Di tengah suasana penuh makna spiritual, Raja Charles menghadiri kebaktian Adven yang digelar di Westminster Abbey pada awal Desember 2024. Acara yang diterangi lilin ini membawa pesan kuat tentang solidaritas terhadap umat Kristiani yang mengalami diskriminasi di berbagai belahan dunia. Kehadiran raja menunjukkan komitmen kerajaan dalam membela kebebasan beragama dan menentang segala bentuk penindasan terhadap komunitas Kristen.
Kebaktian tersebut mempertemukan representasi dari berbagai denominasi Kristen, menciptakan harmoni lintas kepercayaan yang langka namun bermakna. Suasana meditatif diperkuat dengan nyanyian himne dalam berbagai bahasa, mencerminkan keberagaman tradisi Kristen yang dipersatukan dalam pesan perdamaian Advent.
Pesan harapan di tengah kesulitan umat Kristiani global
Dalam pesannya yang disampaikan melalui tata ibadah, Raja Charles menyuarakan dukungan bagi mereka yang tinggal di wilayah dimana menjalankan iman menjadi tantangan besar. Referensi khusus dibuat terhadap himne Advent “O Come, O Come, Emmanuel” yang raja sebut sebagai karya “megah”, dengan kutipan yang menyentuh : “Singkirkan kesuraman malam panjang, tembus bayang-bayang makam.”
Kesaksian langsung datang dari Ribqa Nevash, seorang wanita berusia 25 tahun asal Faisalabad, Pakistan. Ia menceritakan tekanan yang dihadapi komunitas Kristen di Pakistan, termasuk :
- Pembakaran gereja-gereja oleh kelompok ekstremis
- Diskriminasi sistematis terhadap penganut agama Kristen
- Ketakutan untuk merayakan Natal secara terbuka
- Ancaman kekerasan terhadap keluarga Kristen
Nevash mengungkapkan rasa syukurnya berada di Inggris dimana ia bisa merayakan Natal dengan bebas. Kesaksiannya memberikan wajah manusiawi pada statistik penganiayaan yang sering kali hanya berupa angka. Situasi serupa juga disoroti dalam konteks regional lainnya, menunjukkan bagaimana konflik keagamaan terus mempengaruhi kehidupan umat beragama di berbagai wilayah.
Pengaruh Ortodoks dan dialog antaragama dalam ibadah
Kebaktian menampilkan pengaruh kuat tradisi Ortodoks yang berpadu dengan doa Anglikan dan Katolik. Ketertarikan Raja Charles terhadap Kekristenan Ortodoks terwujud melalui deretan ikon yang dipajang khusus untuk acara ini. Paduan suara Diocesan Ortodoks Koptik menyanyikan himne dalam bahasa Yunani, sementara paduan suara Gereja Ortodoks Suriah membawakan lagu natal tradisional.
Kardinal Timothy Radcliffe, tokoh Katolik senior, menyampaikan khotbah yang menyoroti pentingnya menolak intoleransi. Beliau mengenang Uskup Pierre Claverie dari Aljazair yang terbunuh oleh ekstremis Islamis pada 1996, namun kemudian diratapi bersama oleh umat Kristen dan Muslim. Kardinal menyatakan bagaimana “kekerasan tanpa tujuan berubah menjadi persahabatan”.
| Elemen Kebaktian | Tradisi | Bahasa |
|---|---|---|
| Himne Yunani | Ortodoks Koptik | Yunani |
| Lagu Natal | Ortodoks Suriah | Suriah |
| Doa Latin | Katolik | Latin |
| Carol Abad 14 | Anglikan | Inggris |
Acara dipimpin oleh Dekan Westminster, David Hoyle, dengan kehadiran tokoh penting seperti Uskup Agung Anglikan Yerusalem dan Timur Tengah, Hosam Naoum. Jemaat juga mencakup representasi komunitas Muslim, Yahudi, Sikh dan Hindu, merefleksikan komitmen lama raja dalam membangun jembatan antariman.
Pesan musiman tentang harapan di tengah kegelapan musim dingin menjadi benang merah kebaktian. Raja memuji “cahaya, harapan dan terutama kedamaian musim ini” sebagai pengingat universal yang melampaui batas denominasi. Komitmen raja terhadap dialog antaragama sebelumnya terwujud melalui kunjungannya ke Vatikan pada Oktober 2024, dimana ia menghadiri kebaktian bersejarah bersama Paus di Kapel Sistina.




