Pete Hegseth’s Unholy War : analisis mendalam

Perwira militer berdiri di meja konferensi dengan peta strategis

Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump, bukan sekadar pejabat militer biasa. Ia membawa teologi yang agresif ke jantung Pentagon, dan sejak 2025, doa-doa bulanannya di gedung tersebut memantik kontroversi besar. Dalam salah satu sesi ibadah itu, Hegseth membacakan ayat palsu dari film Pulp Fiction karya Quentin Tarantino (1994), seolah itu adalah doa tempur nyata : “Dan aku akan menghantam engkau dengan pembalasan besar dan kemarahan yang menyala-nyala…” Bukan kutipan Alkitab, melainkan monolog Samuel L. Jackson sesaat sebelum menembak mati seseorang.

Hegseth merupakan anggota Communion of Reformed Evangelical Churches, jaringan gereja konservatif yang turut didirikan oleh Doug Wilson, yang secara terbuka menyebut dirinya sebagai nasionalis Kristen. Konteks ini penting dipahami untuk membaca motivasi di balik setiap pernyataan Hegseth tentang militer, perbatasan, dan Iran.

Teologi perang dan ambisi kekuasaan ala Hegseth

Hegseth secara konsisten mengaitkan kekuatan militer Amerika dengan mandat ilahi. Ia mengutip Mazmur 144 sebagai pembenaran perang, menyebut kebijakan perbatasan sebagai “alkitabiah”, dan dalam satu doa yang dikatakannya didoakan sebelum invasi ke Venezuela, ia meminta : “Hancurkan gigi orang fasik, berikan pasukan ini target kekerasan yang jelas dan benar.” Frasa “tanpa penyesalan” muncul dalam doa itu, sesuatu yang nyaris tidak ada dalam tradisi Kristen arus utama mana pun.

Liz Theoharis, pendiri Kairos Center for Religions, Rights, and Social Justice sekaligus pendeta Presbyterian yang ditahbiskan, menilai bahwa Hegseth mengganti sosok Yesus yang mengajarkan perdamaian dengan figur “Kristus penghancur” yang memuja kekerasan. Pergeseran ini bukan sekadar masalah teologis, melainkan persoalan kebijakan luar negeri yang nyata, termasuk posisi Hegseth terhadap Iran.

Perlu diperhatikan perbedaan mencolok antara dua visi kekristenan yang hidup berdampingan sepanjang sejarah :

Visi Kekristenan Fokus Utama Sikap terhadap Musuh
Kekristenan kekuasaan Kekuatan militer, batas negara, identitas nasional Musuh harus dihancurkan
Kekristenan Injil Kaum miskin, imigran, yang terpinggirkan Kasihilah musuhmu

Hegseth secara eksplisit berada di kolom pertama. Slogan “Kristus adalah Raja” yang ia ulangi bukan hanya pengakuan iman, melainkan alat retorika nasionalis yang memadu agama dengan supremasi negara.

Apa yang sebenarnya diajarkan Yesus tentang kekuatan dan perang ?

Yesus masuk Yerusalem di atas keledai, bukan tank. Ia membasuh kaki murid-murid-Nya, bukan memerintahkan serangan udara. Ketika seorang murid mencabut pedang, Yesus menyuruhnya menyarungkan kembali. Injil Matius pasal 25 menegaskan bahwa melayani yang lapar, asing, sakit, dan dipenjara sama artinya dengan melayani Kristus sendiri. Itu bukan sentimentalisme, itu adalah reorientasi politik dan teologis yang radikal.

Relevan pula untuk mencermati bagaimana pemimpin evangelikal berpengaruh menentang pencabutan sanksi atau pengakuan terhadap Suriah, sebuah posisi yang menunjukkan betapa teologi konservatif Amerika kini memengaruhi kebijakan luar negeri secara langsung, bukan hanya retorika.

Berikut pertanyaan konkret yang seharusnya dihadapi siapa pun yang mengklaim mengikuti Yesus :

  1. Apa yang Yesus lakukan ketika keluarga pelarian tiba di perbatasan ?
  2. Apa yang Yesus lakukan ketika sumber daya negara dialihkan dari komunitas miskin ke persenjataan ?
  3. Apa yang Yesus lakukan ketika pemerintah mengklaim Tuhan memberkati program politiknya ?

Tradisi Kristen menyimpan warisan panjang : para martir, pembuat perdamaian, aktivis hak asasi. Kekristenan yang paling berbahaya bagi tatanan yang tidak adil bukan yang bersenjata, melainkan yang setia pada kaum paling terlupakan. Nasionalisme Kristen ala Hegseth justru membalik logika ini : ia mengubah salib menjadi simbol eksklusivitas, bukan pembebasan. Dan itulah yang paling layak dikritisi dari teologinya, jauh melampaui sekadar kontroversi ayat Alkitab palsu.

Pete Hegseth's Unholy War : analisis mendalam

Rian Pratama
Scroll to Top