Robert George, profesor hukum terkemuka di Universitas Princeton, dikenal luas di kalangan Katolik konservatif Amerika. Namun ada sisi lain dari sosoknya yang jarang disorot : komitmennya yang tulus terhadap dialog lintas perbedaan. Bagi banyak orang, ini terasa seperti kejutan — seorang intelektual dengan pendirian kuat, yang justru memilih jembatan daripada tembok.
Satu angka yang menggambarkan tantangan ini : survei Pew Research Center 2023 menunjukkan bahwa 62% umat Katolik Amerika merasa perpecahan internal gereja semakin dalam dalam lima tahun terakhir. Dalam konteks itulah figur seperti Robert George menjadi relevan — bukan karena ia mengubah keyakinannya, melainkan karena ia memilih duduk bersama mereka yang berbeda pandangan.
Persahabatan melampaui perbedaan ideologi
Persahabatan Robert George dengan Cornel West — filsuf dan teolog progresif Amerika — menjadi contoh paling konkret dari apa yang bisa dicapai lewat dialog jujur. Keduanya berbeda hampir di setiap sudut pandang politik. Tapi mereka menulis bersama, berbicara di panggung yang sama, dan membangun persahabatan yang nyata. Bukan pura-pura setuju. Justru sebaliknya.
Pastor James Martin, S.J., imam Jesuit yang pertama kali bertemu George di New Jersey bertahun-tahun lalu dalam sebuah diskusi tentang orang-orang kudus, mencatat kesan yang sama. Betapa anggunnya George dalam percakapan, betapa hangat pendekatannya — meski keduanya tentu berbeda pada sejumlah topik. Martin kemudian mengundang George dalam podcast The Spiritual Life, sebuah langkah yang mencerminkan nilai yang sama : dialog bukan sebagai kompromi, tapi sebagai bentuk persaudaraan.
Ada kutipan dari Kardinal Timothy Radcliffe, O.P. yang dibacakan berulang kali selama Sinode tentang Sinodalitas — sebuah pertemuan bersejarah di mana Martin sendiri menjadi delegasi. Kutipan itu berasal dari Santo Yohanes Paulus II :
“Affective collegiality precedes effective collegiality.”
Artinya sederhana namun dalam : sebelum membahas hal-hal sulit, bangun dulu setitik persahabatan. Tanpa fondasi itu, dialog hanya jadi adu argumen.
| Tokoh | Latar belakang | Peran dalam dialog |
|---|---|---|
| Robert George | Filsuf hukum, konservatif, Princeton | Membangun dialog lintas ideologi |
| Cornel West | Filsuf progresif, teolog | Mitra debat dan sahabat George |
| Pastor James Martin, S.J. | Imam Jesuit, penulis, editor | Memfasilitasi percakapan spiritual lintas perspektif |
Dari meja makan ke kehidupan Gereja yang lebih utuh
Tim Busch, direktur Napa Institute, mengadakan “Salon Dinners” — makan malam yang mengundang umat Katolik dari berbagai sudut pandang untuk berdoa, merayakan Misa, dan berbagi meja. Bukan forum debat. Bukan ajang saling bantah. Justru sebaliknya : ruang untuk menjadi manusia bersama.
Dalam salah satu makan malam tersebut, hadir antara lain :
- Kardinal Timothy Dolan, mantan Uskup Agung New York
- Phyllis Zagano, pakar terkemuka dunia soal diakon perempuan dan pendukung vokalnya
Dua nama itu saja sudah cukup menggambarkan rentang perbedaan yang duduk bersama di satu meja. Bukan karena setuju, tapi karena memilih hadir.
Paus Leo XIV, dengan moto kepausan “In the One, we are one”, menunjukkan arah yang serupa. Persatuan bukan berarti keseragaman — melainkan kemampuan untuk tetap satu tubuh meski berbeda anggota. Doa Yesus kepada Bapa dalam Injil Yohanes — “semoga mereka semua menjadi satu” — bukan sekadar doa liturgi. Ia adalah tantangan aktif bagi setiap umat beriman yang serius.
Kalau bukan dialog, apa alternatifnya ? Mengabaikan ? Mendemonisasi ? Perbedaan pendapat yang penuh kasih bukan kelemahan iman — justru itulah tanda kedewasaan rohani yang sesungguhnya.
- Robert George : Perbedaan Pendapat Karib Umat Katolik - 3 Juni 2026
- Penemuan arkeologi Turki : asal-usul Kekristenan - 29 Mei 2026
- AI bias terhadap Katolisisme : temuan peneliti terbaru - 27 Mei 2026




