Pastor James Martin baru-baru ini berkesempatan bertemu dengan Paus Leo XVI di Vatikan. Pertemuan 30 menit yang berlangsung pada 1 September 2025 itu memberikan wawasan berharga tentang pandangan pemimpin baru Gereja Katolik terhadap komunitas LGBTQ. Martin, yang sebelumnya juga terlibat dalam Sinode Uskup bersama Paus Leo, berbagi pengalamannya yang menyenangkan dan pesan-pesan penting dari pertemuan tersebut.
Pesan inklusif Paus Leo untuk umat katolik LGBTQ
Dalam pertemuannya dengan Pastor James Martin, Paus Leo XVI menekankan keinginannya untuk melanjutkan pendekatan keterbukaan yang telah dimulai oleh Paus Fransiskus. Pesan utama yang disampaikan adalah komitmen untuk menciptakan Gereja yang lebih inklusif dan menyambut semua orang, termasuk komunitas LGBTQ.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat “sinodalitas” yang menjadi pilar penting dalam kepemimpinan Gereja saat ini. Paus Leo meyakini bahwa proses mendengarkan dari berbagai kalangan, termasuk umat LGBTQ, merupakan bagian penting dalam membangun Gereja yang lebih terbuka dan inklusif.
“Pesan yang saya terima dari beliau dengan jelas adalah keinginan untuk melanjutkan pendekatan yang sama seperti yang telah dirintis Paus Fransiskus, yaitu keterbukaan dan penerimaan,” ungkap Martin. Hal ini juga tercermin dalam pidato pertama Paus Leo setelah pemilihannya yang menyebutkan sinodalitas sebagai “dimensi konstitutif” Gereja.
Meski isu LGBTQ menjadi perhatian Paus Leo, ada beberapa prioritas lain yang mendesak, seperti upaya perdamaian di Ukraina, Gaza, dan Myanmar. Martin memahami bahwa kemajuan dalam isu LGBTQ mungkin tidak secepat yang diharapkan beberapa pihak, namun ia yakin bahwa Paus “memahaminya” dan siap melanjutkan warisan keterbukaan Paus Fransiskus.
Lima langkah inklusivitas yang diusulkan Pastor Martin
Selama pertemuannya dengan Paus Leo, Pastor Martin menawarkan beberapa saran konkret tentang bagaimana keuskupan dan paroki dapat lebih menyambut umat katolik LGBTQ. Ia membingkai sarannya dalam lima langkah progresif yang dapat diterapkan di berbagai tingkat gereja :
- Mengakui (bahwa orang LGBTQ ada dan menjadi bagian dari Gereja)
- Mendengarkan (di semua tingkatan Gereja, sebagai bagian dari sinodalitas)
- Menyambut (dengan program pastoral khusus untuk katolik LGBTQ)
- Menginklusikan (dalam pelayanan paroki dan lainnya)
- Mengadvokasi (ketika terjadi insiden kekerasan, perundungan, atau pelecehan dalam komunitas)
Martin mencatat bahwa di beberapa keuskupan di seluruh dunia, mereka masih berada pada tahap pertama. Namun, ia juga menekankan bahwa pemimpin gereja dapat langsung melangkah ke tahap lima dan mengadvokasi untuk orang-orang LGBTQ yang berisiko tanpa menentang ajaran gereja manapun.
Uskup Italia telah menyatakan bahwa pria gay boleh menjadi imam asalkan menjaga selibat, menunjukkan adanya perkembangan positif dalam sikap gereja terhadap komunitas LGBTQ di beberapa wilayah.
| Pendekatan Paus Fransiskus | Kelanjutan oleh Paus Leo |
|---|---|
| Keterbukaan dan penerimaan (“todos, todos, todos”) | Melanjutkan semangat inklusivitas |
| Sinodalitas sebagai proses mendengarkan | Memperkuat sinodalitas sebagai “dimensi konstitutif” |
| Dialog dengan komunitas LGBTQ | Mendorong pelayanan pastoral yang inklusif |
Pengalaman berkesan bersama pemimpin baru Gereja
Pastor Martin terkesan dengan kepribadian Paus Leo yang hangat, santai, dan tenang. Ia menggambarkan pertemuan mereka sebagai momen yang lebih mengalir dibandingkan dengan audiensi sebelumnya bersama Paus Fransiskus, sebagian karena mereka dapat berkomunikasi langsung dalam bahasa Inggris tanpa memerlukan penerjemah.
Martin menggambarkan prosesi audiensi kepausan sebagai pengalaman yang mengesankan, mulai dari melewati penjaga Swiss, melalui serangkaian bangunan, hingga akhirnya tiba di Biblioteca yang berfungsi sebagai kantor dan ruang pertemuan Paus.
Di akhir pertemuan mereka, Martin menerima berkat dari Paus Leo dan berjanji untuk membawa keprihatinan umat katolik LGBTQ kepada beliau. “Saya berharap kabar tentang keinginannya untuk melanjutkan warisan keterbukaan Paus Fransiskus akan menjadi berkat bagi semua katolik LGBTQ serta keluarga dan teman-teman mereka,” tulis Martin.
Meskipun tidak semua orang dapat bertemu langsung dengan Paus, Martin berharap bahwa pesan keterbukaan dan penerimaan ini akan sampai kepada seluruh komunitas katolik, khususnya bagi mereka yang selama ini mungkin merasa terpinggirkan.




