia |
| Non-evangelis | Horace Bushnell, J. Denny Weaver | Ekspresi kasih Allah, bukan syarat kekerasan |
Perbedaan interpretasi ini berdampak nyata pada sikap politik. Teolog John Piper dikecam sebagai “woke” hanya karena mengutip Imamat 19 :34 tentang mengasihi orang asing. Teolog Russell Moore mencatat bahwa beberapa pendeta dianggap menyebarkan “talking points liberal” hanya karena mengutip perintah Yesus untuk mengasihi musuh dari Khotbah di Bukit. Untuk memahami lebih dalam fenomena ini, baca juga mengapa orang Kristen MAGA bertindak tidak sesuai ajaran Kristiani.
Teologi kekerasan dan tanggung jawab moral umat Kristen
Riset menunjukkan bahwa keyakinan penebusan berbasis hukuman berkorelasi negatif dengan rasa tanggung jawab untuk mengurangi penderitaan di dunia. Ketika kekerasan dianggap sebagai alat penebusan ilahi, eskatologi pun cenderung bernuansa balas dendam. Pertanyaan-pertanyaan berikut perlu direnungkan oleh semua orang Kristen :
- Apakah Tuhan yang digambarkan dalam teologi ini sungguh mencerminkan kasih yang sejati ?
- Mengapa nada teologi ini menyerupai logika kekaisaran yang menghancurkan musuh ?
- Bagaimana Yesus bisa memerintahkan pengikutnya untuk mengasihi musuh jika Allah Bapa justru menghukum mereka ?
Debat dalam Gereja Presbyterian AS tahun 2012 tentang lirik himne mencerminkan ketegangan ini : apakah salib adalah tempat “murka Allah terpuaskan” atau “kasih Allah dimuliakan.” Umat Kristen di seluruh dunia perlu menolak teologi kekerasan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan inti kasih Allah yang sejati, yang tidak meninggalkan umat manusia tanpa harapan.




